Catatan Kasar Sejarah Suku Motu Poso, Rongga, Manggarai
Suku Motu Poso merupakan suku pertama dan utama yang ada di wilayah Rongga Ma’ bha. Nenek Moyang Suku Motu Poso, menurut cerita lisan yang berkembang, konon, berasal dari Wilayah Sumatera Barat ( Minangkabau). Gejolak sosial yang terjadi di wilayah Minangkabau sekitar abad ke (?) memaksa sebagian masyarakat melarikan diri ke sejumlah wilayah di Indonesia. Salah satu tempat tujuan pengungsian mereka adalah sepanjang pesisir Laut Sawu, Flores, termasuk Loko Ture, wilayah pantai selatan Manggarai Timur, sekitar 15 km dari Kisol.
Dalam tradisi lisan dikisahkan bahwa nenek moyang Suku Motu Poso adalah Weka dan Ture. Dua bersaudara ini masuk ke tanah Rongga dalam kurun waktu yang berbeda. Dari negeri asalnya Minangkabau, Weka melarikan karena menolak menikah dengan gadis pinangan orangtuanya (puteri sang Paman). Weka bersama gadis pilihannya bernama Motu akhirnya memutuskan untuk meninggalkan tanah Minangkabau menuju Loko Ture. Dari Miangkabau Weka berlayar melewati Pantai Selatan Jawa dan kemudian memilih mendarat di Loko Ture, Manggarai Timur Selatan.
Kepergian Weka kemudian diikuti Ture, sang adik. Kisah perjalanan Ture meninggalkan daerah Minangkabau menuju Loko Ture berlangsung dalam suasana penuh dramatis. Gelombang dan badai memaksa Sampan (Kowa ) yang ditumpangi Ture mengalami kebocoran di Laut Selatan Jawa. Beruntung Ture diselamatkan oleh para nelayan dari pesisir pantai selatan Jawa. Namun upaya pertolongan yang dilakukan pelaut Jawa itu rupanya membawa petaka bagi Ture. Ia ditawan hanya karena salah mengucapkan sebuah kata (puki) yang membuat para pelaut Jawa tersinggung.
Impian Ture untuk menyusul kakaknya Weka hampir saja kandas di tangan pelaut Jawa. Namun pada suatu malam dalam mimpinya, Ture mendapat pentunjuk untuk menyusuri jejak sang kakak. Dalam mimpinya Ture bertemu dengan ikan paus raksasa yang kemudian menjadi Dewa Penyelamat dan penunjuk jalan baginya menuju tempat di mana sang kakak berada. Ture diminta untuk menunggang ikan Paus menuju tempat kediaman sang kakak dengan bekal tujuh buah ketupat dan tujuh duri dari pohon Jeruk asam. Maksudnya bila selama perjalanan Ture merasa gerah, ia boleh memberi isyarat dengan menusukan duri jeruk asam pada punggung sang ikan untuk menenggelamkan diri dari permukaan laut. Demikian juga bila ia sudah merasa dingin,ia bisa menusuk kembali duri jeruk asam agar sang ikan mengangkat punggungnya ke atas permukaan air.
Berbekalkan tujuh buah ketupat dan tujuh duri jeruk asam Ture mampu menyeberangi gelombang dahsyat Laut Selatan Jawa menuju Laut Sawu hanya dalam waktu tujuh hari tujuh malam dan tiba dengan selamat di Loko Ture, tempat yang semula menjadi tujuan kedatangan kakaknya Weka. Dalam perpisahannya dengan ikan Paus Ture mendapat hadiah dalam bentuk sebuah pedang istimewa yang dimuntahkan dari mulut sang ikan sebagai bekal untuk melawan musuh dan mencari nafkah.
Selama sekian lama ia menetap dan mencari nafkah di Loko Ture serta menjalin interaksi dengan manusia Proto Rongga yang bermukim di sekitar wilayah pantai selatan. Perjumpaannya dengan manusia Rongga memuluskan jalannya untuk menemukan jejak atau keberadaan Weka, kakaknya.
Saat itu Weka yang sudah menetap di Sari Kondo tidak yakin akan rumors kedatangan adiknya itu. Rumors kencang, yang menceritakan kedatangan adiknya mendorong Weka untuk mendatangi sang adik. Semula Weka masih menaruh curiga akan keberadaan sosok adiknya itu. Dalam hatinya Weka berpikir, “ Jangan-jangan sosok pemuda yang berada di depan matanya adalah penyamar yang bisa berubah menjadi ancaman serius bagi keselamatan jiwanya”. Weka kemudian melakukan investigasi terhadap Ture hingga pada akhirnya ia benar-benar yakin setelah Ture menceritakan tentang keberdadaan sanak saudara mereka di Minangkabau serta sejumlah kisah kebersamaan mereka selama di negeri asal.
Setelah Weka cukup yakin dengan sosok yang berada di depan matanya adalah adik kandungnya sendiri, maka terjadilah sebuah adegan dramatis yang mengharukan. Kakak beradik itu berpelukan disertai isak tangis. Pesisir pantai Loko Ture pun menjadi saksi sejarah. Kisah perantauan dua bersaudara itu terpatri dalam sebuah syair Vera (tarian khas orang Rongga)
Selain versi suku Motu, beberapa suku di Tanah Rongga dalam kisahnya menyebutkan bahwa nenek moyang mereka berasal dari Pulau Sawu (Sabu). Dikisahkan bahwa leluhur mereka semula menetap di Sumba, lalu Pindah ke Pulau Ende dan selanjutnya mengembara sepanjang pesisir Pantai Selatan, mulai dari Ende hingga Tanah Rongga. Jika ditelusuri dari segi bahasa memang suku-suku yang mendiami wilayah ini memiliki kesamaan bahasa. Sebagai contoh, masyarakt dari pseisir Ende hingga tanah Rongga menyebut kata pantai dalam bahasa daerah dengan kata Ma’u. Dalam buku Manggarai Mencari Era Pencerahan Historiographi, Dami Dandu Toda, mengemukakan bahwa Wilayah sekitar Loko Ture ini pernah menjadi persinggahan sebagian suku Sawu yang kemudian memilih menetap di kaki gunung Mando Sawu, yang kemudian menjadi cikal bakal lahirnya suku Ngkuleng di Lambaleda dan Ruteng.
Kisah yang berkembang secara turun temurun itu dikukuhkan dalam upacara/ ritus adat seperti Pau Manu, Pau Wawi, dan Pau Kamba. Dalam acara-acara itu, nama Ture dan Weka selalu disebut turunan Suku Motu sebagai nama pertama mendahului nama nenek moyang lainnya.
Hingga hari ini belum ada penelitian tentang asal usul orang Rongga. Namun dari mitos-mitos yang berkembang di kalangan suku-suku yang berada di Tanah Rongga menyebutkan bahwa Weka dan Ture adalah nenek moyang suku Motu. Ada dua dugaan bahwa, ketika Weka dan Ture datang ia mengadakan kontak dengan suku asli (Proto Rongga), juga suku Sabu dan Sumba. Interaksi dengan suku-suku yang berada di wilayah Rongga menimbulkan hubungan kekerabatan di antara suku-suku tersebut.
B. PERPECAHAN SUKU MOTU PASCA WEKA-TURE
Weka dan Ture setelah mendarat di Loko Ture menetap bersama di Sari Kondo. Karena hidup masih mengandalkan hasil hutan, mereka akhirnya berpindah dari satu tempat ke tempat lain, seperti Nunu Wula, Wolo Poso, Nua Nangge (Loko Ture). Periode ini merupakan masa-masa bulan madu bagi kakak beradik itu. Keduanya pun mengembangkan keturunan di Tanah Rantau. Weka bersama Motu, gadis yang dibawanya dari Tanah Minang memiliki empat orang putera, sedangkan Ture yang menikah dengan gadis lokal dianugerahi tiga orang putera. Dari Weka dan Ture inilah muncul nama suku/klan Motu. Nama tersebut diadopsi dari isteri Weka yang pada generasi awalnya masih lekat dengan kultur matrilineal Minangkabau.
Generasi awal turunan Weka dan Ture semula benar-benar menjaga kekompakan. Semangat gotongroyong dan kekeluarga menjadi ciri kehidupan yang sangat menonjol. Setelah generasi Weka dan Ture Meninggal terjadilah perpecahan di antara mereka. Peristiwa perburuan kera di sekitar wilayah Wae Motu berbuntut perpecahan dua keluarga ini. Persoalannya sangat sepele, yakni hanya gara-gara tidak kebagian kuah daging kera. Drama perpecahan itu terlukis dalam patah/ syair vera di Nunu Wula:
Motu Woe Lima Z dhua/ Embu Mea Sunggisina Motu Woe Lima Z dhua/ Embu Mea Amewea Motu Woe Lima Zdhua/ Bheka Tange Wae KodeSetelah periode itu, keturunan Weka dan Ture mulai terpisah. Keturunan Weka lebih banyak berorinetasi mencari nafkah ke arah Timur hingga Aimere dan Were di wilayah kabupaten Ngada (Untuk menyingkap penyebaran suku Motu ke wilayah Ngada dibutuhkan sebuah penelitian yang serius). Sementara keturunan Ture memilih mencari nafkah dan menetap di wilayah Barat, Wolo Ndeki. Pepecahan kedua keluarga ini juga berpengaruh pada ikon-ikon yang dipakai sebagai simbol kebanggaan keluarga. Keduanya bersaing baik dalam kekayaan maupun kharisma. Persaingan itu tampak dalam pemilihan nama kuda kebanggaan dari masing-masing keluarga, seperti dalam syair Vera berikut:
Jara nga’zha Kolo Ndasi/ le’dha lo’dhe Sunggisina Jara nga’zha Keka Motu/ le’dha lo’dhe Amewea
C. GENERASI AMEWEA & HAK ULAYAT
Amewea, keturunan Ture, memilih menetap di Rongga bagian Timur. Amewea memiliki tiga orang putera, yakni ________, _________, dan Mangi. Turunan Mangi selanjutnya disebut dengan suku Motu Motu Poso (karena mereka pernah mendiami wilayah Wolo Poso). Persaiangan di antara tiga bersaudara ini menyebabkan perpecahan.
Mangi sebagai putera Amewea memiliki kharisma kepemimpinan warisan ayahnya. Ia dan keturunannya mendiami gunung (wolo) Ndeki dan berpindah-pindah pemukiman serta lahan garapan. Dominasi suku ini cukup terasa di wilayah ini. Ia memainkan peranan utama di wilayah Rongga bagian timur yang lebih dikenal denmgan istilah Rongga Ma’bha.
Selain dihormati karena dianggap sebagai pimpinan suku, Suku Motu Poso berperan vital menjaga kedaulatan wilayah Rongga Ma’bha. Pada abad (?) Suku Keo dari Wilayah Nagekeo datang dan bermukim secara damai di wilayah ini. Kedatangan suku ini semula dianggap sebagai sahabat. Namun setelah jumlah mereka makin banyak, suku dari wilayah Nage Keo ini mulai menentang adat istiadat yang berlaku di wilayah Rongga. Konflik sosial pun pecah karena orang Rongga yang merasa sebagai tuan tanah tidak dihargai. Dibawa pimpinaan Meka Kumi dan Meka Nggere dari suku Motu Poso terjadilah peperangan dahsyat di tanah Rongga.
Sejumlah orang Keo terbunuh dan sisanya melarikan diri ke wilayah asalnya. Salah seorang Pimpinan pasukan Keo bernama Laki Tara tewas terbunuh di Wolo Redi, di wilayah sekitar Pandu, Lembur sekarang. Hingga hari ini gunung yang tujuh tahun lalu (2002) gundul untuk kepentingan lahan pertanian itu, dikenal dengan sebutan Wolo Tara sebab di situlah pimpinan pasukan Keo dikuburkan.
Hingga hari ini bukti kekalahan orang Keo di Tanah Rongga tampak dalam sejumlah pekuburan di daerah Borong dan sekitarnya, seperti di Kampung Golo ( Wae Reca), Golo Karot, Kota Ndhora, Lesa Kuku sebelah atas Lia Mbala dan sejumlah tempat lainnya. Pekuburan itu ditandai dengan batu bersegi yang ditancapkan membentuk sudut 90 derajat.
Sebagai bentuk ucapan terima kasih atas keberhasilan suku Rongga mengalahkan Keo, Suku Tanda yang saat itu menjadi pemegang hak ulayat di wilayah pantai selatan hingga Wae Musur menghibahkan sebagian wilayah ulayatnya untuk suku Motu Poso dengan batas-batasanya sebagai berikut:
Bagian Timur :
Toko Ika – Tanah Bara – Muku Lia – Tiwu Toro – Woa Kowe – Alo Ila –Watu Sila –Wolo Maghi – Loa Keti/ Mbaru Jawa – Ndheru Wowo ( wolo Sika) – Moko Loko – Kora – Ngamba Sapi – Bheto Londo ( sekolah baru Leke) – Kolu Kawe/i – Wae Ku
Bagian Utara
Wae Ku – Watu Nepa/ Wae Sele – Koka – Leni – Wolo Tara – Mbela Turi – Wae Namba – Wae Sati, Sambi Nggoko – Peot – Mondo – Watu Mori
Batas Barat
Watu Mori ( Paka- Sita) – Wae Musur- sampai Pantai Selatan
Batas-Batas Wilayah Motu Poso dengan wilayah Ulayat lainnya:
Toko Ika – Kora, berbatasan dengan wilayah ulayat Suku /Tanah Tanda. Penguasa Ulayat Pius Ndoi
Kora – Wae Ku berbatasan dengan wilayah ulayat Suku Woko Pau, Penguasa ulayatnya Deus Melang
Wae Ku – Bela Turi berbatasan dengan wilayah ulayat suku Weru, Penguasa Ulayat Pettu Jangga
Bela Turi –Sambi Nggoko, berbatasan dengan wilayah ulayat suku suka Ndare, penguasa ulayat Yoseph Sole
Sambi Nggoko – Peot – Mondo, berbatasan dengan wilayah ulayat suku Mendang Riwu,……
Mondo -Wae Laku – Wae Musur berbatasan dengan wilayah ulayat suku Kempos Sita, pemegang hak ulayatnya Ande Cendol
Wae Musur- muara hingga Pantai Selatan berbatasan dengan wilayah ulayat Suku Torok Golo, pemegang hak ulayatnya Cuwik dan Uwik.
Sebagai tanda bahwa orang Rongga pada masa itu benar-benar menguasai wilayah itu, hingga kini ada sejumlah tempat di wilayah Borong hingga Wae Musur yang dinamai dengan nama-nama Rongga. Namun karena pengaruh suku Mangarai sejumlah tempat mengalami pergantian aksen, seperti berikut ini:
Rongga Manggarai
Sepi Watu Cepi Watu Toka Toka Jawa Jawang Tanah Rongga Golo Mongkok Wae Resa Wae Reca Wae Bobo Wae Bobo Mboro Borong Watu Ipu Watu Ipu Wolo Kolo Wolo Kolo Tanggo Tanggo Weja Kalo Wejang Kalo Watu Nggo Watunggong Leke Lekeng Sambi Donga Sambi Donga Mbo Ndei (Rumah Mbupu Ndei)Tak lama setelah mengalami kontak dengan suku Sumba di wilayah Tanggo dan Borong Suku Motu Poso memberikan mandat kepada suku yang diangkat sebagai ana fai itu untuk menjaga tanah ulayat di wilayah barat hingga Wae Musur.
Rongga memang bak tanah terjanji yang menjadi incaran semua suku di Flores Tengah saat itu. Setelah Keo berhasil diusir pada sekitar abad 17, Kerajaan Todo dalam upaya ekspansi wilayahnya datang dan bermukim di wilayah itu. Sama seperti kedatangan orang Keo pertama kalinya, Todo pun datang ingin menguasai Tanah Rongga. Kedatangan mereka di bagian barat Rongga berlangsung secara damai melalui ikatan perkawinan. Mereka menghadiahi seorang gadis bernama Ndhari kepada Pua dari Suku Motu Poso.
Todo rupanya menyimpan strategi terselubung dibalik perkawinan itu. Mereka ingin menguasai wilayah Rongga Ruju (Komba). Saat itu wilayah ini menjadi satu-satunya wilayah yang sulit dilewati karena kekuatan pasukan perangnya. Selama puluhan tahun Todo terlibat peperangan melawan Komba, namun hasilnya sia-sia. Sepanjang musim mereka terpaksa menggarap tanah di sekitar Loko Ture dalam rangka mengawasi pergerakan Komba. Namun Komba bak batu karang yang susah ditaklukkan. Singkatnya jika Todo ingin menaklukkan Komba mereka harus berhasil melewati sebuah lorong terjal di sekitar wilayah Tandu Nunu yang menjadi pintu utama menuju benteng Komba.
Pada masa-masa menjelang kehancuran Komba, hubungan antara Todo dan Rongga Mabha sudah terjalin erat berkat perkawinan Pua dan Ndari. Todo akhirnya berhasil membujuk beberapa orang Rongga Mabha untuk mencari tau cara mengalahkan Komba. Hubungan kekerabatan yang sudah terjalin erat memuluskan Todo memperoleh informasi vital dari pihak Rongga Mabha tentang lorong misterius menuju benteng Komba.
Setelah mengetahui jalan menuju benteng Komba, Todo mulai melakukan penyerangan terhadap Komba. Perang yang disebut Bheka Komba II itu melibatkan sejumlah kaum perempuan Komba. Setelah hampir semua lelaki Komba terbunuh, pihak perempuan tak mau ketinggalan. Mereka melakukan strategi ala Perang Puputan untuk mengalahkan Todo. Ratusan orang Todo tewas di tepi jurang Wolo Komba. Namun, Komba sudah hancur nyaris tak bersisa dan menderita kekalahan total. Para pejuang Todo pergi membawa pulang sejumlah gadis cantik dari Komba ke Todo untuk dijadikan isteri. Sampai sekarang antara Todo dan Komba terjalin hubungan kekerabatan selaku ana haki dan ana fai. Komba sebagai pemberi gadis bertindak sebagai ana haki, sementara Todo sebagai anak fai (penerima gadis).
Setelah menjadikan Rongga secara keseluruhan sebagai mitranya, Todo melakukan ekspansi hingga wilayah Watu Jaji, Ngada. Selanjutnya dalam upaya menancapkan kekuasaannya di Manggarai dengan bantuan pahlawan Rongga, Jawa Tuu dan Nai Dewa, Todo menaklukkan Cibal. Dari sejarah penaklukan dan perkawinan itu kekuasaan dan pengaruh Todo di Manggarai berjalan hingga akhir masa orde baru berbakat strategi perkawinan.
Hubungan Todo dengan Rongga Ma’bha berlangsung hingga periode 1966. Todo selaku pemeri gadis bertindak sebagai ana fai sementara Motu Poso sebagai ana haki (penerima gadis).
KISAH LODO KEMBO KENDAPerkawinan Pua dengan gadis Todo bernama Ndhari melahirkan Ndhesa dan Taso. Ndesa dan Taso kemudian memilih menetap di wilayah Kenda dan Kembo. Pembukaan Lodo Kenda dan Kembo itu ditandai dengan Vera selama sembilan hari sembilan malam. Hingga kini cakupan wilayah Lodo Kenda dan Kembo itu masih tergambar jelas dalam sebuah ungkapan (pata’) Vera:
DAPU LAU SA’DHA DHA’DHA SORO MA’E NGGUTI NGGUMI KEMBO NE KENDA MENDU DHEU MEDHE NDEHasil panen dari Lodo Kenda ini sangat berlimpah. Pare Dhupa (bulir padi yang terbungkus daun) menjadi simbol kesuburan wilayah ini. Dalam kebiasaan orang Rongga jika hasil panennya melimpah seperti itu, maka sang pemilik mesti mengadakan upacara syukuran dalam bentuk Vera. Weka dan Taso mengadakan Vera selama sembilan malam. Salah satu ungkapan (pa’ta) Vera yang masih dikenal di kalangan suku Motu Poso hingga sekarang adalah:
NGGO’TI UMA KEM’BO NGGO’TI TEM’BU DHE’A DHA’LE KENDA DHE’A MEMA LA,I KERI KENDA LA,I LEWA NGHUM’BU SA’O TASO NGHUM’BU RAOSetelah masa keemasan dalam arti kesuburan Kenda dan Kembo mulai menurun, turunan Meka Ndhesa, yakni Meka Kako pindah ke Rone. Kako memperanakkan Lajo, Monggo dan seorang perempuan bernama Nau. Nau kemudian menikah dengan Weka dari Suku Kelok Waerana. Anak pertama Nau adalah Epa. Dalam budaya Rongga, setiap anak lelaki pertama dari pihak perempuan harus kembali ke suku asal ibunya. Epa yang ayahnya berasal daru suku Kelok mesti kembali ke pihak anak haki (Suku Motu Poso). Saat itu Epa diasuh oleh paman tertuanya Ladjo dan kemudian menikah dengan Meo Timu, anak semata wayang Monggo, Paman bungsunya. Perkawainan Epa dan Meo Timu melahirkan Golo. Golo menikah dengan Nau melahirkan Kanis Jaik. Kanis Jaik kemudian menikah dengan Maria Baghong melahirkan Piet Sambut, Adol, Agus dan Natus.
Setelah Meo Timu meninggal Epa menikah lagi dengan Kasih. Perkawinan mereka melahirkan Simon Sarong, Ondi, Elu dan Jalo. Setelah Kasih meninggal, Epa menyunting gadis remaja bernama Meo dari suku Sedhza. Perkawinan ketiganya ini melahirkan Salesius Sende, Au, Jaja, Edel, Indah, Inggo, Lalu, Kaja.
Hingga masa Epa hubungan kekerabatan antara Todo dan Rongga masih terjalin. Hubungan kekerabatan Todo dan Motu Poso ini kemudian dilanjutkan oleh Mbadu (Suku Motu Pumbu). Namun sebelum Mbadu mendapatkan gadis Todo, ia sempat ditolak mentah-mentah karena dianggap tidak sepdan dengan rahang Todo. Mbadu baru mendapatkan gadis pujaannya atas jaminan Epa.
Meski demikian, Todo tidak melupakan suku Motu Poso. Pada masa pihak kerajaan menanamkan pengaruh kerjaannya dengan membentuk pemerintahan kedaluan, melalui dalu Japi dari suku Tanda, Todo memeberikan mandatnya pada Epa (yang seharusnya memiliki hak atas jabatan itu karena memangku jabatan Tuan Tanah). Namun Epa menolak tawaran itu, lantas menyerahkan jabatan itu pada Mbadu. Selanjutnya untuk memperkuat hubungan kekerabatan dengan Todo putera Mbadu, Yoseph Pandong menikah dengan Maria Ndudek. Kendati demikian, pada masa Epa kiblat dan ikatan emosional orang Todo lebih tertuju pada suku Motu Poso.
Setelah kematian (Fransiskus Xaverius) Epa tahun 1966 hubungan kekerabatan dengan Todo mulai renggang apalagi pemerintahan kerajaan (Dalu) sudah ia serahkan Ke Mbadu yang diperkuat pada periode kepemimpinan puteranya Yoseph pandong. Kehilangan Epa praktisnya pengaruh suku ini terpangkas akibat sistem pemerintahan Kedaluan yang diperkuat dengan UU tentang pemerintahan Desa yang memaksa pemerintahan adat terdesak dan kehilangan pengaruh.
Kini di bawa panji reformasi, kendati ada indikasi post power syndrome dari kalangan tertentu, Suku Motu Poso, mulai menegakkan kembali eksistensi dan pengaruhnya atas tanah Rongga Ma’bha dan hendak meluruskan sejarahnya sebagai suku terhormat dan pemegang hak ulayat.
D. WILAYAH PEMUKIMAN & LAHAN GARAPAN SUKU MOTU POSO SEJAK MASA WEKA-TURE HINGGA EPA
Masa Ture dan Weka
SARI KONDO – NUNU WULA – WOLO POSO -NUA NANGGE / LOKOTURE )
Masa Mangi dan Lando hingga generasi Wawi dan Manu meliputi wilayah-wilayah sebagai berikut:
Nua Nangge, ghe’bho, Rambu, Kere Angi dan Rone.
Masa KUMI- PEMBA – FUA, wilayah garapan di NUA KOTA, NUA NGETHA, BENTENG MUNDE
Masa ini merupakan masa-masa perang hingga pada waktu itu dibangun Benteng NUA KOTA, BENTENG MUNDE, BENTENG EMBU NGIU, BENTENG KOPO NGGERE. Pada masa itu Meka Kumi dan Nggere serta Kio menjadi pahlawan yang paling berpengaruh. Kumi dikenal dengan jargonnya( pasi) Kumi Keto Tolo Tenda, sementara NGGERE saudara sepupunya dikenal dengan pasinya Nggere Lalo Ndeki. Sedangkan Kio dengan jargon ( pasi) Kio karo munde.
Generasi Ndesa dan Taso masih menggarap di wilayah ini dengan MEMBUKA LODO KENDA & KEMBO
Generasi Kako, Lajo dan Epa kemudian kembali lagi ke Rone.
Epa hingga anak-anak dan cucunya kemudian menetap di Watunggong (Watu Nggo).
E. HUBUNGAN KEKERABATAN SUKU MOTU POSO ENGAN SUKU-SUKU LAIN:
Pada masa nenek moyang perkawinan dilakukan antara dua anak saudra sekandung. Hal itu bisa terlihat pada perkawinan antara Ndeki dan Manu. Pada masa itu dikenal dengan ungkapan sio ne tai ae nggoli mae ndehu. Untuk memperkuat suku, anak perempuan yang menikah dengan laki-laki dari suku lain, diwajibkan menyerahkan putera sulung lelakinya kepada suku asalnya. Hal ini terjadi pada anak Sulung Nau dan isteri Weka dari Suku Kelok yang mengembaliklan Epa kepada Suku asalnya.
Namun ada juga yang kawin dengan suku-suku luar yang turut memperkuat kekerabatan dengan suku lain dalam hubungan ana fai dan ana haki, seperti:
1. Suku Sui sebagai ana haki dari Suku Motu Poso. Karena hubungan perkawinan pada masa nenek moyang Suku Motu Poso menghibahkan sebagian tanah untuk suku ini di Suku Kiu, yang kemudian dijadikan sebagai kawasan gembala (wota) oleh suku ini. Tempat ini disebut Wota Adzhe Kua. Pada generasi nenek moyang apabila suku-suku berburu dan tidak mendapatkan buruannya, mereka akan singgah di tempat ini untuk potong kerbau.
2. Suku Sawu ana haki dari Suku Motu Poso. Karena hubungan perkawinan Suku Motu Poso memeberikan sebidang tanah di Tere Angi ( bagian atas Kenda)
3. Suku sedzha sebagai ana haki dari Suku Motu Poso.
4. Suku Motu sebagai ana Haki dari Suku Motu Poso.
F. SUKU MOTU POSO PASCA EPA
Pemerintah kedaluan dan UU pemerintahan Desa 1979 telah membuat sistem pemerintahan adat kian terdesak. Pengaruh Suku Motu Poso pun mulai pudar setelah generasi yang memahami sejarah Fransiskus Xaverius Epa meninggal dunia 1966. Akibat pemerintahan kedaluan banyak kerugian yang dialami suku Motu Poso. Pertama) Epa, misalnya, dalam seja kala hidupnya, kehilangan ratusan ekor sapi dari padang penggembalaannya di Padang dan Poma Mese akibat kebijakan Dalu Yoseph Pandong membuka perkampungan baru. Akibatnya ratusan ekor sapi milik Epa mengungsi ke wilayah Nangarawa dan Mbo Ndei.
Menurut beberapa saksi hidup, sebagian hewan tersebut dicuri oleh penguasa saat itu dan sebagian lainnya bergabung dengan ternak sapi milik Seminari Kisol. Kesaksian beberapa orang saksi (off the record) cukup masuk akal sebab pihak penguasa dan pihak Seminari tiba-tiba saja memiliki kawanan ternak ratusan ekor hanya dalam tempo tiga tahun.Dari mana asalnya???
Kedua) Hak membagi tanah ulayat diambil-alih pemerintahan desa & sebagian tanah ulayat diserobot oleh pihak-pihak tertentu dibawa konspirasi jagoan-jagoan kampung yang nekad.
kegita) Pelanggaran janji dan kesepakatan yang dilakukan pihak Seminari Kisol. Tahun 1989 secara sepihak dengan dukungan Dalu seminari Kisol melakukan agraria atas tanah di luar penyerahan Tuan Tanah. Kasus ini diikuti dengan protes pihak tuan tanah. Puncaknya perselisihan dengan Seminari terjadi tahun 2000. Tuan tanah meminta Seminari merealisasikan janjinya pada tuan tanah dan pengembalian Tanah baik di wilayah Kisol maupun ladang gembala yang dipakai sebagai lahan gembalaan yang dipinjam pakai pihak seminari pada tahun 1966.
G. REKOMENDASI UNTUK PEMERINTAHAN DAERAH KABUPATEN MANGGARAI TIMUR
……..AKAN DILANJUTKAN……
Tulisan ini dirangkum dari WWC dan kesaksisan penulis sejak masa kecil hingga berusia tigapuluh tahun. Untuk kelengkapan materi tulisan beberapa data-data baru akan dimasukan di masa datang.