Kuliah Politik Ala Julia Perez

Agustus 22, 2010

Pengunduran diri Julia Perez dari calon wakil bupati Pacitan minggu lalu cukup mengejutkan banyak pihak. Jupe yang diusung delapanPartai Koalisi dalam pertarungan merebut pucuk pimpinan tertinggi kabupaten Pacitan mengaku belum cukup matang untuk terjun dalam kompetisi politik yang begitu ketat. Keputusan itu justeru terjadi menjelang saat akhir tahapan pendaftaran calon di KPUD.

Selain ketidaksiapan mental, pengenalan dan pemahaman Jupe dalam dunia politik masih terbilang awam “Setelah gw pikir pikir ilmu gw belum lah sematang para senior gw yang telah duduk di bangku bupati dan wakil bupati. Ilmu saya masih iko dan perlu kematangan yang lebih. Apalagi kota Pacitan itu sangat luas, kota tersebut membutuhkan figur yang lebih baik lagi” kata kekasih Guston Castanyo ini saat di temui di bilangan Cibubur, Selasa (17/8/10 ).

Sejak awal rencana pencalonannya, Jupe sudah mendapat perlawanan dari pemuka agama dan ormas ormas yang mencekal kehadiran wanita 30 tahun ini di kota Pacitan.  Jupe dengan dukungan partai koalisi sempat mencoba mencairkan kebekuan itu dengan melakukan sowan ke pimpinan setempat sekaligus mengunjungi beberapa wilayah di Pacitan, seperti pondok pesantren, demi merebut simpati massa.

Semakin rajin ia terjun langsung ke lapangan, semakin gencar tuntutan penolakan. Bahkan dalam aras politik nasional, pencalonan Jupe dan beberapa artis lainnya, sempat menjadi  perdebatan hingga muncul renacan merevisi UU N0. 34/2004, terutama mengenai persyaraatan calon. Sadar akan kemampuan dan integritasnya yang belum layak, mantan istri pesepakbola Demian Perez ini memutuskan mundur dari bursa pencalonan.

Pengunduran diri artis seksi ini, mau tak mau menohok pola perekrutan dan kaderisasi partai pada umumnya. Kegagalan kaderisasi dalam tubuh partai politik menyebabkan minimnya pemunculan kader-kader baru yang berkualitas. Karena ketiadaan figur-figur baru itu parpol cenderung begitu mudah mengorbitkan figur artis, yang nota bene sudah dikenal luas.  Apesnya, sejumlah artis, baik yang memahami maupun yang awam sama sekali dalam berpolitik, menerima begitu saja pinangan parpol tanpa mempertimbangan kapasitas dan jam terbangnya.

Akibatnya, selain parpol kehilangan pengaruh, si artis juga  harus menanggung korban, bahkan tak jarang dipermainkan. Ratih sanggarawati, yang dijagokan partai Demokrat sebagai calon wakil bupati di wilayah Jawa Timur, misalnya, gagal total meraih suara terbanyak. Hal yang sama juga dialami Helmy Yahya, yang maju sebagai calon wakil gubernur Sumatera Selatan dua tahun lalu.

Kegagalan sejumlah artis bersaing meraih dukungan rakyat dalam pemilukada, menurut sejumlah pengamat politik, menujukkan adanya pergeseran pola pikir masyarakat, dari cara pikir yang mudah termakan rayuan gombal pencitraan menuju cara pikir yang lebih rasional di mana kemampuan dan integritas calon menjadi faktor  penentu utama dalam menentikan pilihan.

Sayangnya pergeseran cara pandang ini, belum berlaku merata di Indonesia. Lemahnya sistem perekrutan dalam tubuh parpol tidak saja berlaku dalam pemilihan kepala daerah, tetapi juga terjadi dalam pemilihan legislatif 2009 lalu dan kemungkinan besar masih akan terulang pada pemilihan legislatif 2014 nanti. Hampir sebagian besar parpol, apalagi parpol baru, asal pungut calon demi memenuhi kuota aturan sebagaimana yang ditetapkan UU No10/2008 tentang DPR, DPRD dan DPD. Akibatnya, kualitas calon terpilih jauh dari harapan rakyat.  Di kabupaten Manggarai Timur, NTT, misalnya, mayoritas anggota DPR yang terpilih, memiliki kapasitas dibawa standard dan harapan rakyat. Salah seorang di antaranya bahkan hanya berbekalkan ijazah paket A, B dan C. Siapa yang salah bila si DPR tak mampu menjalankan tugasnya: rakyat yang memilih atau parpol?

Pengunduran diri Jupe, selain menjadi pelajaran berharga bagi Parpol dalam mengubah pola perekrutan dan kaderisasi, juga menjadi peringatan berharga bagi politisi untuk membekali diri dengan sejumlah kecakapan dan integritas kepribadiaan yang cukup. Sebab, pemimpin yang berkualitas dan memahami seluk beluk sebuah daerah, berpotensi memajukan dan membbawa daerrah terkait lebih kompetitif dalam semua aspek.

Terlepas dari segala kontroversi atas pengunduran dirinya, Jupe, hari ini menjadi begitu berarti bukan karena kontroversi pencalonannya, melainkan karena keberaniannya untuk jujur pada diri sendiri. Sikap ini yang semestinya menjadi cermin sportifitas berpolitik. Dalam arti yang lebih luas, berpolitik bukan sekadar menjalankan libido atau nafsu kekuasaan, tetapi bagaimana mengelola kekuasaan demi kemaslahatan rakyat banyak!!!

Argentina Siap Mangsa Meksiko

Juni 27, 2010

Pertemuan Argentina dan Meksiko dalam babak perdelapan final word Cup 2010 mengulang kembali peristiwa empat tahun lalu. Partai ini bakal lebih menarik, selain suguhan permaian gaya Latin, juga aroma dendam yang diusung Meksiko. Empat tahun lalu Meksiko tersingkir di babak 16 besar melalui gol spektakuler Maxi Rodriguez. Kekalahan itu mengubur mimpi Meksiko untuk mengecap pertandingan di perempat final selama puluhan tahun.

Setelah kekalahan pahit empat tahun lalu, peta kekuatan antardua tim tidak berubah. Kekuatan Meksiko empat tahun lalu tidak banyak berubah. Sementara Argentina mendapat suntikan motivasi karena si bocah lincah Lionel Messi dan si gol tangan Tuhan turun langsung sebagai pelatih. Bila Argentina bermain sama seperti melawan Nigeria maka Meksiko akan menjadi bulan2an. Namun, bila Argentina lengha bukan tidask mungkin Meksiko akan mencuri gol lebih awal.

Menilik pertemuan dua tim sejak empat tahun lalu, Argentina selalu unggul. Namun, piala dunia bisa membuat segalanya berubah. Semangat juang anak-anak Meksiko bisa saja menghentikan mimpi Argentina meraih juara untuk ketiga kalinya.

Eksotisme Pantai Marokama, Manggarai Timur

Mei 4, 2010

Bentangan pesisir selatan Manggarai Timur adalah surga baru bagi pariwisata Manggarai. Selama puluhan tahun kawasan yang terbentang dari Sepi Watu  (Borong) hingga Waewole (Waelengga) menjadi kawasan yang terlupakan. Bersamaan dengan era otonomi daerah yang ditandai dengan dimulainya pemerintahan baru Kabupaten Manggarai Timur maka potensi yang tersebar di kawasan Pantai Selatan Rongga (PANSER)  ini akan diberdayakan sebagai nilai jual pariwisata Manggarai Timur.

Selain Sepi Watu dan Waewole, ada beberapa titik yang bisa menjadi objek wisata yang menarik, yakni Pantai Marokam, Nanga Rawa,  dan Pantai Tiwu Toro. Ketiganya memiliki daya tarik berupa bentangan pesisir pantai yang cukup panjang.

Salah satu pantai yang memiliki daya pikat adalah Marokama. Pantai ini selain dikenal dengan sebutan Marokam juga kerap dinamakan Mbondei. Lokasinya terletak araha selatan Kisol, kurang lebih delapan kilometer. Untuk menjangkau kawasan ini, para pengunjung bisa menggunakan sepeda motor dari Kisol dengan lama perjalanan setengah jam atau dari arah Borong menyusuri jalan bebatuan yang baru dirintis kira-kira satu jam lebih.

Pantai ini selain memiliki bentangan pasir putih sepanjang satu kilometer juga bisa diandalakan sebagai kawasan wisata karena memiliki tujuh gulungan ombaknya, yang menyerupai pantai Nembrala, Rote Ndao. Karena gulungan ombaknya yang tinggi maka pantai ini kerap dianggap seram karena sering memakan korban.

Jaman dahulu, kawasan ini merupakan tempat favorit bagi para nelayan suku Rongga. Selain sebagai lokasi perkemahan favorit , tepi pantai ini juga sangat digemari anak-anak untuk bermain bola dan berekreasi di hari libur.  Duapuluh tahun lalu kegemaran anak-anak usia sekolah atau perantau asal kisol pada pantai ini tampak dalam kunjungan yang bergelombang setiap memasuki bulan Juni dan Juli.

Selama tiga puluh tahun terakhir ini budaya bahari orang Rongga mulai bergeser ke arah pertanian. Pembukaan kawasan hutan Koe Wae dan sekitarnya pada tahun 1989/1990 dibawa komando kepala desa Antonius Gelang menyebabkan keasrian hutan yang mengapiti kawasan ini tak terlihat lagi.

Meskipun keasrian hutan Koewae mulai pudar, pesona Pantai Marokama  tak tergerus. Orang Rongga yang bermukim di kelurahan Tanah Rata masih menjadikan kawasan ini sebagai tempat rekreasi favorit saat liburan sekolah. Namun, kondisi jalan yang berbatuan menyebabkan saat ini kebayakan orang mulai berkiblat ke Sepi Watu.

Padang hijau di sekitar kawasan pantau ini hingga saat ini dijadikan sebagai kawasan gembalaan sapi dan proyek jambu Mente. Tak jauh dari kawasan Pantai ini terdapat sumur tua, milik Almarhum Fransiskus Xaverius Epa yang dulu dipakai untuk menghidupkan ternak sapinya. Tahun 1996, sumur ini  ditutup pihak Seminari Pius XII Kisol dan diganti dengan sumur baru yang dipakai untuk kebutuhan peternakan.

Beberapa anak cucu masih menjadikan kawasan ini sebagai ladang gembala dan secara bergantian menggunakan jasa sumur baru yang didirikan pihak seminari untuk memberi air para sapi gembalaannya.  Para pengunjung pantai Marokama, bisa menyaksikan aktivitas para gembala di kawasan ini menjelang siang hari. Di bawah tikaman terik matahari, dua atau tiga peternak/ penggembala sapi menghantar kawanan sapi menuju sumur Mbondei menyusuri tepi pantai Marokama.

Bagi pengunjung yang ingin merasakan tapak sejarah Bahari Rongga, maka kunjungan wisata di kawasan ini bisa dilakukan pada sore hingga malam hari dengan membawa perbekalan yang cukup serta kemah. Jelang sore, kita bisa menikmati keindahan sunset dan teja diufuk Barat. Persis di atas pulau Mules, Matahri tenggelam memancarkan teja nan indah.

Biasanya pada pukul 19.00 para pencari kima akan menyusuri arah barat Pantai ini mencari kepiting. Alat yang dipakai adalah besi seukuran setengah meter yang diruncingkan pada bagian ujungnya. Besi ini sengaja diibentuk untuk membantu mengangkat kepiting yang melekat pada batu.

Hasil tangkapan biasanya akan banyak bila dilakukan pada hari-hari tertentu dalam bulan. Kecakapan membaca gejala alam atau ilmu perbintangan kuno menjadi modal utama bagi para pencari kima atau nelayan penangkap ikan bila ingin mendapatkan hasil tangkapan yang memuaskan.

Kawasan Kenda dan Kembo

Selain keindahan Pantai Marokama/ Mbo Ndei, lokasi wisata warisan sejarah suku Rongga cukup kaya dan tersebar di sepanjang Pantai ini. Ada Kenda dan Kembo yang dikenal sebagai kawasan hutan adat milik Tuan Tanah suku Motu Poso, benteng-benteng, Watu Embu, Rate Lako. Sekitar empat kilo meter dari Marokama, kita akan measuki Nangarawa.

(akan dilanjutkan!!!)

Menuju Penemuan Identitas Orang Rongga

Februari 16, 2010

Suku Rongga dalam sejarah Manggarai hampir tak pernah diperbincangkan. Bahkan banyak buku-buku sejarah tentang Manggarai menyamakan begitu saja wilayah kedaulatan suku ini dengan kerajaan Tanah Dena. Meski luput dari perhatian dan publikasi yang luas, ternyata hal itu tidak menenggelamkan begitu saja antusiasme orang Rongga dalam mengungkapkan jati diri, baik dari sisi sejarah, orisinalitas kebudayaan maupun kesenian, serta kedaulatan wilayahnya di masa lalu.

Sejauh ini penelitian tentang sejarah dan asal usul orang Rongga di wilayah Manggarai Timur, Flores, NTT baru menyentuh keunikan bahasanya. Suku yang mendiami wilayah Selatan Manggarai Timur ini, di samping unik dari sisi bahasa, ternyata memiliki sejarah peradaban yang cukup kaya. Wilayahnya tidak saja terbatas di Kisol dan Waelengga, tetapi meliputi sebagian dari luas kecamatan Kota Komba dan kecamatan Borong dengan batas-batasnya: Sebelah Timur berbatasan dengan Wae Mokel, bagian Barat berbatasan dengan Wae Musur (Sita). Di utara berbatasan dengan suku Mendang Riwu, Suku Manus, dan Suku Gunung. Sementara di selatan diapiti laut Sawu.

Sebelum kerajaan Todo mengadakan ekspansi besar-besaran ke wilayah Timur, daerah ini sudah dikuasai orang Rongga selama berabad-abad. Kedatangan suku Keo dari Selatan Barat Laut tidak serta mereta menggeser peran sentral orang Rongga di wilayah ini. Sekitar abad ke-12 dan 13 terjadi pergolakan besar di mana Suku Rongga dibawa pimpinan suku Motu Poso mengusir sejumlah orang Keo yang datang dan hendak menguasai wilayah ini. Pertempuran itu berhasil mengusir pulang orang Keo yang saat itu mendiami wilayah Kota Ndhora, Mboro (Borong), Waereca,  Tanah Rongga (Golo Mongkok). Akibatnya, sebagian orang Keo yang terdesak melarikan diri ke arah Barat, Melo, wilayah kecil yang berbatasan dengan dengan Iteng, Manggarai Tengah. Suku Keo yang mendiami wilayah Melo kemudian mengadakan kontak dengan suku Todo dan mengklaim wilayah Rongga sebagai daerah kekuasaannya sehingga dengan mudah pula Todo menamakan wilayah ini dengan nama Kerjaan Adak Tanah Dena. Dengan demikian di mata Todo, wilayah Rongga disamakan dengan wilayah Kerajaan adak Tanah Dena. Padahal de facto dan de jure  wilayah itu merupakan  bagian dari wilayah Rongga Ma’bha.

Ekspansi Todo sekitar abad 18 ke wilayah Timur untuk mengusir orang Keo barangkali tak akan berjalan lancar bila saja tidak didukung akumulasi kebencian orang Rongga pada suku Keo. Proses penaklukkan itu begitu mudah manakala strategi perkawinan, dipakai sebagai senjata penaklukkan. Dalam kisah lisan yang berkembang di Tanah Rongga, konon, mula-mula Todo memberi gadis bernama Dhari kepada Tuan Tanah yang menguasai wilayah Rongga Barat (Rongga Ma’bah). Setelah ikatan kekerabatan mulai terjalin akrab, Todo menyewa salah satu suku kecil di Rongga Ma’bha untuk mewujudkan rencana besarnya menaklukkan Komba, Rongga Timur atau yang lebih dikenal dengan sebutan Rongga Ruju. Strategi itu berjalan mulus.

Upaya Todo mengembangkan wilayahnya hingga Watu Jaji berjalan lancar karena mendapat sokongan dari suku Rongga, baik Rongga Mabha maupun Rongga Ruju, yang sudah memahami karakter dan topografi wilayah Ngada. Namun, dalam kisah penaklukkan Todo terhadap Ngada hingga Watu Jaji nyaris tak pernah diungkapkan peran dua pahlawan Rongga Nai Pati dan Jawa Tu’u. Dua sosok ini selain menjadi figur sentral di balik kemenangan Todo atas Ngada, juga berperan vital memperkuat pasukan Todo dalam ekspansi dan penaklukan Cibal.

Selanjutnya, dalam sejarah, upaya Todo menanamkan pengaruhnya di wilayah Manggarai dengan membentuk pemerintahan kedaluan yang kemudian berlanjut dengan UU NO. 5/ 1979 tentang Pemerintahan Desa membuat pemerintahan adat di wilayah Manggarai tergeser. Perubahan itu ternyata diikuti dengan proses penaklukan budaya. Tidak terkeculai wilayah Rongga. Akibatnya cukup banyak ikon budaya Rongga yang terancam punah, seperti pakaian adat dan rumh adat Rongga, menyusul aksen penyebutan nama beberapa tempat yang berubah,  seperti Mboro menjadi Borong, Tanah Rongga menjadi Golo Mongkok, dll. Hampir seratus tahun orang Rongga tak sadar kehilangan identitas budayanya.

Salah satu yang masih bertahan hingga saat ini adalah tarian Vera. Tarian ini adalah warisan yang tidak kita temukan dalam kebudayaan Manggarai maupun Flores umumnya. Gerakannya yang khas serta pertunjukkannya yang hanya berlangsung secara aksidental pada acara adat tertentu membuat generasi masa kini tidak banyak lagi yang bisa memeragakan tarian ini. Serbuan berbagai budaya populer juga membuat tradisi Vera kian memudar di kalangan generasi muda Rongga.

Kehilangan beberapa simbol budaya Rongga tentu juga dilatari kebijakan pemerintah daerah Manggarai selama beberapa dekade yang terkesan menyeragamkan begitu saja kearifan dan keunikan budaya lokal yang berada di wilayahnya ke dalam satu kesatuan budaya bernama Budaya Manggarai. Pengalaman sejarah ini bagi orang Rongga adalah suatu yang cukup pahit untuk dikenang. Apalagi saat itu, Gereja yang nota bene mendapat tanah gratis untuk mendirikan Seminari di Kisol tak memiliki perhatian apapun untuk perkembangan kebudayaan maupun pendidikan di kalangan orang Rongga.

Wajar, bila dalam peta masyarakat Manggarai, Rongga menjadi terbelakang bila dibandingkan dengan wilayah-wilayah lainnya dari sisi budaya dan pendidikan. Terpinggirnya kebudayaan Rongga menjadi kian parah karena ketiadaan kamu terdidik dari kalangan Rongga yang mencapai bangku pendidikan tinggi. Bayangkan saja pada tahun 70-an hanya ada satu orang Rongga yang berhasil menyandang gelar Sarjana. Tahun 80-an hanya berkisar sekitar lima hingga sepuluh orang sarjana. Perode 90-an hingga kini mulai bermunculan Sarjana-Sarjana orang Rongga.

Seiring dengan kebangkitan pendidikan di kalangan orang Rongga, ada sebuah kegelisahan yang terus mengusik sejumlah kaum terdidik Rongga untuk mengungkapkan identitas sejarah dan kebudayaannya. Kegelisahan itu mendorong saya secara pribadi untuk mengadakan penelitian kecil mengenai sejarah, budaya dan kesenian Rongga. Penelitian awal saya lebih mempertanyakan asal usul dan sejarah Rongga, selanjutnya perbedaan budaya dan kesenian yang ada antara orang Rongga dengan Manggarai maupun Ngada.

Banyak temuan yang cukup mencengangkan, di antaranya tentang peradaban Rongga yang tersisa sejak zaman batu, situs-situs peninggalan perang, maupun filsafatnya yang cukup kokoh sebagai pegangan hidup orang Rongga zaman dulu. Tentu, penelitian kecil ini memang jauh dari proyek dokumentasi budaya yang ideal karena tak akan ditemukan pemamparan mengenai temuan arkelogis karena fokusnya memang bukan untuk itu. Namun saya yakin proyek kecil ini akan menjadi pembuka dialog sekaligus pancingan bagi Atropog untuk menelusuri jejak kebudayan Rongga. Untuk melengkapi bahan peneleitian ini, saya juga menggunakan literatur, seperti Nusa Nipah, Sareng Orinbao (Piet Pettu), Manggarai Mencari Era Pencerahan Historiografi karya Almarhum Daminus Dandu Toda sebagai referensi. Semoga apa yang sudah dimulai bisa membuahkan hasil yang menggembirakan.

SUKU MOTU POSO DALAM LINTASAN SEJARAH

Januari 9, 2010

Asal Usul Suku Motu Poso

Suku yang memiliki peran vital dan berpengaruh dalam sejarah Rongga adalah Suku Motu Poso. Kisah tentang suku ini barangkali akan terpendam begitu saja bila tidak ada upaya untuk mewarisinya dalam bentuk tulisan. Berikut ini, adalah penggalan sejarah dan sepak terjangnya dalam kancah sejarah suku Rongga, Manggarai Timur.

Suku Motu Poso, selain dikenal sebagai pemangku jabatan tuan tanah di wilayah Rongga Ma’bah, juga berperan besar dalam upaya menegakkan kedaulatan wilayah Rongga tempoe doeleo. Nenek Moyang suku ini, menurut cerita lisan yang berkembang, konon, berasal dari Wilayah Sumatera Barat ( Minangkabau). Gejolak sosial yang terjadi di wilayah Minangkabau sekitar abad ke (?) memaksa sebagian masyarakat melarikan diri ke sejumlah wilayah di Indonesia. Salah satu tempat tujuan pengungsian mereka adalah sepanjang pesisir Laut Sawu, Flores, termasuk Loko Ture, wilayah Pantai Selatan Manggarai Timur, sekitar 15 km dari Kisol.

Dalam tradisi lisan dikisahkan bahwa nenek moyang Suku Motu Poso adalah Weka dan Ture. Dua bersaudara ini masuk ke tanah Rongga dalam kurun waktu yang berbeda. Dari negeri asalnya Minangkabau, Weka melarikan karena menolak menikah dengan gadis pinangan orangtuanya (puteri sang Paman). Weka bersama gadis pilihannya bernama Motu akhirnya memutuskan untuk meninggalkan tanah Minangkabau menuju Loko Ture. Dari Miangkabau Weka berlayar melewati Pantai Selatan Jawa dan kemudian memilih mendarat di Loko Ture, Manggarai Timur Selatan.

Kepergian Weka kemudian diikuti Ture, sang adik.  Kisah perjalanan Ture meninggalkan daerah Minangkabau menuju Loko Ture berlangsung dalam suasana penuh dramatis.  Gelombang dan badai memaksa Sampan (Kowa ) yang ditumpangi Ture mengalami kebocoran di Laut Selatan Jawa.  Beruntung Ture diselamatkan oleh para nelayan dari pesisir pantai selatan Jawa.  Namun upaya pertolongan yang dilakukan pelaut Jawa itu rupanya membawa petaka bagi Ture. Ia ditawan hanya karena salah mengucapkan sebuah kata (puki) yang membuat para pelaut Jawa tersinggung.

Impian Ture untuk menyusul kakaknya Weka  hampir saja kandas di tangan pelaut Jawa. Namun pada suatu malam dalam mimpinya, Ture mendapat pentunjuk untuk menyusuri jejak sang kakak. Dalam mimpinya Ture bertemu dengan ikan paus raksasa yang kemudian menjadi Dewa Penyelamat dan penunjuk jalan baginya menuju tempat di mana sang kakak berada. Ture diminta untuk menunggang ikan Lumba-lumba (ngembu) menuju tempat kediaman sang kakak dengan bekal tujuh buah ketupat, tujuh ruas bambu berisi air dan tujuh duri Jeruk asam.  Tujuh duri jeruk asam bertujuan untuk menjaga komunikasi antara Ture dan Ikan Lumba-lumba. Bila selama perjalanan Ture merasa gerah, ia boleh memberi isyarat dengan menusukan duri jeruk asam pada punggung sang ikan untuk menenggelamkan diri dari permukaan laut. Demikian juga bila ia sudah merasa dingin,ia bisa menusuk kembali duri jeruk asam agar sang ikan mengangkat punggungnya ke atas permukaan air.

Berbekalkan tujuh buah ketupat, tujuh ruas bambu berisi air dan tujuh duri jeruk asam Ture mampu menyeberangi gelombang dahsyat Laut Selatan Jawa menuju Laut Sawu hanya dalam waktu tujuh hari tujuh malam dan mendarat  di Loko Ture, tempat yang semula menjadi tujuan kedatangan kakaknya Weka. Dalam perpisahannya dengan ikan Paus Ture mendapat hadiah dalam bentuk sebuah pedang istimewa yang dimuntahkan dari mulut sang ikan sebagai bekal untuk melawan musuh dan mencari nafkah.

Selama sekian lama ia menetap dan mencari nafkah di Loko Ture serta menjalin interaksi dengan manusia Proto Rongga yang bermukim di sekitar wilayah pantai selatan. Perjumpaannya dengan manusia Rongga memuluskan jalannya untuk menemukan jejak atau keberadaan Weka,  sang kakak.

Saat itu Weka yang sudah menetap di Sari Kondo. Rumors kencang, yang menceritakan kedatangan adiknya mendorong Weka untuk mendatangi sang adik. Semula Weka masih menaruh curiga akan keberadaan sosok adiknya itu. Dalam hatinya Weka berpikir, “ Jangan-jangan sosok pemuda yang berada di depan matanya adalah penyamar yang bisa berubah menjadi ancaman serius bagi keselamatan jiwanya”. Weka kemudian melakukan investigasi terhadap Ture hingga pada akhirnya ia benar-benar yakin setelah Ture menceritakan tentang keberdadaan sanak saudara mereka di Minangkabau serta sejumlah kisah kebersamaan mereka selama di negeri asal.

Setelah Weka cukup yakin dengan sosok yang berada di depan matanya adalah adik kandungnya sendiri, maka terjadilah sebuah adegan dramatis yang mengharukan. Kakak beradik itu berpelukan disertai isak tangis.  Pesisir pantai Loko Ture pun menjadi saksi sejarah. Kisah perantauan dua bersaudara itu terpatri dalam sebuah syair Vera (tarian khas orang Rongga)

Weka Ture ndhili mai/tu monggo Sari Kondo
Weka welu Jawa Ture / Ti Motu tanah Medzhe

Kisah yang berkembang secara turun temurun itu dikukuhkan dalam upacara/ ritus adat seperti Pau Manu, Pau Wawi, dan Pau Kamba. Dalam acara-acara itu, nama Ture dan Weka selalu disebut turunan Suku Motu sebagai nama pertama mendahului nama nenek moyang lainnya.

SUKU MOTU PASCA WEKA & TURE

Weka dan Ture setelah mendarat di Loko Ture menetap bersama di Sari Kondo. Karena hidup masih mengandalkan hasil hutan, mereka akhirnya berpindah dari satu tempat ke tempat lain, seperti Nunu Wula, Wolo Poso, Nua Nangge (Loko Ture). Periode ini merupakan masa-masa bulan madu bagi kakak beradik itu. Keduanya pun mengembangkan keturunan di Tanah Rantau. Weka bersama Motu, gadis yang dibawanya dari Tanah Minang memiliki empat orang putera, sedangkan Ture yang menikah dengan gadis lokal dianugerahi tiga  orang putera. Dari Weka dan Ture inilah muncul nama suku/klan Motu. Nama tersebut diadopsi dari isteri Weka yang pada generasi awalnya masih lekat dengan kultur matrilineal Minangkabau.

Generasi awal turunan Weka dan Ture semula benar-benar  menjaga kekompakan. Semangat gotongroyong dan kekeluarga menjadi ciri kehidupan yang sangat menonjol. Setelah generasi Weka dan Ture Meninggal terjadilah perpecahan di antara mereka. Peristiwa perburuan kera di sekitar wilayah Wae Motu berbuntut perpecahan dua keluarga ini. Persoalannya sangat sepele, yakni hanya gara-gara tidak kebagian kuah daging kera. Drama perpecahan itu terlukis dalam patah/ syair vera di Nunu Wula:

Motu Woe Lima Z dhua/ Embu Mea Sunggisina
Motu Woe Lima Z dhua/ Embu Mea Amewea
Motu Woe Lima Zdhua/ Bheka Tange Wae Kode

Setelah periode itu, keturunan Weka dan Ture mulai terpisah. Keturunan Weka, dalam hal ini Sunggisina dan ketiga saudarnya lebih banyak berorinetasi mencari nafkah ke arah Timur hingga Aimere dan Were, Ngada di wilayah kabupaten Ngada (Untuk menyingkap penyebaran suku Motu ke wilayah Ngada dibutuhkan sebuah penelitian yang serius). Sementara keturunan Ture dslsm hsl ini Amewea dan dua saudarnya memilih mencari nafkah dan menetap di wilayah Barat, Wolo Ndeki.  Pepecahan kedua keluarga ini juga berpengaruh pada ikon-ikon yang dipakai sebagai simbol kebanggaan keluarga. Keduanya bersaing baik dalam kekayaan maupun kharisma. Persaingan itu tampak dalam pemilihan nama kuda kebanggaan dari masing-masing keluarga, seperti dalam syair Vera berikut:

Jara nga’zha Kolo Ndasi/ le’dha lo’dhe Sunggisina
Jara nga’zha Keka Motu/ le’dha lo’dhe Amewea

LAHIRNYA NAMA SUKU MOTU POSO

Perpercaahan keluarga Motu yang diwakili Sunggisina dan Amewea menyebabkan ikatan di antara suku Motu mulai renggang. Amewea dengan dua Saudaranya memulai pengembaraan baru di wilayah barat Rongga. Semula mereka masih menjaga kekompakan namun lama kelamaan mereka cenderung menyebar sendiri-sendiri. Amewea memiliki tiga orang putera, yakni ________, _________, dan______. Sampai dengan enam generasi setelah itu turunan Amewea masih memiliki satu rumah adat. Pada periode Meka Mangi terjadilah perpecahan di antara mereka. Penyebabnya karena ulah sang kakak yang menjual enam orang budak milik adiknya kepada orang Bima.  Perpecahan ini membuat Mangi dan keturunannya membuat rumah adat baru. Karena pada saat perpecahan mereka mendiami wilayah Poso maka mereka kemudian menamakan diri Suku Motu Poso. Pengukuhan identitas baru dengan atribusi Poso menjadi ciri  istimewa suku ini yang membedakannya dengan suku-suku Motu lainnya yang berada di wilayah Rongga.

Dalam perjalanan di wilayah Rongga Ma’bha, dominasi suku Mangi dan keturunannya dalam hal ini suku Motu Poso cukup terasa di wilayah ini. Suku ini kemudian memainkan peranan utama di wilayah Rongga Ma’bha.  Selain dihormati karena dianggap sebagai suku terkemuka karena memiliki harta dan pengaruh yang besar, suku ini berperan vital  dalam menjaga kedaulatan wilayah Rongga Ma’bha.

Pada abad  (12 & 13 ?) Suku Keo dari Wilayah Nagekeo (Keo Selatan Barat Daya) datang dan bermukim  di wilayah ini. Kedatangan suku ini semula dianggap sebagai sahabat. Namun setelah jumlah mereka makin banyak, suku dari wilayah Nage Keo ini mulai menentang adat istiadat yang berlaku di wilayah Rongga. Konflik sosial pun pecah karena orang Rongga yang merasa sebagai tuan tanah tidak dihargai. Dibawa pimpinaan Meka Kumi dan Meka Nggere dari suku Motu Poso terjadilah peperangan dahsyat di tanah Rongga.

Sejumlah orang Keo terbunuh dan sisanya melarikan diri ke wilayah asalnya. Salah seorang Pimpinan pasukan Keo bernama Laki Tara tewas terbunuh di  Wolo Redi, di wilayah sekitar Pandu, Lembur sekarang. Hingga hari ini gunung yang tujuh tahun lalu (2002) gundul untuk kepentingan lahan pertanian itu, dikenal dengan sebutan Wolo Tara sebab di situlah pimpinan pasukan Keo dikuburkan.

Hingga hari ini bukti kekalahan orang Keo di Tanah Rongga tampak dalam sejumlah pekuburan di daerah Borong dan sekitarnya, seperti di Kampung Golo ( Wae Reca), Golo Karot, Kota Ndhora, Lesa Kuku sebelah atas Lia Mbala dan sejumlah tempat lainnya. Pekuburan itu ditandai dengan batu  bersegi yang ditancapkan membentuk sudut 90 derajat.

Sebagai bentuk ucapan terima kasih atas keberhasilan suku Rongga mengalahkan Keo, Suku Suka yang saat itu menjadi pemegang hak ulayat di  wilayah pantai selatan hingga Wae Musur menghibahkan sebagian wilayah ulayatnya untuk suku Motu Poso dengan batas-batasnya sebagai berikut:

Bagian Timur :

Toko Ika – Tanah Bara – Muku Lia – Tiwu Toro – Woa Kowe – Alo Ila –Watu Sila –Wolo Maghi – Loa Keti/ Mbaru Jawa – Ndheru Wowo ( wolo Sika) – Moko Loko – Kora – Ngamba Sapi – Bheto Londo ( sekolah baru Leke) – Kolu Kawe/i – Wae Ku

Bagian Utara

Wae Ku – Watu Nepa/ Wae Sele – Koka – Leni – Wolo Tara – Mbela Turi – Wae Namba – Wae Sati, Sambi  Nggoko – Peot – Mondo – Watu Mori

Batas Barat

Watu Mori ( Paka- Sita) – Wae Musur- sampai Pantai Selatan

Batas-Batas  Wilayah Motu Poso dengan wilayah Ulayat lainnya:

Toko Ika – Kora,  berbatasan dengan wilayah ulayat Suku /Tanah Tanda. Penguasa Ulayat  Pius Ndoi

Kora  – Wae Ku berbatasan dengan wilayah ulayat Suku Woko Pau, Penguasa ulayatnya Deus Melang

Wae Ku – Bela Turi berbatasan dengan wilayah ulayat suku Weru, Penguasa Ulayat  Pettu Jangga

Bela Turi –Sambi Nggoko, berbatasan dengan wilayah ulayat suku suka Ndare, penguasa ulayat Yoseph Sole

Sambi Nggoko – Peot – Mondo, berbatasan dengan wilayah ulayat suku Mendang Riwu,……

Mondo -Wae Laku – Wae Musur berbatasan dengan wilayah ulayat suku Kempos Sita, pemegang hak ulayatnya  Ande Cendol

Wae Musur- muara hingga Pantai Selatan berbatasan dengan wilayah ulayat Suku Torok Golo, pemegang hak ulayatnya Cuwik dan Uwik.

Sebagai tanda bahwa orang Rongga pada masa itu benar-benar menguasai wilayah itu, hingga kini ada sejumlah tempat di wilayah Borong hingga Wae Musur yang dinamai dengan nama-nama Rongga. Namun karena pengaruh suku Mangarai sejumlah tempat mengalami pergantian aksen, seperti berikut ini:1) Sepi Watu > Cepi Watu 2)Toka > Toka, 3) Jawa> Jawang 4)Tanah Rongga > Golo Mongkok, 5) Wae Resa>Wae Reca,  6) Wae Bobo>          Wae Bobo ,  7)Mboro >Borong,  8) Watu Ipu>Watu Ipu,  9) Wolo Kolo>        Wolo Kolo,  10) Tanggo>Tanggo,  11) Weja Kalo>Wejang Kalo, 12) Watu Nggo > Watunggong,  13) Leke> Lekeng, 14) Sambi Donga> Sambi Donga, 15  Mbo Ndei > Mbo Ndei (Rumah Mbupu (Ibu) Ndei)

Tak lama setelah mengalami kontak dengan suku Sumba di wilayah Tanggo dan Borong Suku Motu Poso memberikan mandat kepada suku yang diangkat sebagai ana fai itu untuk menjaga tanah ulayat di wilayah barat hingga Wae Musur.

Rongga memang bak tanah terjanji yang menjadi incaran semua suku di Flores Tengah saat itu.  Setelah Keo berhasil diusir pada sekitar abad 17, Kerajaan Todo dalam upaya ekspansi wilayahnya datang dan bermukim di wilayah itu. Sama seperti kedatangan orang Keo pertama kalinya, Todo pun datang ingin menguasai Tanah Rongga. Kedatangan mereka di bagian barat Rongga berlangsung secara damai melalui  ikatan perkawinan. Mereka menghadiahkan seorang gadis bernama Ndhari kepada Pua dari Suku Motu Poso.

Perkawinan itu rupanya menyimpan strategi terselubung, yakni melakukan ekspansi ke wilayah Rongga Ruju (Komba). Saat itu wilayah ini menjadi satu-satunya wilayah yang sulit dilewati karena kekuatan pasukan perangnya. Selama puluhan tahun Todo terlibat peperangan melawan Komba, namun hasilnya sia-sia. Sepanjang musim mereka terpaksa menggarap tanah di sekitar Loko Ture dalam rangka mengawasi pergerakan orang Komba. Namun Komba bak batu karang yang susah ditaklukkan. Singkatnya jika Todo ingin menaklukkan Komba mereka harus berhasil melewati sebuah lorong terjal di sekitar wilayah Tandu Nunu yang menjadi pintu utama menuju benteng Komba.

Pada masa-masa menjelang kehancuran Komba, hubungan antara Todo dan Rongga Mabha sudah terjalin erat berkat perkawinan Pua dan Ndari. Todo akhirnya berhasil membujuk beberapa orang Rongga Mabha untuk mencari tau cara mengalahkan Komba. Hubungan kekerabatan yang sudah terjalin erat memuluskan Todo memperoleh informasi vital dari pihak Rongga Mabha tentang lorong misterius menuju benteng Komba.

Setelah mengetahui jalan menuju benteng Komba, Todo mulai melakukan penyerangan terhadap Komba. Perang yang disebut Bheka Komba II itu melibatkan sejumlah kaum perempuan Komba. Setelah hampir semua lelaki Komba terbunuh, pihak perempuan tak mau ketinggalan. Mereka melakukan strategi ala Perang Puputan untuk mengalahkan Todo. Ratusan orang Todo tewas di tepi jurang Wolo Komba. Namun, Komba sudah hancur nyaris tak bersisa dan menderita kekalahan total. Para pejuang Todo pergi membawa pulang sejumlah gadis cantik dari Komba ke Todo untuk dijadikan isteri.  Sampai sekarang antara Todo dan Komba terjalin hubungan kekerabatan selaku ana haki dan ana fai. Komba sebagai pemberi gadis bertindak sebagai ana haki, sementara Todo sebagai anak fai (penerima gadis).

Setelah menjadikan Rongga secara keseluruhan sebagai mitranya, Todo melakukan ekspansi hingga wilayah Watu Jaji, Ngada. Selanjutnya dalam upaya menancapkan kekuasaannya  di Manggarai dengan bantuan pahlawan Rongga, Jawa Tuu dan Nai Dewa, Todo menaklukkan Cibal. Dari sejarah penaklukan dan perkawinan itu kekuasaan dan pengaruh Todo di Manggarai berjalan hingga akhir masa orde baru berbakat strategi perkawinan.

HUBUNGAN SUKU MOTU POSO & TODO

Hubungan kekerabatan antara suku Motu Poso dan Todo berlangsung  mesra hingga akhir tahun 1966. Todo selaku pemberi gadis bertindak sebagai (ana haki) sementara Motu Poso  sebagai penerima gadis (ana wai).

Perkawinan Pua dengan gadis Todo bernama Ndhari melahirkan Ndhesa dan Taso.  Ndesa dan Taso kemudian memilih menetap di wilayah Kenda dan Kembo. Pembukaan Lodo Kenda dan Kembo itu  ditandai dengan Vera selama sembilan hari sembilan malam. Hingga kini cakupan wilayah Lodo Kenda dan Kembo itu masih tergambar jelas dalam sebuah ungkapan (pata’) Vera:

DAPU LAU SA’DHA DHA’DHA
SORO MA’E NGGUTI  NGGUMI
KEMBO NE KENDA
MENDU DHEU MEDHE NDE

Hasil panen dari Lodo Kenda ini sangat berlimpah. Pare Dhupa (bulir padi yang terbungkus daun) menjadi simbol kesuburan wilayah ini. Dalam kebiasaan orang Rongga jika hasil panennya melimpah seperti itu, maka sang pemilik mesti mengadakan upacara syukuran dalam bentuk Vera. Weka dan Taso mengadakan Vera selama sembilan malam. Salah satu ungkapan (pa’ta) Vera yang masih dikenal di kalangan suku Motu Poso hingga sekarang adalah:

NGGO’TI UMA KEM’BO NGGO’TI TEM’BU
DHE’A DHA’LE KENDA DHE’A MEMA
LA,I KERI KENDA LA,I LEWA
NGHUM’BU SA’O TASO NGHUM’BU RAO

Setelah masa keemasan dalam arti kesuburan Kenda dan Kembo mulai menurun, turunan Meka Ndhesa, yakni Meka Kako pindah ke Rone. Kako memperanakkan Lajo, Monggo dan seorang perempuan bernama  Nau. Nau kemudian menikah dengan Weka dari Suku Kelok Waerana. Anak pertama Nau adalah Epa. Dalam budaya Rongga, setiap anak lelaki pertama dari pihak perempuan harus kembali ke suku asal ibunya. Epa yang ayahnya berasal daru suku Kelok mesti kembali ke pihak anak haki (Suku Motu Poso). Saat itu Epa diasuh oleh paman tertuanya Ladjo dan kemudian menikah dengan Meo Timu, anak semata wayang  Monggo, Paman bungsunya. Perkawainan Epa dan Meo Timu melahirkan Golo. Golo menikah dengan Nau melahirkan Kanis Jaik. Kanis Jaik kemudian menikah dengan Maria Baghong melahirkan Piet Sambut, Adol, Agus dan Natus.

Setelah Meo Timu meninggal Epa menikah lagi dengan Kasih. Perkawinan mereka melahirkan Simon Sarong, Ondi, Elu dan Jalo. Setelah Kasih meninggal, Epa menyunting gadis remaja bernama Meo dari suku Sedhza. Perkawinan ketiganya ini melahirkan Salesius Sende, Au, Jaja, Edel, Indah, Inggo, Lalu, Kaja.

Hingga masa Epa hubungan kekerabatan antara Todo dan Rongga masih terjalin akrab. Hubungan kekerabatan Todo dan Motu Poso ini kemudian dilanjutkan oleh Mbadu (Suku Motu Pumbu) setelah mendapat restu dan jaminan Epa.

Pada masa pihak kerajaan menanamkan pengaruh kerjaannya dengan membentuk pemerintahan kedaluan, melalui dalu Japi dari suku Tanda, Todo memberikan mandatnya pada Epa (yang seharusnya memiliki hak atas jabatan itu karena memangku jabatan Tuan Tanah). Namun Epa menolak tawaran itu, lantas menyerahkan jabatan itu pada Mbadu. Selanjutnya untuk memperkuat hubungan kekerabatan dengan Todo putera Mbadu, Yoseph Pandong menikah dengan Maria Ndudek. Setelah kematian (Fransiskus Xaverius) Epa tahun 1966 hubungan kekerabatan dengan Todo mulai renggang apalagi pemerintahan kerajaan (Dalu) sudah ia serahkan Ke Mbadu yang diperkuat pada periode kepemimpinan puteranya Yoseph Pandong. Kehilangan Epa praktisnya pengaruh suku ini terpangkas akibat sistem pemerintahan Kedaluan yang diperkuat dengan UU tentang pemerintahan Desa yang memaksa pemerintahan adat terdesak dan kehilangan pengaruh.

Kini di bawa panji reformasi, kendati ada indikasi post power syndrome dari kalangan tertentu,  Suku Motu Poso, mulai menegakkan kembali eksistensi dan pengaruhnya atas tanah Rongga Ma’bha sebagai pemegang hak ulayat.

D. SUKU MOTU POSO PASCA EPA

Pemerintah kedaluan dan UU pemerintahan Desa nO. 5/ 1979 telah membuat sistem pemerintahan adat kian terdesak.  Akibat pemerintahan kedaluan banyak kerugian yang dialami suku Motu Poso.

Pertama) Epa, dalam seja kala hidupnya, kehilangan ratusan ekor sapi dari padang penggembalaannya di Padang Wolo Sike dan Poma Mese akibat kebijakan Dalu Yoseph Pandong yang membuka perkampungan baru. Ratusan ekor sapi milik Epa dan putera tertuanya Simon Sarong mengungsi ke wilayah Nangarawa dan Mbo Ndei.Menurut beberapa saksi hidup, sebagian hewan tersebut sengaja dialihkan kedua wilayah tersebut oleh pihak pemerintah dan Gereja saat itu. Kesaksian beberapa orang saksi (off the record) cukup masuk akal sebab pihak penguasa dan pihak Gereja (Seminari) yang saat itu baru merintis peternakan,  memiliki kawanan ternak sapi ratusan ekor hanya dalam waktu dua tahun. Pertanyaan, dari mana asal sapi tersebut? Bukankah satu-satunya pemilik ternak sapi dalam jumlah paling besar adalah Epa? Sayang putera-putera Epa enggan membicarakan prihal ini ke permukaan hingga saat ini.

Kedua) Pengambilalihan hak atasi Tanah.  Pasca Epa akibat sistem pemerintahan kedaluan dan pemerintahan desa hal untuk membagi tanah-tanah kosong diambilalih. Hal yang sama juga berlaku dalam penyerahan tanah pada Seminari Kisol yang bersifat manipulatif pasca penyerahan pertama pada tahun 1952. (akan diuraikan secara lengkap)

ketiga) Pelanggaran janji dan kesepakatan yang dilakukan pihak Seminari Kisol. Tahun 1989 secara sepihak dengan dukungan Dalu seminari Kisol melakukan agraria tanah di luar penyerahan Tuan Tanah. di Kisol Kasus ini diikuti dengan protes pihak tuan tanah. Puncak perselisihan dengan Seminari terjadi tahun 2000. Tuan tanah meminta Seminari merealisasikan janjinya pada tuan tanah dan menuntut pengembalian Tanah baik di wilayah Kisol maupun ladang gembala Mbo Ndei yang dipakai sebagai lahan penggembalaan Seminari pada tahun 1966.

E. WILAYAH PEMUKIMAN & LAHAN GARAPAN SUKU MOTU POSO SEJAK MASA WEKA-TURE HINGGA EPA

Masa Ture dan Weka

SARI KONDO  – NUNU WULA – WOLO POSO -NUA NANGGE / LOKOTURE )

Masa Mangi dan Lando hingga generasi Wawi dan Manu meliputi wilayah-wilayah sebagai berikut:

Nua Nangge, ghe’bho, Rambu, Kere Angi dan Rone.

Masa KUMI- PEMBA – FUA, wilayah garapan di NUA KOTA,  NUA NGETHA, BENTENG MUNDE

Masa ini merupakan masa-masa perang hingga pada waktu itu dibangun Benteng  NUA KOTA, BENTENG MUNDE,  BENTENG EMBU NGIU, BENTENG KOPO NGGERE. Pada masa itu Meka Kumi dan Nggere serta Kio menjadi pahlawan yang paling berpengaruh. Kumi dikenal dengan jargonnya( pasi) Kumi Keto Tolo Tenda, sementara NGGERE saudara sepupunya dikenal dengan pasinya Nggere Lalo Ndeki. Sedangkan Kio dengan jargon ( pasi) Kio karo munde.

Generasi Ndesa dan Taso masih menggarap di wilayah ini dengan MEMBUKA LODO KENDA  & KEMBO

Generasi Kako, Lajo dan Epa kemudian kembali lagi ke Rone.

Epa hingga anak-anak dan cucunya kemudian menetap di Watunggong (Watu Nggo).

E. HUBUNGAN KEKERABATAN SUKU MOTU POSO ENGAN SUKU-SUKU LAIN:

Pada masa nenek moyang perkawinan dilakukan antara dua anak saudra sekandung. Hal itu bisa terlihat pada perkawinan antara Ndeki dan Manu. Pada masa itu dikenal dengan ungkapan sio ne tai ae nggoli mae ndehu. Untuk memperkuat suku, anak perempuan yang menikah dengan laki-laki dari suku lain, diwajibkan menyerahkan putera sulung lelakinya kepada suku asalnya. Hal ini terjadi pada anak Sulung Nau dan isteri Weka dari Suku Kelok yang mengembaliklan Epa kepada Suku asalnya.

Namun ada juga yang kawin dengan suku-suku luar yang turut memperkuat kekerabatan dengan suku lain dalam hubungan ana fai dan ana haki, seperti:

1. Suku Sui sebagai ana haki dari Suku Motu Poso. Karena hubungan perkawinan pada masa nenek moyang Suku Motu Poso menghibahkan sebagian tanah untuk suku ini di  Suku Kiu, yang kemudian dijadikan sebagai kawasan gembala (wota) oleh suku ini. Tempat ini disebut Wota Adzhe Kua.  Pada generasi nenek moyang apabila suku-suku berburu dan tidak mendapatkan buruannya, mereka akan singgah di tempat ini untuk potong kerbau.

2. Suku Sawu ana haki dari Suku Motu Poso. Karena hubungan perkawinan Suku Motu Poso memeberikan sebidang tanah di Tere Angi ( bagian atas Kenda)

3.    Suku sedzha sebagai ana haki dari Suku Motu Poso.

4.   Suku Motu sebagai ana Haki dari Suku Motu Poso.

F. REKOMENDASI UNTUK PEMERINTAHAN DAERAH KABUPATEN MANGGARAI TIMUR

……..AKAN DILANJUTKAN……

Tulisan ini dirangkum dari WWC dan kesaksisan penulis sejak masa kecil hingga berusia tigapuluh tahun. Untuk kelengkapan materi tulisan beberapa data-data baru akan dimasukan di masa datang.


Januari 5, 2010

Bung, kapan nulis eulogi lagi?

Sebuah pesan dinding di facebook dari rekan kerja lama cukup mengejutkanku. Sudah satu tahun lebih Mas Yuga tak pernah menghubungiku. Tumben bunaget… mengapa baru kali ini ia menulis di wall FB ku??? Dalam hati saya berharap bakal ada tawaran lagi untuk SJ sebagai penulis di Insert Investigasi, tetapi godaan untuk berpikir ke arah sana sirna begitu saja manakala saya menatap kalender di kamar kosku. Iya… persis di penghujung November, tepatnya 26 November 2005, kami memulai sebuah proyek titipan dari TransTV menggarap tayangan baru infotainment bernama Insert Investigasi. Saat itu saya harus pindah kerja dan bergabung bersama Mas Yuga Aden sebagai penulis naskah di PT Shandika Widya Cinema.

Awalnya saya ragu pada kemampuan tim menggarap sebuah tayangan investigasi, karena selain tidak banyak pengalaman juga jumlah reporter yang terbatas (4 orang) . Tetapi berbekalkan sedikit pengalaman selama menulis naskah Silet, saya dan tim berusaha menundukkan tantangan itu di bawa slogan Be the winning Team! Tulisan pada dinding FB ku barangkali adalah penyampain secara tidak langsung dari mantan rekan kerja bahwa Insert Investigasi sudah berusia empat tahun lho… jadi terima kasih telah menjadi bagian dari The Winning Team

Insert Investigasi kini telah menjadi kenangan untukku. Kenangan akan sebuah perjuangan bagaimana membangun sesuatu yang besar dari keterbatasan.  Pada episode perdana, kami mengawali tayangan dengan pemberitaan Tragedi Berdarah Magelang atas nama keluarga Suzana (almarhum). Menariknya materi tayangan ini sudah menjadi keranjang sampah, tetapi karena kasusnya menarik dan memiliki pesan untuk khalayak tema ini dipilih sebagai pembuka perkenalan. Selanjutnya rumors pernikahan siri Ulfa Dwi Yanthi, menyusul fenomena plastic surgery atau operasi plastik, kntorversi dangdut klasik versus dangdung modern, pernikahan siri cut Memey-Jackson Peranginangin menyusul kemelut, keretakan dan perceraian selebritis. Hanya dalam usia dua minggu, tayangan ini sudah menyamai Seputar Indonesia RCTI dan Liputan 6 SCTV dalam perolehan share dan rating. Sebuah kebanggaan yang luar biasa untukku karena saya turut berperan menjadikan tayangan ini sebagai tayangan yang cukp bergengsi…

Prestasi tersebut, menurutku, tidak terlepas dari berbagai faktor. Pertama) Pemilihan tema tepat, kedua) momentum yang tepat, ketiga) Penaskahan yang cenderung berbeda dengan infotainment lainnya.  Berkat dua hal itu  bayi ajaib ini tumbuh dan bersaing dengan tayangan-tayangan sejenis bahkan news dua televisi bergengsi. Di antara momentum itu adalah:  Kematian almarhumah Veronika, isteri Rhoma Irama, kontroversi dangdut klasik versus dangdut modern, kasus Narkoba Roy Marten, Kontroversi majalah Playboy, menyusul pernikahan siri Mayangsari-Bambang Trihatmodjo.

Kasus pernikahan siri Mayangsari-Bambang adalah tema yang menjelma menjadi nilai jual Insert Investigasi selama semester pertama 2006. Berikutnya kisah cinta dan beberapa varian pemberitaan lainnya. Tema-tema tersebut diangkat dengan perspektif yang sedikit berbeda serta bumbu sensasional yang memancing rasa ingin tahu pemirsa.Pola penaskahan yang cenderung nyeleneh, provokatif, genit bahkan seronok menjadi senjata untuk menyedot perhatian khalayak. Paduan gaya penulisan Yuga Aden dan saya melebur menjadi sebuah tontonan yang membuat khalayak terpikat dan pada akhirnya terlibat bersama dalam haru biru suguhan dramtisasi sebuah berita.

Gaya presenter dan setting panggung yang dekat dengan masyarakat kota serta karakter Voice Over Shinta Puspitasari yang menggaung kencang semakin melambungkan tayangan ini sebagai tontonan sebagai tontonan  dapat memberi kepuasan bagi para penggila gosip.

Hampir setahun setelah menghantar tayangan ini sebagai tayangan besar serta meletakkan fundasinya yang kokoh saya memilih berpisah dengan teman-teman. Namun, pengalaman kebersamaan itu sulit terlupakan! Setidaknya untuk jangka waktu tertentu kami telah memenuhi ambisi untuk menjadi The Winning Team.

Kini Insert Investigasi sudah berusia empat tahun dengan seribu lebih episode yang ditayangkan. Namun dalam perjalanannya, sebagai mantan penulis, saya tetap menaruh perhatian pada tayangan ini. Tahun 2008 semester pertama saya sempat come back sebagai penulis free lance. Selanjutnya karena kesibukan dan tuntutan cita-cita lain saya memilih ‘pensiun’ karena memilih bekerja pada bidang yang berbeda.

Bersamaan dengan tulisan di wall FB ku, saya memahami Mas Yuga, barangkali ada yang ia rindukan yakni sebuah reuni dan masukan. Masukan untuk memajukan tayangan ini.  Dalam keprihatian pada nasib infotainment yang berada dalam masa senja kalanya saya berusaha untuk memenuhi harapan Mas Yuga, pimpinan, rekan sekaligus sahabat yang begitu memahami arti kreativitas dan pengembangan diri seseorang. Akhirnya, saya mengucapkan proficiat untuk rekan-rekan dan Ad Multas Annos Insert investigasi… !

Sisi Positif Infotainment

Januari 5, 2010

Kasus Luna Maya versus infotainment menempatkan infotainment dan praktek kerjanya sebagai sasaran gempur banyak pihak. Infotainment dinilai bekerja di luar norma jurnalistik, tidak penting untuk publik dan tidak berguna karena tidak membawa nilai-nilai transformatif dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat.  Sekilas pandangan demikian bisa dibenarkan, tetapi bila ditelusuri lebih jauh maka padangan itu akan terkesan terburu-buru bila menilik kinerja infotainment sebagai medium pemberitaan yang juga telah berperan serta mem back-up kinerja jurnalisme konvensional dalam menciptakan nilai perubahan dalam masyarakat. Perannya memang kecil, karena infotainment hanya membicangkan kepentingan publik sejauh ada peran serta atau keterlibatan selebritis dalam aksi-aksi sosial maupun kebijakan publik yang terkait atau bersentuhan dengan lingkup kerja dunia hiburan dan artis.

Sayang peran-peran kecil itu diabaikan begitu saja karena pandangan yang terburu-buru yang menempatkan infotainment sebagai sebuah medium gosip. Pandangan ini, menurut hemat saya, adalah sebuah salah kaprah yang perlu dikoreksi. Mengapa? Karena hal-hal yang berbau gosip tidak selamanya identik dengan infotainment. Jadi tidak selamanya infotainment identik dengan gosip yang secara normatif dan agamis dilarang atau tidak patut diperbincangkan secara formal karena infotainment memiliki kebijakan redaksional yang tidak saja membahas hal-hal buruk dalam kehidupan selebriti tetapi mencurahkan perhatian penuh pada keseluruhan hidup selebriti.  Bahwa secara aksidental infotainment memberitakan sisi negatif selebriti tidak jadi masalah karena ia tidak mengabaikan sisi positifnya.

Patut dicatat dalam kinerjanya, infotainment turut mengedepankan wacana-wacana yang terkait dengan kepentingan publik. Ambil contoh saat Angelina Sondakh didaulat sebagai duta orang utan, infotainment memainkan peran besar dalam mensosialisaikannya. Di satu sisi, infotainment juga berperan dan turut memberi ruang penolakan terhadap RUU pornografi dan pornoaksi manakala diperbincangkan oleh komisi XI DPR RI. Aksi anarkis anggota FPI yang hendak mengusir artis dangdut Inul Daratista dari Jakarta karena dinilai membawa spirit pornoaksi dalam atraksi dangdutnya juga tidak luput dari perhatian infotainment. Infotainment saat itu menggelindingkian sebuah wacana tentang hak-hak sipili warga  negara untuk menetap di mana pun tanpa diusik oleh warga lainnya. Ironisnya, banyak media konvensional yang mengklaim diri sebagai pemangku kasta tertinggi dalam dunia kerja jurnalistik, tidak sedikit pun menaruh kepedulian itu!!!! Berbagai sisi positif yang ditampilkan infotaiment, seperti keikutsertaan selebritis dalam gerakan sosial ke pantai asuhan dan berbagai macam kegiatan berkategori pro publik membuat infotainment semakin berwarna di tengah gempuran berita jurnslisme konvensional lainnya. Cukup pantas dan logik kah, bila kita menyamakan begitu saja antara infotainment dengan gosip???? Mengapa kita tidak protes saat televisi memberitakan penggerebekan Temanggung yang jelas-jelas merupakan sejarah paling fatal dalam jurnalisme modern????

Kasus Luna versus infotainment hanyalah riak kecil yang lazimnya terjadi dalam pola hubungan antara wartawan dan narasumber. Namun, perisitiwa itu layak dijadikan sebagai sebuah refleksi akhir tahun dalam rangka mengatur hubungan profesional antara wartawan infotainment dan artis. Artis sebagai figure yang diidolakan publik perlu memberi contoh tutur kata dan tingkah laku yang lebih baik sementara wartawan juga perlu membatasi diri untuk tidak memaksakan artis. Dengan sepotong gambar Luna Maya menggendong Alea, puteri Ariel, bukankah sudah banyak yang mau diungkapkan?????

Ia Pergi dalam Baju Kebesaran sebagai Nasionalis Sejati

Juli 26, 2008

In Memoriam Sophan Sophian

Sophan Sophian telah tiada. Berita itu datang begitu mengiris. Banyak kalangan tak percaya aktor sekaligus politisi ternama itu meninggal dunia. Sophan Sophian tewas dalam sebuah kecelakaan ketika motor Harley Davidson yang dikendarainya terperosok ke dalam lubang dalam perjalanan dari Ngawi, Jawa Timur menuju Sragen, Jawa Tengah, Sabtu (17/5/200 8) sekitar pukul 10.00 WIB. Sophan mengalami patah kaki dan tak sadarkan diri ketika di bawa ke rumah sakit Sragen, Jawa Tengah. Pemeran yang melejit namanya lewat film Pengantin Remaja itu menghembuskan napas terakhir.

Sophian pergi dalam baju kebesaran sebagai seorang pembalap. Tak disangka hobby mengendarai motor gede (moge) yang muncul di usia senjanya berujung tumbal dan ajal. Sophan mengikui konvoi Jalur Merah Putih dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Dalam konvoi yang diikuti ratusan kendaraan bermotor itu suami dari Widyawati ini mengenakan nomor urut lima. Saat melintasi hutan Widodaren yang terletak di antara Ngawi-Sragen motor yang dikendarai Sophan terperosok ke dalam lobang hingga nyawa si Raja Panggung era 70-an itu tak tertolong lagi.Tragis memang!

Tak ada firasat buruk atau sinyal duka yang hadir dalam benak isteri maupun keluarganya. Pria kelahiran Makasar 24 April 1944 itu hanya memberikan isyarat kepada rekan setianya Eros DJarot. Menurut Eros, dalam pertemuannya dengan sahabat kentalnya itu beberapa hari terakhir, Sophian lebih banyak diam. Eros tak percaya karibnya pergi di saat ia masih mengemban sebuah perjuangan besar bersamanya.

Dalam peristiwa naas itu, Widyawati sang isteri yang biasanya dibonceng tidak turut serta karena kondisi fisiknya cukup lelah. Widya sengaja memilih menumpang mobil rombongan. Sophan memang seorang suami yang cukup pengertian pada isterinya. Ia tak membiarkan anak-anaknya ditinggalkan kedua orangtuanya sekaligus. Makanya ia merelakan Widya tidak turut bonceng bersamannya. Sayang, pengertiannya itu menjadi kado terakhir yang paling pahit buat sang isteri. Ia meninggal dalam kesendirian, seakan tak mau disaksikan olehmata kepala isterinya sendiri.

Bagi mereka yang cukup memerhatikan perkembangan dunia film dan dunia politik nasional tentu nama putera dari pasangan Manai Sophian dan Munasiah Paiso ini bukan sosok baru. Ia mengawali karirnya sebagai artis ketika bermain sebagai pemeran pembantu dalam film Bunga-Bunga berguguran tahun 1971. Bakatnya yang luar biasa membuat Sutradara ternama Wim Umboh (almarhum) meliriknya untuk dipasangankan dengan aktris pendatang baru saat itu Widyawati dalam Film Pengantin Remaja 1971. Berturut-turut sejak itu, Sophian berperan dalam berbagai judul fim, seperti Cintaku Jauh Di Pulau (1971), Si Bongkok (1972), Perkawinan (1972), Perempuan (1973), Jauh Di Mata (1973), Sentuhan Cinta (1976), Jinak-Jinak Merpati (1975), Widuri kekasihku (1976), Letnan Harahap (1977), Bung Kecil (1978).

Dari panggung Sandiwara ia menyeberang ke panggung politik praktis. Keberuntungan tampak berpihak pada pria dengan kumis menawan ini. Pemikiran maupun gebrakan politiknya luar biasa berpengaruh hingga menghantarnya terpilih sebagai ketua Fraksi Partai Demokrasi Perjuangan (FPDI) di Senayan. Sandiwara yang terlampau jauh diperlihatkan kalangan politis membuat ia gerah dan kemudian mengundurkan diri dari ketua Fraksi partai berlambang banteng dengan moncong putih tersebut. Banyak pihak menyebutkan, mundurnya Sophan karena kekecewaan yang terakumulasi, antara lain, perberbedaan paham dengan Megawati akibat ulah orang-orang ”indekos” di PDI-P. Juga karena PDIP tidak mendukung pembentukan Panitia Khusus (Pansus) penyelidikan dana nonbujeter Badan Urusan Logistik (Bulog) di DPR.

Pasca kemundurannya, Ia sempat menujukkan kepiawaiannya berakrobat sebagai politisi layaknya dalam panggung sandiwara ketika ia tampil sebagai tim sukses Amien Rais-Siswono Yudhoyusodo sebagai Capres-Cawapres yang diusung PAN dalam pemilu 2004. Namun, loyaitasnya pada PDIP tak luntur begitu saja. Ia layaknya “anak hilang’ yang harus segera dijemput kembali. Tidak heran pada saat Konggres PDIP bulan Maret 2005 di Bali namanya masuk dalam bursa balon ketua DPP PDIP bersama dengan Megawati.

Namun pria yang dikenal vocal itu tetap konsisten dalam prinsip dan perjuangan politisnya. Tahun 2005 ia bersama Eros Djarot dan Roy B. B Janis mendirikan Partai Demokrasi Pembaharuan yang bercirikan ‘nasionalis dan pluralis’ sebagai koreksi atas kinerja PDIP. Partai tersebut diperkirakan bakal lolos dalam tahap verifikasi KPU sebagai salah satu partai yang bakal mengikuti perhelatan demokrasi 2009. Sayang, Sophan tak sempat menikmati perjuangannya. Ia seperti nasib nabi Musa yang hanya melihat Negeri Terjanji Kanaan dari balik Gunung Horeb. Dalam perjuangannya menengakkan sekaligus memberi spirit lahirnya nasionalisme di kalangan anak bangsa, Sophan menghadap yang Mahakuasa.

Pada penghujung hidupnya, sebagai seniman Sophan juga mengarahkan perhatiannya pada perkembangan perfilman tanah air. Ia sempat tampil sebagai salah satu Tim Juri dalam FFI 2005, yang saat itu mememangkan Film Brownies yang dibintangi Marzella Zalianty sebagai film terbaik. Keputusan FFI itu sempat mendapat komentar miring dari Produser Indika Entertainment Shanker Punjabi, yang menilai Dewan Juri mendapat sogokan dari sebuah rumah produksi. Sophan saat itu tampil luar biasa membela orisinalitas dan idependensi penilain dewan Juri. Dalam sebuah dialog, yang mempertemukan Dewan Juri dan Shanker, ia tak segan membentak Shanker Dalam dialog yang dipandu H. Ilham Bintang itu,Sophan tampil garang melabrak siapa saja yang menentang idenpendensi dan orisinalitas Dewan Juri.

Namun, belakangan di saat perang terbuka anatara Masayarakt Film Indonesia yang diusung kaum muda dan Badan Perfilman Nasional, sikapnya jarang dipantau media. Padahal, sebagai orang film kita perlu mendapat komentar terakhirnya.

Dari Pengantin Remaja hingga Love

Kiprah Sophan sebagai bintang film dan politisi memang telah banyak diakui sejumlah kalangan dan rekan-rekannya. Penampilan Sophan muda dalam film Bunga-Bunga berguguran tahun 1970 rupanya sangat berkesan bagi Sutradara ternama Wim Umboh (almarhum). Sewaktu menggarap film Pengantin Remaja, Umboh sengaja memasangkan Sophian dan artis pendatang baru saat itu Widyawati. Kerhasilan Sophian dan Widyawati dalam film itu melesakkan nama mereka sebagai ikon pujaaan remaja. Popularitas keduanya semakin lengkap manakala suguhan gita cinta dalam film mendapat artikulasi sepenuhnya dalam cinta dan perkawinan.

Sophan tercatat sebagai sosok yang berhasil mengawinkan kehidupan panggung sandiwara dan politik sekaligus. Selain tercatat sebagai anggota Partai Demokrasi Perjuangan (PDP), memori masa lalu digugah saat terjun sebagai bintang film Love bersama isterinya Widyawati. Dalam film yang disutradari Watimena itu, Sophan bersama Widyawati beradu ackting dengan sejumlah bintang baru, seperti Luna Maya, Darius Sinathrya, dan Laudya Chintya Bella dan Acha Septriasa dan Irwansyah. Film yang dirilis pertama kali pada perayaan Valentine 14 Pebruari 2008 itu memang tidak sempat booming, tetapi ada getar pengalaman masa silam yang bisa menautkan pasangan Sophan dan Widyawati dari pengalaman membintangi film itu. Dari film itu nama keduanya makin banyak dikenal generasi masa kini yang tak sempat mencicipi film Pengantin Remaja. Dan, yang paling utama mereka dinobatkan sebagai ikon pasangan yang menjadi suri tauladan perkawinan di kalangan selebritis yang dihimpit petaka kawin dan cerai saat ini.

Sophan tidak saja meninggalkan baju kebesarannya sebagai seorang artis, tetapi juga sebagai politisi berkaliber. Sosok yang tidak pernah ketinggalan zaman, terbukti ia mampu nimbrung bersama para penggila moge di usianya yang sudah cukup tua. Namun keterlibatannya bukan dalam ajang kebut-kebutan untuk mendapat pengakuan sebagai anak gaul, tetapi sebagai duta yang ingin mengumandangkan kembali semangat nasionalisme dalam diri anak bangsa. Ia gugur dalam baju kebesaran itu. Tidak berlebihan bila di usia seabad Kebangkitan Nasional, Sophan juga diberi baju kebesaran yang sama dengan Sang Pencetusnya Budi Utomo, yakni sebagai Pahlawan Pembaharuan Nasinalisme Indonesia!

In Memoriam Ali Sadikin

Juli 26, 2008

SANG ARSITEK METROPOLIS ITU GUGUR

Ali Sadikin atau yang akrab disapa Bang Ali telah berpulang. Penyakit komplikasi yang menderanya selama satu bulan terakhir merenggut nyawa anggota petisi 50 itu di Gleneagles Hospital Singapura Rabu (20/05/200). Kepergiaan Bang Ali terjadi justeru di saat-saat rakyat negeri ini sedang merayakan Hari Kebangkitan Nasional. Hanya dalam hitungan hari kita kehilangan sosok politis bersih, jujur dan konsisten setelah Sabtu (17/5/200 8) kita kehilangan Sophan Sophiaan. Dan seakan takdir belum mau beranjak SK Trimurti, isteri pengetik naskah proklamasi Sayuti Melik juga m,enghembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Gatot Subroto di hari yang sama.

Mendung duka itu belum juga beranjak dari Republik ini. Agaknya perayaan seratus tahun Hari Kebangkitan Nasional harus dibayar dengan harga yang mahal. Arwah para pejuang bangsa tampaknya masih berkeliaran membangunkan Indonesia dari tidur panjangnya selama seabad. Para pahlawan itu tampaknya kecewa pada pemimpin bangsa dan politisi Indonesia yang sudah mengkhianati perjuangan mereka. Roh leluhur bangsa itu tampaknya kini sedang gundah melihat praktek korupsi, kolusi dan nepotisme yang berurat-akar dalam mentalitas pemimpin bangsa, sehingga mereka mengirim sinyal peringatan untuk kita semua melalui kematian dua putera terbaik bangsa ini (Sophan Sophiaan dan Ali Sadikin) agar semangat nasionalisme dan perjuangan mengutamakan kepentingan rakyat bisa menjadi wacana segar dalam peringatan seabad Hari Kebangkitan Nasional.

Ali Sadikin atau Bang Ali adalah mantan gubernur DKI Jakarta periode (1966-1977). Ia berjasa besar dalam membesarkan Kota Jakarta. Pada masa kepemimpinannnya, kota Jakarta yang dikenal kumuh disulap sebagai salah satu kota yang indah dengan bangunan-bangunan kota yang apik dan teratur. Selain bangunan sejumlah tempat-tempat hiburan rakyat, seperti Taman Ismail Marzuki, Kebun Binatang Ragunan, Proyek Senen, Taman Impian Jaya Ancol, Taman Ria Monas, Taman Ria Remaja, kota satelit Pluit di Jakarta Utara, pelestarian budaya Betawi di kawasan Condet, dll.

Selain pembangunan fisik ia juga menghidupkan sejumlah kesenian tradisonal Betawi. seperti kerak telor, ondel-ondel, lenong dan topeng Betawi, dsb. Kiprahnya sebagai gubernur dan gebrakan-gebrakan pembangunan yang dilakukan pada masa kepemimpinannya membuat ia menjadi satu-satunya gubernur yang mendapat simpati luar biasa di mata warga ibukota hingga saat ini.

Ali sadikin dilahirkan di Sumedang, Jawa Barat 82 tahun lalu. Letnan Jenderal KKO-AL (Korps Komando Angkatan Laut) yang ditunjuk oleh Presiden Soekarno menjadi Gubernur Jakarta pada tahun 1966. Sebelumnya, ia pernah menjabat sebagai Deputi Kepala Staf Angkatan Laut, Menteri Perhubungan Laut Kabinet Kerja, Menteri Koordinator Kompartemen Maritim/Menteri Perhubungan Laut Kabinet Dwikora dan Kabinet Dwikora yang disempurnakan di bawah pimpinan Presiden.

Salah satu kebijakan Bang Ali yang kontroversial adalah mengembangkan hiburan malam dengan berbagai klab malam, mengizinkan diselenggarakannya perjudian di kota Jakarta dengan memungut pajaknya untuk pembangunan kota, serta membangun kompleks Kramat Tunggak sebagai lokalisasi pelacuran. Di bawah kepemimpinannya pula diselenggarakan pemilihan Abang dan None Jakarta.Soekarno. Ali Sadikin menjadi gubernur yang sangat merakyat dan dicintai rakyatnya.

Setelah dipecat dari jabatannya sebagai Gunernur, Bang Ali masih tetap berjuang sebagai politisi. Ia tercatat sebagai ketua petisi 50 yang suaranya cukup disegani oleh presiden Soeharto. Ia memilih sikap berseberangan dengan pemerintah bahkan terkesan memusuhi Soeharto karena kebijakan pengolahan pemerintahan yang dianggapnya telalu top-down. Sikapnya yang berseberangan dengan pemerintah membuatnya tidak pernah menginjak lagi istana negera selama puluhan tahun. Soeharto pun mencatat namanya sebagai salah satu pembangkang.

Nama pria kelahiran Sumedang 7 Juli 1927 ini baru dipulihkan pada masa pemerintahan Megawati Soekarnoputeri. Di masa kepemimpinan Puteri Sokearno ini, ia mendapat penghargaan dan menerima Bintang Mahaputera Adipradana atas jasanya membangun kota Jakarta. Didampingi isterinya Linda Mangaan dan putra bungsunya, Yasser Umarsyah ia memberikan pidato selama 20 menit. Boleh jadi tanggal 14 Agustus 2004 itu dicatat Ali sebagai hari bersejarah, sebab selama hampir 37 tahun ia tidak pernah memasuki lagi istana kepresidenan itu.

Sosok yang Keras dan Tegas

Di masa tuanya, Ali boleh jadi merasa kecewa atas berbagai kebijakan tata ruang perkotaaan yang amburadul. Pemukiman kumuh yang berkembang di hampir setiap pelosok kota dan kemacetan yang merjalela. Namun, ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi

Ketika Sutiyoso berniat mengikuti langkah yang ditempuh Bang Ali, ternyata respon masyarakat berbeda. Banyak masyarakat yang menentang rencana Bang Yos. Menurut Bang Ali, situasi sekarang rakyatnya sudah lain. Sekarang kenyataannya sudah rusak akibat politik dan segala macam. Sehingga masyarakat makin tidak terkendali. DPRD dulu lain dengan sekarang. Sekarang juga ada LSM dan segala macam.

Ketika reformasi bergulir kondisi fisik Bang Ali mulai lemah. Ia tidak bisa lagi berolahraga angkat besi, kegemarannya. Pendengarannya pun mulai menurun. Bahkan ia sempat memakai alat bantu dengar di telinga karena berkurangnya fungsi pendengaran yang berkaitan dengan penyakit ginjalnya. Satu bulan lalu kondisinya makin kritis sehingga pihak keluarga membawanya ke rumah sakit Gleneagles Hospital Singapura. Setelah terbaring selama sebulan, Bang Ali akhirnya menghembuskan napas terakhirnya. Tragisnya, kepergiaan anggota Petisi 50 ini justeru terjadi bertepatan dengan perayaan seratus tahun hari Kebangkitan Nasional RI dan keadaan kota Jakarta yang amburadul. Kepergiannya setidaknya menjadi momentum refleksif bagi para pemimpin kota Jakarta di masa mendatang!

Menakar Tiga Pasangan Calon Gubernur NTT

Juli 26, 2008

Suhu politik NTT saat ini sedang panas. Tiga pasangan cagub-cawagub (Ibrahim Maedah-Paulus Moa, Frans Lebu Raya-Esthon Foenay, dan Gaspar P Ehok-Yulius Bobo) sedang berjibaku menjual program strategis demi menarik simpati rakyat. Masing-masing pasangan calon memiliki selling point yang diharapkan bisa merebut suara dalam pilkada tanggal 14 Juni mendatang. Tentu janji-janji politik yang dikemukakan perlu dibaca dari trade record masing-masing pasangan untuk dipahami apakah janji yang dikemukakan dalam pilkada sekedar lips service atau memang komitment politik yang akan mereka perjuangkan bila memimpin NTT kelak.

Sejauh pengamatan saya, dari tiga pasangan calon yang paling realistis menjual programnya adalah pasangan Gaspar P. Ehok-Yulius Bobo. Pasangan ini patut diacungi jempol, sebab mereka tidak sekedar bicara melainkan sudah memiliki ide dan strategi yang dipersiapkan sejak awal. Buktinya, sebelum terjun berkampanye mereka sudah meluncurkan buku putih untuk pembangunan NTT selama liam tahun ke depan. Hasilnya, materi kampanye mereka tidak meleset dari grand design yang telah ada sebelumnya.

Dua calon lain terkesan begitu kelabakan saat kampanye tiba. Mungkin karena kurang percaya diri pasangan Ibrahim A Maedah-Paulus Moa mengumbar janji pendidikan dan kesehatan gratis bagi masyarakat NTT. Mustahil bila Ibrahim Maedah-Paulus Moa mampu mewujudkan hal ini mengingat kondisi NTT yang serba minus. Jangankan pendidikan gratis, kesehatan masyarakat pun tak kunjung membaik. Kasus busung lapar hampir setiap tahun terjadi. Mustahil mewujudkan impian dua kampiun Golkar ini bagi NTT dalam masa lima tahun mendatang.

Sementara Frans Lebu Raya-Esthon Foenay gencar mengkampanyekan tiga peningkatan kualitas SDM, kesehatan dan pengembangan ekonomi rakyat. Program yang dikemukakan Frend tampaknya hanya melanjutkan program Tiga Batu Tungku yang digagas Piet A Tallo. Sebagai wakil gubernur NTT saat ini, tentu mudah saja bagi Frans Lebu Raya membicarakan hal itu sebab sudah menjadi makanan sehari-harinya selama kurang lebih lima tahun mendampingi Piet A Tallo. Pertanyaannya, bila memang Frans seorang pemimpin yang berdedikasi, mengapa mengapa selama masa jabatannya tidak banyak perubahan yang dialami rakyat NTT.

Apesnya saat Frans Lebu Raya dan Ibrahim A Maedah sedang asyik menjual janji-janjinya, KPK saat ini sedang memeriksa berkas dugaan korupsi dua oknum ini. Bukan basa-basi jika dua calon gubernur ini bila terpilih akan melanjutkan kultur korupsi yang menjamur di kalangan birokrat NTT

Gaspar P Ehok-Yulius Bobo, mungkin cukup realistis. Mengingat kondisi NTT sebagai propinsi dengan tingkat korupsi nomor empat nasional, keduanya menggagas manuver hebat, yakni berupaya membersihkan korupsi di kalangan birokrat di NTT. Menurut Gaspar, korupsi merupakan salah satu penyebab kemiskinan NTT, karena itu peningkatan kesejahteraan rakayt mau tidak mau harus berangkat dari kalangan birokrat. Bila birokrat korup maka rakyat akan tetap miskin…Walahualammm….

Bila menilik program-program yang diajukan masing-masing calon (tentu tidak semuanya dikemukakan di sini) serta trade record masing-masing pasangan tentu Gaspar dan Yulius adalah pasangan yang ideal memimpin NTT di masa datang. Jadi untuk apa NTT memiliki pemimpin muda kalau bermental korup!


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.