SUKU MOTU POSO DALAM LINTASAN SEJARAH

Januari 9, 2010 oleh Irenius Lagung

Catatan Kasar Sejarah Suku Motu Poso, Rongga, Manggarai


Suku Motu Poso merupakan suku pertama dan utama yang ada di wilayah Rongga Ma’ bha. Nenek Moyang Suku Motu Poso, menurut cerita lisan yang berkembang, konon, berasal dari Wilayah Sumatera Barat ( Minangkabau). Gejolak sosial yang terjadi di wilayah Minangkabau sekitar abad ke (?) memaksa sebagian masyarakat melarikan diri ke sejumlah wilayah di Indonesia. Salah satu tempat tujuan pengungsian mereka adalah sepanjang pesisir Laut Sawu, Flores, termasuk Loko Ture, wilayah pantai selatan Manggarai Timur, sekitar 15 km dari Kisol.

Dalam tradisi lisan dikisahkan bahwa nenek moyang Suku Motu Poso adalah Weka dan Ture. Dua bersaudara ini masuk ke tanah Rongga dalam kurun waktu yang berbeda. Dari negeri asalnya Minangkabau, Weka melarikan karena menolak menikah dengan gadis pinangan orangtuanya (puteri sang Paman). Weka bersama gadis pilihannya bernama Motu akhirnya memutuskan untuk meninggalkan tanah Minangkabau menuju Loko Ture. Dari Miangkabau Weka berlayar melewati Pantai Selatan Jawa dan kemudian memilih mendarat di Loko Ture, Manggarai Timur Selatan.

Kepergian Weka kemudian diikuti Ture, sang adik.  Kisah perjalanan Ture meninggalkan daerah Minangkabau menuju Loko Ture berlangsung dalam suasana penuh dramatis.  Gelombang dan badai memaksa Sampan (Kowa ) yang ditumpangi Ture mengalami kebocoran di Laut Selatan Jawa.  Beruntung Ture diselamatkan oleh para nelayan dari pesisir pantai selatan Jawa.  Namun upaya pertolongan yang dilakukan pelaut Jawa itu rupanya membawa petaka bagi Ture. Ia ditawan hanya karena salah mengucapkan sebuah kata (puki) yang membuat para pelaut Jawa tersinggung.

Impian Ture untuk menyusul kakaknya Weka  hampir saja kandas di tangan pelaut Jawa. Namun pada suatu malam dalam mimpinya, Ture mendapat pentunjuk untuk menyusuri jejak sang kakak. Dalam mimpinya Ture bertemu dengan ikan paus raksasa yang kemudian menjadi Dewa Penyelamat dan penunjuk jalan baginya menuju tempat di mana sang kakak berada. Ture diminta untuk menunggang ikan Paus menuju tempat kediaman sang kakak dengan bekal tujuh buah ketupat dan tujuh duri dari pohon Jeruk asam.  Maksudnya bila selama perjalanan Ture merasa gerah, ia boleh memberi isyarat dengan menusukan duri jeruk asam pada punggung sang ikan untuk menenggelamkan diri dari permukaan laut. Demikian juga bila ia sudah merasa dingin,ia bisa menusuk kembali duri jeruk asam agar sang ikan mengangkat punggungnya ke atas permukaan air.

Berbekalkan tujuh buah ketupat dan tujuh duri jeruk asam Ture mampu menyeberangi gelombang dahsyat Laut Selatan Jawa menuju Laut Sawu hanya dalam waktu tujuh hari tujuh malam dan tiba dengan selamat di Loko Ture, tempat yang semula menjadi tujuan kedatangan kakaknya Weka. Dalam perpisahannya dengan ikan Paus Ture mendapat hadiah dalam bentuk sebuah pedang istimewa yang dimuntahkan dari mulut sang ikan sebagai bekal untuk melawan musuh dan mencari nafkah.

Selama sekian lama ia menetap dan mencari nafkah di Loko Ture serta menjalin interaksi dengan manusia Proto Rongga yang bermukim di sekitar wilayah pantai selatan. Perjumpaannya dengan manusia Rongga memuluskan jalannya untuk menemukan jejak atau keberadaan Weka, kakaknya.

Saat itu Weka yang sudah menetap di Sari Kondo tidak yakin akan rumors kedatangan adiknya itu. Rumors kencang, yang menceritakan kedatangan adiknya mendorong Weka untuk mendatangi sang adik. Semula Weka masih menaruh curiga akan keberadaan sosok adiknya itu. Dalam hatinya Weka berpikir, “ Jangan-jangan sosok pemuda yang berada di depan matanya adalah penyamar yang bisa berubah menjadi ancaman serius bagi keselamatan jiwanya”. Weka kemudian melakukan investigasi terhadap Ture hingga pada akhirnya ia benar-benar yakin setelah Ture menceritakan tentang keberdadaan sanak saudara mereka di Minangkabau serta sejumlah kisah kebersamaan mereka selama di negeri asal.

Setelah Weka cukup yakin dengan sosok yang berada di depan matanya adalah adik kandungnya sendiri, maka terjadilah sebuah adegan dramatis yang mengharukan. Kakak beradik itu berpelukan disertai isak tangis.  Pesisir pantai Loko Ture pun menjadi saksi sejarah. Kisah perantauan dua bersaudara itu terpatri dalam sebuah syair Vera (tarian khas orang Rongga)

Weka Ture ndhili mai/saka longgo tolo ngembu
Weka Ture ndhili mai/tu monggo Sari Kondo

Selain versi suku Motu, beberapa suku di Tanah Rongga  dalam kisahnya menyebutkan bahwa nenek moyang mereka berasal dari Pulau Sawu (Sabu). Dikisahkan bahwa leluhur mereka semula menetap di Sumba, lalu Pindah ke Pulau Ende dan selanjutnya mengembara sepanjang pesisir Pantai Selatan, mulai dari Ende hingga Tanah Rongga. Jika ditelusuri dari segi bahasa memang suku-suku yang mendiami wilayah ini memiliki kesamaan bahasa. Sebagai contoh, masyarakt dari pseisir Ende hingga tanah Rongga menyebut kata pantai dalam bahasa daerah dengan kata Ma’u. Dalam buku Manggarai Mencari Era Pencerahan Historiographi, Dami Dandu Toda, mengemukakan bahwa Wilayah sekitar Loko Ture ini pernah menjadi persinggahan sebagian suku Sawu yang kemudian memilih menetap di kaki gunung Mando Sawu, yang kemudian menjadi cikal bakal lahirnya suku Ngkuleng di Lambaleda dan Ruteng.

Kisah yang berkembang secara turun temurun itu dikukuhkan dalam upacara/ ritus adat seperti Pau Manu, Pau Wawi, dan Pau Kamba. Dalam acara-acara itu, nama Ture dan Weka selalu disebut turunan Suku Motu sebagai nama pertama mendahului nama nenek moyang lainnya.

Hingga hari ini belum ada penelitian tentang asal usul orang Rongga.  Namun dari mitos-mitos yang berkembang di kalangan suku-suku yang berada di Tanah Rongga menyebutkan bahwa Weka dan Ture adalah nenek moyang suku Motu. Ada dua dugaan bahwa, ketika Weka dan Ture datang ia mengadakan kontak dengan suku asli (Proto Rongga), juga suku Sabu dan Sumba. Interaksi dengan suku-suku yang berada di wilayah Rongga menimbulkan hubungan kekerabatan di antara suku-suku tersebut.

B. PERPECAHAN SUKU MOTU PASCA WEKA-TURE

Weka dan Ture setelah mendarat di Loko Ture menetap bersama di Sari Kondo. Karena hidup masih mengandalkan hasil hutan, mereka akhirnya berpindah dari satu tempat ke tempat lain, seperti Nunu Wula, Wolo Poso, Nua Nangge (Loko Ture). Periode ini merupakan masa-masa bulan madu bagi kakak beradik itu. Keduanya pun mengembangkan keturunan di Tanah Rantau. Weka bersama Motu, gadis yang dibawanya dari Tanah Minang memiliki empat orang putera, sedangkan Ture yang menikah dengan gadis lokal dianugerahi tiga  orang putera. Dari Weka dan Ture inilah muncul nama suku/klan Motu. Nama tersebut diadopsi dari isteri Weka yang pada generasi awalnya masih lekat dengan kultur matrilineal Minangkabau.

Generasi awal turunan Weka dan Ture semula benar-benar  menjaga kekompakan. Semangat gotongroyong dan kekeluarga menjadi ciri kehidupan yang sangat menonjol. Setelah generasi Weka dan Ture Meninggal terjadilah perpecahan di antara mereka. Peristiwa perburuan kera di sekitar wilayah Wae Motu berbuntut perpecahan dua keluarga ini. Persoalannya sangat sepele, yakni hanya gara-gara tidak kebagian kuah daging kera. Drama perpecahan itu terlukis dalam patah/ syair vera di Nunu Wula:

Motu Woe Lima Z dhua/ Embu Mea Sunggisina
Motu Woe Lima Z dhua/ Embu Mea Amewea
Motu Woe Lima Zdhua/ Bheka Tange Wae Kode

Setelah periode itu, keturunan Weka dan Ture mulai terpisah. Keturunan Weka lebih banyak berorinetasi mencari nafkah ke arah Timur hingga Aimere dan Were di wilayah kabupaten Ngada (Untuk menyingkap penyebaran suku Motu ke wilayah Ngada dibutuhkan sebuah penelitian yang serius). Sementara keturunan Ture memilih mencari nafkah dan menetap di wilayah Barat, Wolo Ndeki.  Pepecahan kedua keluarga ini juga berpengaruh pada ikon-ikon yang dipakai sebagai simbol kebanggaan keluarga. Keduanya bersaing baik dalam kekayaan maupun kharisma. Persaingan itu tampak dalam pemilihan nama kuda kebanggaan dari masing-masing keluarga, seperti dalam syair Vera berikut:

Jara nga’zha Kolo Ndasi/ le’dha lo’dhe Sunggisina
Jara nga’zha Keka Motu/ le’dha lo’dhe Amewea

C.  GENERASI AMEWEA & HAK ULAYAT

Amewea, keturunan Ture, memilih menetap di Rongga bagian Timur. Amewea memiliki tiga orang putera, yakni ________, _________, dan Mangi. Turunan Mangi selanjutnya disebut dengan suku Motu Motu Poso (karena mereka pernah mendiami wilayah Wolo Poso).  Persaiangan di antara tiga bersaudara ini menyebabkan perpecahan.

Mangi sebagai putera Amewea memiliki kharisma kepemimpinan warisan ayahnya. Ia dan keturunannya mendiami gunung (wolo) Ndeki dan berpindah-pindah pemukiman serta lahan garapan. Dominasi suku ini cukup terasa di wilayah ini. Ia memainkan peranan utama di wilayah Rongga bagian timur yang lebih dikenal denmgan istilah Rongga Ma’bha.

Selain dihormati karena dianggap sebagai pimpinan suku, Suku Motu Poso berperan vital menjaga kedaulatan wilayah Rongga Ma’bha. Pada abad  (?) Suku Keo dari Wilayah Nagekeo datang dan bermukim secara damai di wilayah ini. Kedatangan suku ini semula dianggap sebagai sahabat. Namun setelah jumlah mereka makin banyak, suku dari wilayah Nage Keo ini mulai menentang adat istiadat yang berlaku di wilayah Rongga. Konflik sosial pun pecah karena orang Rongga yang merasa sebagai tuan tanah tidak dihargai. Dibawa pimpinaan Meka Kumi dan Meka Nggere dari suku Motu Poso terjadilah peperangan dahsyat di tanah Rongga.

Sejumlah orang Keo terbunuh dan sisanya melarikan diri ke wilayah asalnya. Salah seorang Pimpinan pasukan Keo bernama Laki Tara tewas terbunuh di  Wolo Redi, di wilayah sekitar Pandu, Lembur sekarang. Hingga hari ini gunung yang tujuh tahun lalu (2002) gundul untuk kepentingan lahan pertanian itu, dikenal dengan sebutan Wolo Tara sebab di situlah pimpinan pasukan Keo dikuburkan.

Hingga hari ini bukti kekalahan orang Keo di Tanah Rongga tampak dalam sejumlah pekuburan di daerah Borong dan sekitarnya, seperti di Kampung Golo ( Wae Reca), Golo Karot, Kota Ndhora, Lesa Kuku sebelah atas Lia Mbala dan sejumlah tempat lainnya. Pekuburan itu ditandai dengan batu  bersegi yang ditancapkan membentuk sudut 90 derajat.

Sebagai bentuk ucapan terima kasih atas keberhasilan suku Rongga mengalahkan Keo, Suku Tanda yang saat itu menjadi pemegang hak ulayat di  wilayah pantai selatan hingga Wae Musur menghibahkan sebagian wilayah ulayatnya untuk suku Motu Poso dengan batas-batasanya sebagai berikut:

Bagian Timur :

Toko Ika – Tanah Bara – Muku Lia – Tiwu Toro – Woa Kowe – Alo Ila –Watu Sila –Wolo Maghi – Loa Keti/ Mbaru Jawa – Ndheru Wowo ( wolo Sika) – Moko Loko – Kora – Ngamba Sapi – Bheto Londo ( sekolah baru Leke) – Kolu Kawe/i – Wae Ku

Bagian Utara

Wae Ku – Watu Nepa/ Wae Sele – Koka – Leni – Wolo Tara – Mbela Turi – Wae Namba – Wae Sati, Sambi  Nggoko – Peot – Mondo – Watu Mori

Batas Barat

Watu Mori ( Paka- Sita) – Wae Musur- sampai Pantai Selatan

Batas-Batas  Wilayah Motu Poso dengan wilayah Ulayat lainnya:

Toko Ika – Kora,  berbatasan dengan wilayah ulayat Suku /Tanah Tanda. Penguasa Ulayat  Pius Ndoi

Kora  – Wae Ku berbatasan dengan wilayah ulayat Suku Woko Pau, Penguasa ulayatnya Deus Melang

Wae Ku – Bela Turi berbatasan dengan wilayah ulayat suku Weru, Penguasa Ulayat  Pettu Jangga

Bela Turi –Sambi Nggoko, berbatasan dengan wilayah ulayat suku suka Ndare, penguasa ulayat Yoseph Sole

Sambi Nggoko – Peot – Mondo, berbatasan dengan wilayah ulayat suku Mendang Riwu,……

Mondo -Wae Laku – Wae Musur berbatasan dengan wilayah ulayat suku Kempos Sita, pemegang hak ulayatnya  Ande Cendol

Wae Musur- muara hingga Pantai Selatan berbatasan dengan wilayah ulayat Suku Torok Golo, pemegang hak ulayatnya Cuwik dan Uwik.

Sebagai tanda bahwa orang Rongga pada masa itu benar-benar menguasai wilayah itu, hingga kini ada sejumlah tempat di wilayah Borong hingga Wae Musur yang dinamai dengan nama-nama Rongga. Namun karena pengaruh suku Mangarai sejumlah tempat mengalami pergantian aksen, seperti berikut ini:

Rongga                                  Manggarai

Sepi Watu                           Cepi Watu
Toka                                         Toka
Jawa                                       Jawang
Tanah Rongga                Golo Mongkok
Wae Resa                             Wae Reca
Wae Bobo                               Wae Bobo
Mboro                                    Borong
Watu Ipu                                Watu Ipu
Wolo Kolo                              Wolo Kolo
Tanggo                                   Tanggo
Weja Kalo                              Wejang Kalo
Watu Nggo                        Watunggong
Leke                                        Lekeng
Sambi Donga                       Sambi Donga
Mbo Ndei (Rumah Mbupu Ndei)

Tak lama setelah mengalami kontak dengan suku Sumba di wilayah Tanggo dan Borong Suku Motu Poso memberikan mandat kepada suku yang diangkat sebagai ana fai itu untuk menjaga tanah ulayat di wilayah barat hingga Wae Musur.

Rongga memang bak tanah terjanji yang menjadi incaran semua suku di Flores Tengah saat itu.  Setelah Keo berhasil diusir pada sekitar abad 17, Kerajaan Todo dalam upaya ekspansi wilayahnya datang dan bermukim di wilayah itu. Sama seperti kedatangan orang Keo pertama kalinya, Todo pun datang ingin menguasai Tanah Rongga. Kedatangan mereka di bagian barat Rongga berlangsung secara damai melalui  ikatan perkawinan. Mereka menghadiahi seorang gadis bernama Ndhari kepada Pua dari Suku Motu Poso.

Todo rupanya menyimpan strategi terselubung dibalik perkawinan itu.  Mereka ingin menguasai wilayah Rongga Ruju (Komba). Saat itu wilayah ini menjadi satu-satunya wilayah yang sulit dilewati karena kekuatan pasukan perangnya. Selama puluhan tahun Todo terlibat peperangan melawan Komba, namun hasilnya sia-sia. Sepanjang musim mereka terpaksa menggarap tanah di sekitar Loko Ture dalam rangka mengawasi pergerakan Komba. Namun Komba bak batu karang yang susah ditaklukkan. Singkatnya jika Todo ingin menaklukkan Komba mereka harus berhasil melewati sebuah lorong terjal di sekitar wilayah Tandu Nunu yang menjadi pintu utama menuju benteng Komba.

Pada masa-masa menjelang kehancuran Komba, hubungan antara Todo dan Rongga Mabha sudah terjalin erat berkat perkawinan Pua dan Ndari. Todo akhirnya berhasil membujuk beberapa orang Rongga Mabha untuk mencari tau cara mengalahkan Komba. Hubungan kekerabatan yang sudah terjalin erat memuluskan Todo memperoleh informasi vital dari pihak Rongga Mabha tentang lorong misterius menuju benteng Komba.

Setelah mengetahui jalan menuju benteng Komba, Todo mulai melakukan penyerangan terhadap Komba. Perang yang disebut Bheka Komba II itu melibatkan sejumlah kaum perempuan Komba. Setelah hampir semua lelaki Komba terbunuh, pihak perempuan tak mau ketinggalan. Mereka melakukan strategi ala Perang Puputan untuk mengalahkan Todo. Ratusan orang Todo tewas di tepi jurang Wolo Komba. Namun, Komba sudah hancur nyaris tak bersisa dan menderita kekalahan total. Para pejuang Todo pergi membawa pulang sejumlah gadis cantik dari Komba ke Todo untuk dijadikan isteri.  Sampai sekarang antara Todo dan Komba terjalin hubungan kekerabatan selaku ana haki dan ana fai. Komba sebagai pemberi gadis bertindak sebagai ana haki, sementara Todo sebagai anak fai (penerima gadis).

Setelah menjadikan Rongga secara keseluruhan sebagai mitranya, Todo melakukan ekspansi hingga wilayah Watu Jaji, Ngada. Selanjutnya dalam upaya menancapkan kekuasaannya  di Manggarai dengan bantuan pahlawan Rongga, Jawa Tuu dan Nai Dewa, Todo menaklukkan Cibal. Dari sejarah penaklukan dan perkawinan itu kekuasaan dan pengaruh Todo di Manggarai berjalan hingga akhir masa orde baru berbakat strategi perkawinan.

Hubungan Todo dengan Rongga Ma’bha berlangsung hingga periode  1966. Todo selaku pemeri gadis bertindak sebagai ana fai sementara Motu Poso  sebagai ana haki (penerima gadis).

KISAH LODO  KEMBO KENDA

Perkawinan Pua dengan gadis Todo bernama Ndhari melahirkan Ndhesa dan Taso.  Ndesa dan Taso kemudian memilih menetap di wilayah Kenda dan Kembo. Pembukaan Lodo Kenda dan Kembo itu  ditandai dengan Vera selama sembilan hari sembilan malam. Hingga kini cakupan wilayah Lodo Kenda dan Kembo itu masih tergambar jelas dalam sebuah ungkapan (pata’) Vera:

DAPU LAU SA’DHA DHA’DHA
SORO MA’E NGGUTI  NGGUMI
KEMBO NE KENDA
MENDU DHEU MEDHE NDE

Hasil panen dari Lodo Kenda ini sangat berlimpah. Pare Dhupa (bulir padi yang terbungkus daun) menjadi simbol kesuburan wilayah ini. Dalam kebiasaan orang Rongga jika hasil panennya melimpah seperti itu, maka sang pemilik mesti mengadakan upacara syukuran dalam bentuk Vera. Weka dan Taso mengadakan Vera selama sembilan malam. Salah satu ungkapan (pa’ta) Vera yang masih dikenal di kalangan suku Motu Poso hingga sekarang adalah:

NGGO’TI UMA KEM’BO NGGO’TI TEM’BU
DHE’A DHA’LE KENDA DHE’A MEMA
LA,I KERI KENDA LA,I LEWA
NGHUM’BU SA’O TASO NGHUM’BU RAO

Setelah masa keemasan dalam arti kesuburan Kenda dan Kembo mulai menurun, turunan Meka Ndhesa, yakni Meka Kako pindah ke Rone. Kako memperanakkan Lajo, Monggo dan seorang perempuan bernama  Nau. Nau kemudian menikah dengan Weka dari Suku Kelok Waerana. Anak pertama Nau adalah Epa. Dalam budaya Rongga, setiap anak lelaki pertama dari pihak perempuan harus kembali ke suku asal ibunya. Epa yang ayahnya berasal daru suku Kelok mesti kembali ke pihak anak haki (Suku Motu Poso). Saat itu Epa diasuh oleh paman tertuanya Ladjo dan kemudian menikah dengan Meo Timu, anak semata wayang  Monggo, Paman bungsunya. Perkawainan Epa dan Meo Timu melahirkan Golo. Golo menikah dengan Nau melahirkan Kanis Jaik. Kanis Jaik kemudian menikah dengan Maria Baghong melahirkan Piet Sambut, Adol, Agus dan Natus.

Setelah Meo Timu meninggal Epa menikah lagi dengan Kasih. Perkawinan mereka melahirkan Simon Sarong, Ondi, Elu dan Jalo. Setelah Kasih meninggal, Epa menyunting gadis remaja bernama Meo dari suku Sedhza. Perkawinan ketiganya ini melahirkan Salesius Sende, Au, Jaja, Edel, Indah, Inggo, Lalu, Kaja.

Hingga masa Epa hubungan kekerabatan antara Todo dan Rongga masih terjalin. Hubungan kekerabatan Todo dan Motu Poso ini kemudian dilanjutkan oleh Mbadu (Suku Motu Pumbu). Namun sebelum Mbadu mendapatkan gadis Todo, ia sempat ditolak mentah-mentah karena dianggap tidak sepdan dengan rahang Todo.  Mbadu baru mendapatkan gadis pujaannya atas jaminan Epa.

Meski demikian, Todo tidak melupakan suku Motu Poso. Pada masa pihak kerajaan menanamkan pengaruh kerjaannya dengan membentuk pemerintahan kedaluan, melalui dalu Japi dari suku Tanda, Todo memeberikan mandatnya pada Epa (yang seharusnya memiliki hak atas jabatan itu karena memangku jabatan Tuan Tanah). Namun Epa menolak tawaran itu, lantas menyerahkan jabatan itu pada Mbadu. Selanjutnya untuk memperkuat hubungan kekerabatan dengan Todo putera Mbadu, Yoseph Pandong menikah dengan Maria Ndudek. Kendati demikian, pada masa Epa kiblat dan ikatan emosional orang Todo lebih tertuju pada suku Motu Poso.

Setelah kematian (Fransiskus Xaverius) Epa tahun 1966 hubungan kekerabatan dengan Todo mulai renggang apalagi pemerintahan kerajaan (Dalu) sudah ia serahkan Ke Mbadu yang diperkuat pada periode kepemimpinan puteranya Yoseph pandong. Kehilangan Epa praktisnya pengaruh suku ini terpangkas akibat sistem pemerintahan Kedaluan yang diperkuat dengan UU tentang pemerintahan Desa yang memaksa pemerintahan adat terdesak dan kehilangan pengaruh.

Kini di bawa panji reformasi, kendati ada indikasi post power syndrome dari kalangan tertentu,  Suku Motu Poso, mulai menegakkan kembali eksistensi dan pengaruhnya atas tanah Rongga Ma’bha dan hendak meluruskan sejarahnya sebagai suku terhormat dan pemegang hak ulayat.

D. WILAYAH PEMUKIMAN & LAHAN GARAPAN SUKU MOTU POSO SEJAK MASA WEKA-TURE HINGGA EPA

Masa Ture dan Weka

SARI KONDO  – NUNU WULA – WOLO POSO -NUA NANGGE / LOKOTURE )

Masa Mangi dan Lando hingga generasi Wawi dan Manu meliputi wilayah-wilayah sebagai berikut:

Nua Nangge, ghe’bho, Rambu, Kere Angi dan Rone.

Masa KUMI- PEMBA – FUA, wilayah garapan di NUA KOTA,  NUA NGETHA, BENTENG MUNDE

Masa ini merupakan masa-masa perang hingga pada waktu itu dibangun Benteng  NUA KOTA, BENTENG MUNDE,  BENTENG EMBU NGIU, BENTENG KOPO NGGERE. Pada masa itu Meka Kumi dan Nggere serta Kio menjadi pahlawan yang paling berpengaruh. Kumi dikenal dengan jargonnya( pasi) Kumi Keto Tolo Tenda, sementara NGGERE saudara sepupunya dikenal dengan pasinya Nggere Lalo Ndeki. Sedangkan Kio dengan jargon ( pasi) Kio karo munde.

Generasi Ndesa dan Taso masih menggarap di wilayah ini dengan MEMBUKA LODO KENDA  & KEMBO

Generasi Kako, Lajo dan Epa kemudian kembali lagi ke Rone.

Epa hingga anak-anak dan cucunya kemudian menetap di Watunggong (Watu Nggo).

E. HUBUNGAN KEKERABATAN SUKU MOTU POSO ENGAN SUKU-SUKU LAIN:

Pada masa nenek moyang perkawinan dilakukan antara dua anak saudra sekandung. Hal itu bisa terlihat pada perkawinan antara Ndeki dan Manu. Pada masa itu dikenal dengan ungkapan sio ne tai ae nggoli mae ndehu. Untuk memperkuat suku, anak perempuan yang menikah dengan laki-laki dari suku lain, diwajibkan menyerahkan putera sulung lelakinya kepada suku asalnya. Hal ini terjadi pada anak Sulung Nau dan isteri Weka dari Suku Kelok yang mengembaliklan Epa kepada Suku asalnya.

Namun ada juga yang kawin dengan suku-suku luar yang turut memperkuat kekerabatan dengan suku lain dalam hubungan ana fai dan ana haki, seperti:

1. Suku Sui sebagai ana haki dari Suku Motu Poso. Karena hubungan perkawinan pada masa nenek moyang Suku Motu Poso menghibahkan sebagian tanah untuk suku ini di  Suku Kiu, yang kemudian dijadikan sebagai kawasan gembala (wota) oleh suku ini. Tempat ini disebut Wota Adzhe Kua.  Pada generasi nenek moyang apabila suku-suku berburu dan tidak mendapatkan buruannya, mereka akan singgah di tempat ini untuk potong kerbau.

2. Suku Sawu ana haki dari Suku Motu Poso. Karena hubungan perkawinan Suku Motu Poso memeberikan sebidang tanah di Tere Angi ( bagian atas Kenda)

3.    Suku sedzha sebagai ana haki dari Suku Motu Poso.

4.   Suku Motu sebagai ana Haki dari Suku Motu Poso.

F. SUKU MOTU POSO PASCA EPA

Pemerintah kedaluan dan UU pemerintahan Desa 1979 telah membuat sistem pemerintahan adat kian terdesak.  Pengaruh Suku Motu Poso pun mulai pudar setelah generasi yang memahami sejarah Fransiskus Xaverius Epa meninggal dunia 1966. Akibat pemerintahan kedaluan banyak kerugian yang dialami suku Motu Poso. Pertama) Epa, misalnya, dalam seja kala hidupnya, kehilangan ratusan ekor sapi dari padang penggembalaannya di Padang dan Poma Mese akibat kebijakan Dalu Yoseph Pandong membuka perkampungan baru. Akibatnya ratusan ekor sapi milik Epa mengungsi ke wilayah Nangarawa dan Mbo Ndei.

Menurut beberapa saksi hidup, sebagian hewan tersebut dicuri oleh penguasa saat itu dan sebagian lainnya bergabung dengan ternak sapi milik Seminari Kisol. Kesaksian beberapa orang saksi (off the record) cukup masuk akal sebab pihak penguasa dan pihak Seminari tiba-tiba saja memiliki kawanan ternak ratusan ekor hanya dalam tempo tiga tahun.Dari mana asalnya???

Kedua) Hak membagi tanah ulayat diambil-alih pemerintahan desa & sebagian tanah ulayat diserobot oleh pihak-pihak tertentu dibawa konspirasi jagoan-jagoan kampung yang nekad.

kegita) Pelanggaran janji dan kesepakatan yang dilakukan pihak Seminari Kisol. Tahun 1989 secara sepihak dengan dukungan Dalu seminari Kisol melakukan agraria atas tanah di luar penyerahan Tuan Tanah. Kasus ini diikuti dengan protes pihak tuan tanah. Puncaknya perselisihan dengan Seminari terjadi tahun 2000. Tuan tanah meminta Seminari merealisasikan janjinya pada tuan tanah dan pengembalian Tanah baik di wilayah Kisol maupun ladang gembala yang dipakai sebagai lahan gembalaan yang dipinjam pakai pihak seminari pada tahun 1966.

G. REKOMENDASI UNTUK PEMERINTAHAN DAERAH KABUPATEN MANGGARAI TIMUR

……..AKAN DILANJUTKAN……

Tulisan ini dirangkum dari WWC dan kesaksisan penulis sejak masa kecil hingga berusia tigapuluh tahun. Untuk kelengkapan materi tulisan beberapa data-data baru akan dimasukan di masa datang.


Januari 5, 2010 oleh Irenius Lagung

Bung, kapan nulis eulogi lagi?

Sebuah pesan dinding di facebook dari rekan kerja lama cukup mengejutkanku. Sudah satu tahun lebih Mas Yuga tak pernah menghubungiku. Tumben bunaget… mengapa baru kali ini ia menulis di wall FB ku??? Dalam hati saya berharap bakal ada tawaran lagi untuk SJ sebagai penulis di Insert Investigasi, tetapi godaan untuk berpikir ke arah sana sirna begitu saja manakala saya menatap kalender di kamar kosku. Iya… persis di penghujung November, tepatnya 26 November 2005, kami memulai sebuah proyek titipan dari TransTV menggarap tayangan baru infotainment bernama Insert Investigasi. Saat itu saya harus pindah kerja dan bergabung bersama Mas Yuga Aden sebagai penulis naskah di PT Shandika Widya Cinema.

Awalnya saya ragu pada kemampuan tim menggarap sebuah tayangan investigasi, karena selain tidak banyak pengalaman juga jumlah reporter yang terbatas (4 orang) . Tetapi berbekalkan sedikit pengalaman selama menulis naskah Silet, saya dan tim berusaha menundukkan tantangan itu di bawa slogan Be the winning Team! Tulisan pada dinding FB ku barangkali adalah penyampain secara tidak langsung dari mantan rekan kerja bahwa Insert Investigasi sudah berusia empat tahun lho… jadi terima kasih telah menjadi bagian dari The Winning Team

Insert Investigasi kini telah menjadi kenangan untukku. Kenangan akan sebuah perjuangan bagaimana membangun sesuatu yang besar dari keterbatasan.  Pada episode perdana, kami mengawali tayangan dengan pemberitaan Tragedi Berdarah Magelang atas nama keluarga Suzana (almarhum). Menariknya materi tayangan ini sudah menjadi keranjang sampah, tetapi karena kasusnya menarik dan memiliki pesan untuk khalayak tema ini dipilih sebagai pembuka perkenalan. Selanjutnya rumors pernikahan siri Ulfa Dwi Yanthi, menyusul fenomena plastic surgery atau operasi plastik, kntorversi dangdut klasik versus dangdung modern, pernikahan siri cut Memey-Jackson Peranginangin menyusul kemelut, keretakan dan perceraian selebritis. Hanya dalam usia dua minggu, tayangan ini sudah menyamai Seputar Indonesia RCTI dan Liputan 6 SCTV dalam perolehan share dan rating. Sebuah kebanggaan yang luar biasa untukku karena saya turut berperan menjadikan tayangan ini sebagai tayangan yang cukp bergengsi…

Prestasi tersebut, menurutku, tidak terlepas dari berbagai faktor. Pertama) Pemilihan tema tepat, kedua) momentum yang tepat, ketiga) Penaskahan yang cenderung berbeda dengan infotainment lainnya.  Berkat dua hal itu  bayi ajaib ini tumbuh dan bersaing dengan tayangan-tayangan sejenis bahkan news dua televisi bergengsi. Di antara momentum itu adalah:  Kematian almarhumah Veronika, isteri Rhoma Irama, kontroversi dangdut klasik versus dangdut modern, kasus Narkoba Roy Marten, Kontroversi majalah Playboy, menyusul pernikahan siri Mayangsari-Bambang Trihatmodjo.

Kasus pernikahan siri Mayangsari-Bambang adalah tema yang menjelma menjadi nilai jual Insert Investigasi selama semester pertama 2006. Berikutnya kisah cinta dan beberapa varian pemberitaan lainnya. Tema-tema tersebut diangkat dengan perspektif yang sedikit berbeda serta bumbu sensasional yang memancing rasa ingin tahu pemirsa.Pola penaskahan yang cenderung nyeleneh, provokatif, genit bahkan seronok menjadi senjata untuk menyedot perhatian khalayak. Paduan gaya penulisan Yuga Aden dan saya melebur menjadi sebuah tontonan yang membuat khalayak terpikat dan pada akhirnya terlibat bersama dalam haru biru suguhan dramtisasi sebuah berita.

Gaya presenter dan setting panggung yang dekat dengan masyarakat kota serta karakter Voice Over Shinta Puspitasari yang menggaung kencang semakin melambungkan tayangan ini sebagai tontonan sebagai tontonan  dapat memberi kepuasan bagi para penggila gosip.

Hampir setahun setelah menghantar tayangan ini sebagai tayangan besar serta meletakkan fundasinya yang kokoh saya memilih berpisah dengan teman-teman. Namun, pengalaman kebersamaan itu sulit terlupakan! Setidaknya untuk jangka waktu tertentu kami telah memenuhi ambisi untuk menjadi The Winning Team.

Kini Insert Investigasi sudah berusia empat tahun dengan seribu lebih episode yang ditayangkan. Namun dalam perjalanannya, sebagai mantan penulis, saya tetap menaruh perhatian pada tayangan ini. Tahun 2008 semester pertama saya sempat come back sebagai penulis free lance. Selanjutnya karena kesibukan dan tuntutan cita-cita lain saya memilih ‘pensiun’ karena memilih bekerja pada bidang yang berbeda.

Bersamaan dengan tulisan di wall FB ku, saya memahami Mas Yuga, barangkali ada yang ia rindukan yakni sebuah reuni dan masukan. Masukan untuk memajukan tayangan ini.  Dalam keprihatian pada nasib infotainment yang berada dalam masa senja kalanya saya berusaha untuk memenuhi harapan Mas Yuga, pimpinan, rekan sekaligus sahabat yang begitu memahami arti kreativitas dan pengembangan diri seseorang. Akhirnya, saya mengucapkan proficiat untuk rekan-rekan dan Ad Multas Annos Insert investigasi… !

Sisi Positif Infotainment

Januari 5, 2010 oleh Irenius Lagung

Kasus Luna Maya versus infotainment menempatkan infotainment dan praktek kerjanya sebagai sasaran gempur banyak pihak. Infotainment dinilai bekerja di luar norma jurnalistik, tidak penting untuk publik dan tidak berguna karena tidak membawa nilai-nilai transformatif dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat.  Sekilas pandangan demikian bisa dibenarkan, tetapi bila ditelusuri lebih jauh maka padangan itu akan terkesan terburu-buru bila menilik kinerja infotainment sebagai medium pemberitaan yang juga telah berperan serta mem back-up kinerja jurnalisme konvensional dalam menciptakan nilai perubahan dalam masyarakat. Perannya memang kecil, karena infotainment hanya membicangkan kepentingan publik sejauh ada peran serta atau keterlibatan selebritis dalam aksi-aksi sosial maupun kebijakan publik yang terkait atau bersentuhan dengan lingkup kerja dunia hiburan dan artis.

Sayang peran-peran kecil itu diabaikan begitu saja karena pandangan yang terburu-buru yang menempatkan infotainment sebagai sebuah medium gosip. Pandangan ini, menurut hemat saya, adalah sebuah salah kaprah yang perlu dikoreksi. Mengapa? Karena hal-hal yang berbau gosip tidak selamanya identik dengan infotainment. Jadi tidak selamanya infotainment identik dengan gosip yang secara normatif dan agamis dilarang atau tidak patut diperbincangkan secara formal karena infotainment memiliki kebijakan redaksional yang tidak saja membahas hal-hal buruk dalam kehidupan selebriti tetapi mencurahkan perhatian penuh pada keseluruhan hidup selebriti.  Bahwa secara aksidental infotainment memberitakan sisi negatif selebriti tidak jadi masalah karena ia tidak mengabaikan sisi positifnya.

Patut dicatat dalam kinerjanya, infotainment turut mengedepankan wacana-wacana yang terkait dengan kepentingan publik. Ambil contoh saat Angelina Sondakh didaulat sebagai duta orang utan, infotainment memainkan peran besar dalam mensosialisaikannya. Di satu sisi, infotainment juga berperan dan turut memberi ruang penolakan terhadap RUU pornografi dan pornoaksi manakala diperbincangkan oleh komisi XI DPR RI. Aksi anarkis anggota FPI yang hendak mengusir artis dangdut Inul Daratista dari Jakarta karena dinilai membawa spirit pornoaksi dalam atraksi dangdutnya juga tidak luput dari perhatian infotainment. Infotainment saat itu menggelindingkian sebuah wacana tentang hak-hak sipili warga  negara untuk menetap di mana pun tanpa diusik oleh warga lainnya. Ironisnya, banyak media konvensional yang mengklaim diri sebagai pemangku kasta tertinggi dalam dunia kerja jurnalistik, tidak sedikit pun menaruh kepedulian itu!!!! Berbagai sisi positif yang ditampilkan infotaiment, seperti keikutsertaan selebritis dalam gerakan sosial ke pantai asuhan dan berbagai macam kegiatan berkategori pro publik membuat infotainment semakin berwarna di tengah gempuran berita jurnslisme konvensional lainnya. Cukup pantas dan logik kah, bila kita menyamakan begitu saja antara infotainment dengan gosip???? Mengapa kita tidak protes saat televisi memberitakan penggerebekan Temanggung yang jelas-jelas merupakan sejarah paling fatal dalam jurnalisme modern????

Kasus Luna versus infotainment hanyalah riak kecil yang lazimnya terjadi dalam pola hubungan antara wartawan dan narasumber. Namun, perisitiwa itu layak dijadikan sebagai sebuah refleksi akhir tahun dalam rangka mengatur hubungan profesional antara wartawan infotainment dan artis. Artis sebagai figure yang diidolakan publik perlu memberi contoh tutur kata dan tingkah laku yang lebih baik sementara wartawan juga perlu membatasi diri untuk tidak memaksakan artis. Dengan sepotong gambar Luna Maya menggendong Alea, puteri Ariel, bukankah sudah banyak yang mau diungkapkan?????

Ia Pergi dalam Baju Kebesaran sebagai Nasionalis Sejati

Juli 26, 2008 oleh Irenius Lagung

In Memoriam Sophan Sophian

Sophan Sophian telah tiada. Berita itu datang begitu mengiris. Banyak kalangan tak percaya aktor sekaligus politisi ternama itu meninggal dunia. Sophan Sophian tewas dalam sebuah kecelakaan ketika motor Harley Davidson yang dikendarainya terperosok ke dalam lubang dalam perjalanan dari Ngawi, Jawa Timur menuju Sragen, Jawa Tengah, Sabtu (17/5/200 8) sekitar pukul 10.00 WIB. Sophan mengalami patah kaki dan tak sadarkan diri ketika di bawa ke rumah sakit Sragen, Jawa Tengah. Pemeran yang melejit namanya lewat film Pengantin Remaja itu menghembuskan napas terakhir.

Sophian pergi dalam baju kebesaran sebagai seorang pembalap. Tak disangka hobby mengendarai motor gede (moge) yang muncul di usia senjanya berujung tumbal dan ajal. Sophan mengikui konvoi Jalur Merah Putih dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Dalam konvoi yang diikuti ratusan kendaraan bermotor itu suami dari Widyawati ini mengenakan nomor urut lima. Saat melintasi hutan Widodaren yang terletak di antara Ngawi-Sragen motor yang dikendarai Sophan terperosok ke dalam lobang hingga nyawa si Raja Panggung era 70-an itu tak tertolong lagi.Tragis memang!

Tak ada firasat buruk atau sinyal duka yang hadir dalam benak isteri maupun keluarganya. Pria kelahiran Makasar 24 April 1944 itu hanya memberikan isyarat kepada rekan setianya Eros DJarot. Menurut Eros, dalam pertemuannya dengan sahabat kentalnya itu beberapa hari terakhir, Sophian lebih banyak diam. Eros tak percaya karibnya pergi di saat ia masih mengemban sebuah perjuangan besar bersamanya.

Dalam peristiwa naas itu, Widyawati sang isteri yang biasanya dibonceng tidak turut serta karena kondisi fisiknya cukup lelah. Widya sengaja memilih menumpang mobil rombongan. Sophan memang seorang suami yang cukup pengertian pada isterinya. Ia tak membiarkan anak-anaknya ditinggalkan kedua orangtuanya sekaligus. Makanya ia merelakan Widya tidak turut bonceng bersamannya. Sayang, pengertiannya itu menjadi kado terakhir yang paling pahit buat sang isteri. Ia meninggal dalam kesendirian, seakan tak mau disaksikan olehmata kepala isterinya sendiri.

Bagi mereka yang cukup memerhatikan perkembangan dunia film dan dunia politik nasional tentu nama putera dari pasangan Manai Sophian dan Munasiah Paiso ini bukan sosok baru. Ia mengawali karirnya sebagai artis ketika bermain sebagai pemeran pembantu dalam film Bunga-Bunga berguguran tahun 1971. Bakatnya yang luar biasa membuat Sutradara ternama Wim Umboh (almarhum) meliriknya untuk dipasangankan dengan aktris pendatang baru saat itu Widyawati dalam Film Pengantin Remaja 1971. Berturut-turut sejak itu, Sophian berperan dalam berbagai judul fim, seperti Cintaku Jauh Di Pulau (1971), Si Bongkok (1972), Perkawinan (1972), Perempuan (1973), Jauh Di Mata (1973), Sentuhan Cinta (1976), Jinak-Jinak Merpati (1975), Widuri kekasihku (1976), Letnan Harahap (1977), Bung Kecil (1978).

Dari panggung Sandiwara ia menyeberang ke panggung politik praktis. Keberuntungan tampak berpihak pada pria dengan kumis menawan ini. Pemikiran maupun gebrakan politiknya luar biasa berpengaruh hingga menghantarnya terpilih sebagai ketua Fraksi Partai Demokrasi Perjuangan (FPDI) di Senayan. Sandiwara yang terlampau jauh diperlihatkan kalangan politis membuat ia gerah dan kemudian mengundurkan diri dari ketua Fraksi partai berlambang banteng dengan moncong putih tersebut. Banyak pihak menyebutkan, mundurnya Sophan karena kekecewaan yang terakumulasi, antara lain, perberbedaan paham dengan Megawati akibat ulah orang-orang ”indekos” di PDI-P. Juga karena PDIP tidak mendukung pembentukan Panitia Khusus (Pansus) penyelidikan dana nonbujeter Badan Urusan Logistik (Bulog) di DPR.

Pasca kemundurannya, Ia sempat menujukkan kepiawaiannya berakrobat sebagai politisi layaknya dalam panggung sandiwara ketika ia tampil sebagai tim sukses Amien Rais-Siswono Yudhoyusodo sebagai Capres-Cawapres yang diusung PAN dalam pemilu 2004. Namun, loyaitasnya pada PDIP tak luntur begitu saja. Ia layaknya “anak hilang’ yang harus segera dijemput kembali. Tidak heran pada saat Konggres PDIP bulan Maret 2005 di Bali namanya masuk dalam bursa balon ketua DPP PDIP bersama dengan Megawati.

Namun pria yang dikenal vocal itu tetap konsisten dalam prinsip dan perjuangan politisnya. Tahun 2005 ia bersama Eros Djarot dan Roy B. B Janis mendirikan Partai Demokrasi Pembaharuan yang bercirikan ‘nasionalis dan pluralis’ sebagai koreksi atas kinerja PDIP. Partai tersebut diperkirakan bakal lolos dalam tahap verifikasi KPU sebagai salah satu partai yang bakal mengikuti perhelatan demokrasi 2009. Sayang, Sophan tak sempat menikmati perjuangannya. Ia seperti nasib nabi Musa yang hanya melihat Negeri Terjanji Kanaan dari balik Gunung Horeb. Dalam perjuangannya menengakkan sekaligus memberi spirit lahirnya nasionalisme di kalangan anak bangsa, Sophan menghadap yang Mahakuasa.

Pada penghujung hidupnya, sebagai seniman Sophan juga mengarahkan perhatiannya pada perkembangan perfilman tanah air. Ia sempat tampil sebagai salah satu Tim Juri dalam FFI 2005, yang saat itu mememangkan Film Brownies yang dibintangi Marzella Zalianty sebagai film terbaik. Keputusan FFI itu sempat mendapat komentar miring dari Produser Indika Entertainment Shanker Punjabi, yang menilai Dewan Juri mendapat sogokan dari sebuah rumah produksi. Sophan saat itu tampil luar biasa membela orisinalitas dan idependensi penilain dewan Juri. Dalam sebuah dialog, yang mempertemukan Dewan Juri dan Shanker, ia tak segan membentak Shanker Dalam dialog yang dipandu H. Ilham Bintang itu,Sophan tampil garang melabrak siapa saja yang menentang idenpendensi dan orisinalitas Dewan Juri.

Namun, belakangan di saat perang terbuka anatara Masayarakt Film Indonesia yang diusung kaum muda dan Badan Perfilman Nasional, sikapnya jarang dipantau media. Padahal, sebagai orang film kita perlu mendapat komentar terakhirnya.

Dari Pengantin Remaja hingga Love

Kiprah Sophan sebagai bintang film dan politisi memang telah banyak diakui sejumlah kalangan dan rekan-rekannya. Penampilan Sophan muda dalam film Bunga-Bunga berguguran tahun 1970 rupanya sangat berkesan bagi Sutradara ternama Wim Umboh (almarhum). Sewaktu menggarap film Pengantin Remaja, Umboh sengaja memasangkan Sophian dan artis pendatang baru saat itu Widyawati. Kerhasilan Sophian dan Widyawati dalam film itu melesakkan nama mereka sebagai ikon pujaaan remaja. Popularitas keduanya semakin lengkap manakala suguhan gita cinta dalam film mendapat artikulasi sepenuhnya dalam cinta dan perkawinan.

Sophan tercatat sebagai sosok yang berhasil mengawinkan kehidupan panggung sandiwara dan politik sekaligus. Selain tercatat sebagai anggota Partai Demokrasi Perjuangan (PDP), memori masa lalu digugah saat terjun sebagai bintang film Love bersama isterinya Widyawati. Dalam film yang disutradari Watimena itu, Sophan bersama Widyawati beradu ackting dengan sejumlah bintang baru, seperti Luna Maya, Darius Sinathrya, dan Laudya Chintya Bella dan Acha Septriasa dan Irwansyah. Film yang dirilis pertama kali pada perayaan Valentine 14 Pebruari 2008 itu memang tidak sempat booming, tetapi ada getar pengalaman masa silam yang bisa menautkan pasangan Sophan dan Widyawati dari pengalaman membintangi film itu. Dari film itu nama keduanya makin banyak dikenal generasi masa kini yang tak sempat mencicipi film Pengantin Remaja. Dan, yang paling utama mereka dinobatkan sebagai ikon pasangan yang menjadi suri tauladan perkawinan di kalangan selebritis yang dihimpit petaka kawin dan cerai saat ini.

Sophan tidak saja meninggalkan baju kebesarannya sebagai seorang artis, tetapi juga sebagai politisi berkaliber. Sosok yang tidak pernah ketinggalan zaman, terbukti ia mampu nimbrung bersama para penggila moge di usianya yang sudah cukup tua. Namun keterlibatannya bukan dalam ajang kebut-kebutan untuk mendapat pengakuan sebagai anak gaul, tetapi sebagai duta yang ingin mengumandangkan kembali semangat nasionalisme dalam diri anak bangsa. Ia gugur dalam baju kebesaran itu. Tidak berlebihan bila di usia seabad Kebangkitan Nasional, Sophan juga diberi baju kebesaran yang sama dengan Sang Pencetusnya Budi Utomo, yakni sebagai Pahlawan Pembaharuan Nasinalisme Indonesia!

In Memoriam Ali Sadikin

Juli 26, 2008 oleh Irenius Lagung

SANG ARSITEK METROPOLIS ITU GUGUR

Ali Sadikin atau yang akrab disapa Bang Ali telah berpulang. Penyakit komplikasi yang menderanya selama satu bulan terakhir merenggut nyawa anggota petisi 50 itu di Gleneagles Hospital Singapura Rabu (20/05/200). Kepergiaan Bang Ali terjadi justeru di saat-saat rakyat negeri ini sedang merayakan Hari Kebangkitan Nasional. Hanya dalam hitungan hari kita kehilangan sosok politis bersih, jujur dan konsisten setelah Sabtu (17/5/200 8) kita kehilangan Sophan Sophiaan. Dan seakan takdir belum mau beranjak SK Trimurti, isteri pengetik naskah proklamasi Sayuti Melik juga m,enghembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Gatot Subroto di hari yang sama.

Mendung duka itu belum juga beranjak dari Republik ini. Agaknya perayaan seratus tahun Hari Kebangkitan Nasional harus dibayar dengan harga yang mahal. Arwah para pejuang bangsa tampaknya masih berkeliaran membangunkan Indonesia dari tidur panjangnya selama seabad. Para pahlawan itu tampaknya kecewa pada pemimpin bangsa dan politisi Indonesia yang sudah mengkhianati perjuangan mereka. Roh leluhur bangsa itu tampaknya kini sedang gundah melihat praktek korupsi, kolusi dan nepotisme yang berurat-akar dalam mentalitas pemimpin bangsa, sehingga mereka mengirim sinyal peringatan untuk kita semua melalui kematian dua putera terbaik bangsa ini (Sophan Sophiaan dan Ali Sadikin) agar semangat nasionalisme dan perjuangan mengutamakan kepentingan rakyat bisa menjadi wacana segar dalam peringatan seabad Hari Kebangkitan Nasional.

Ali Sadikin atau Bang Ali adalah mantan gubernur DKI Jakarta periode (1966-1977). Ia berjasa besar dalam membesarkan Kota Jakarta. Pada masa kepemimpinannnya, kota Jakarta yang dikenal kumuh disulap sebagai salah satu kota yang indah dengan bangunan-bangunan kota yang apik dan teratur. Selain bangunan sejumlah tempat-tempat hiburan rakyat, seperti Taman Ismail Marzuki, Kebun Binatang Ragunan, Proyek Senen, Taman Impian Jaya Ancol, Taman Ria Monas, Taman Ria Remaja, kota satelit Pluit di Jakarta Utara, pelestarian budaya Betawi di kawasan Condet, dll.

Selain pembangunan fisik ia juga menghidupkan sejumlah kesenian tradisonal Betawi. seperti kerak telor, ondel-ondel, lenong dan topeng Betawi, dsb. Kiprahnya sebagai gubernur dan gebrakan-gebrakan pembangunan yang dilakukan pada masa kepemimpinannya membuat ia menjadi satu-satunya gubernur yang mendapat simpati luar biasa di mata warga ibukota hingga saat ini.

Ali sadikin dilahirkan di Sumedang, Jawa Barat 82 tahun lalu. Letnan Jenderal KKO-AL (Korps Komando Angkatan Laut) yang ditunjuk oleh Presiden Soekarno menjadi Gubernur Jakarta pada tahun 1966. Sebelumnya, ia pernah menjabat sebagai Deputi Kepala Staf Angkatan Laut, Menteri Perhubungan Laut Kabinet Kerja, Menteri Koordinator Kompartemen Maritim/Menteri Perhubungan Laut Kabinet Dwikora dan Kabinet Dwikora yang disempurnakan di bawah pimpinan Presiden.

Salah satu kebijakan Bang Ali yang kontroversial adalah mengembangkan hiburan malam dengan berbagai klab malam, mengizinkan diselenggarakannya perjudian di kota Jakarta dengan memungut pajaknya untuk pembangunan kota, serta membangun kompleks Kramat Tunggak sebagai lokalisasi pelacuran. Di bawah kepemimpinannya pula diselenggarakan pemilihan Abang dan None Jakarta.Soekarno. Ali Sadikin menjadi gubernur yang sangat merakyat dan dicintai rakyatnya.

Setelah dipecat dari jabatannya sebagai Gunernur, Bang Ali masih tetap berjuang sebagai politisi. Ia tercatat sebagai ketua petisi 50 yang suaranya cukup disegani oleh presiden Soeharto. Ia memilih sikap berseberangan dengan pemerintah bahkan terkesan memusuhi Soeharto karena kebijakan pengolahan pemerintahan yang dianggapnya telalu top-down. Sikapnya yang berseberangan dengan pemerintah membuatnya tidak pernah menginjak lagi istana negera selama puluhan tahun. Soeharto pun mencatat namanya sebagai salah satu pembangkang.

Nama pria kelahiran Sumedang 7 Juli 1927 ini baru dipulihkan pada masa pemerintahan Megawati Soekarnoputeri. Di masa kepemimpinan Puteri Sokearno ini, ia mendapat penghargaan dan menerima Bintang Mahaputera Adipradana atas jasanya membangun kota Jakarta. Didampingi isterinya Linda Mangaan dan putra bungsunya, Yasser Umarsyah ia memberikan pidato selama 20 menit. Boleh jadi tanggal 14 Agustus 2004 itu dicatat Ali sebagai hari bersejarah, sebab selama hampir 37 tahun ia tidak pernah memasuki lagi istana kepresidenan itu.

Sosok yang Keras dan Tegas

Di masa tuanya, Ali boleh jadi merasa kecewa atas berbagai kebijakan tata ruang perkotaaan yang amburadul. Pemukiman kumuh yang berkembang di hampir setiap pelosok kota dan kemacetan yang merjalela. Namun, ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi

Ketika Sutiyoso berniat mengikuti langkah yang ditempuh Bang Ali, ternyata respon masyarakat berbeda. Banyak masyarakat yang menentang rencana Bang Yos. Menurut Bang Ali, situasi sekarang rakyatnya sudah lain. Sekarang kenyataannya sudah rusak akibat politik dan segala macam. Sehingga masyarakat makin tidak terkendali. DPRD dulu lain dengan sekarang. Sekarang juga ada LSM dan segala macam.

Ketika reformasi bergulir kondisi fisik Bang Ali mulai lemah. Ia tidak bisa lagi berolahraga angkat besi, kegemarannya. Pendengarannya pun mulai menurun. Bahkan ia sempat memakai alat bantu dengar di telinga karena berkurangnya fungsi pendengaran yang berkaitan dengan penyakit ginjalnya. Satu bulan lalu kondisinya makin kritis sehingga pihak keluarga membawanya ke rumah sakit Gleneagles Hospital Singapura. Setelah terbaring selama sebulan, Bang Ali akhirnya menghembuskan napas terakhirnya. Tragisnya, kepergiaan anggota Petisi 50 ini justeru terjadi bertepatan dengan perayaan seratus tahun hari Kebangkitan Nasional RI dan keadaan kota Jakarta yang amburadul. Kepergiannya setidaknya menjadi momentum refleksif bagi para pemimpin kota Jakarta di masa mendatang!

Pilkada NTT Dalam Bayang-Bayang Politisi Cowboy

Juli 26, 2008 oleh Irenius Lagung

Kisruh politik menjelang pilkada di propinsi Nusa Tenggara Timur menarik ditelisik. Sejak KPUD membuka pendaftaran calon gubernur tanggal 8-14 April teracatat ada tiga kubu yang bersaing memperebutkan dukungan dari berbagai parpol di NTT, yakni pasangan Benny K Harman-Alfred-Kasse (Harkat), Alfons Leomau- Frans Salesman (Amsal), dan pasangan Gaspar P. Ehok-Yulius Bobo (Gaul). Mereka bersaing memperebutkan dukungan dari PKB, PPDI dan Pelopor. Hasilnya, kubu Gaspar P Ehok dan Yulius Bobo berhasil keluar sebagai pemenang dari persaingan itu setelah KPUD NTT mengumumkan tiga pasangan cagub-cawagub yang berhak mengikuti pilkada NTT tanggal 5 Mei 2008 lalu. Ketiga pasangan itu adalah Ibrahim K Maedah- Paulus Moa yang diusung partai Golkar, Frans Lebu Raya- Esthon Foenay yang diusung PDIP, dan pasangan Gaspar P. Ehok-Yulius Bobo yang mendapat dukungan dari PKB, PKPI, Pelopor, PNBK

Keputusan KPUD yang hanya meloloskan tiga pasangan calon, rupanya ditanggapi aksi protes dari pendukung pasangan Benny K Harman-Alfred Kasse dan Alfns Leomau-Frans Salesman. Akibatnya KPUD NTT urung menetapkan nomor urut tiga pasangan cagub-cawagub yang semestinya diumumkan tanggal 8 Mei. Konsekuensinya KPUD terpaksa menunda jadwal pilkada NTT yang semula direncanakan berlangsung tanggal 2 Juni menjadi tanggal 14 Juni 2008 akibat tekanan yang datang betubi-tubi. Perubahan pilkada memengaruhi jadwal kampanye yang semula direncanakan tanggal 15-29 Mei menjadi tanggal 26 Mei-7 Juni 2008. Bahkan KPUD baru menetapkan nomor urut tiga pasangan calon cagub-cawagub pada tanggal 16 Mei lalu.

Kubu Benny alias Harkat mempertanyakan putusan KPUD yang mengakomodir dukungan PKPI pada pasangan Gaspar Ehok-Yulius Bobo yang baru diperoleh pada pendaftaran terakhir di KPUD. Sementara, kubu Alfons Leomau-Frans Salesman mempersoalkan pengalihan dukungan dari partai Pelopor kepada pasangan Gaspar Ehok-Yulius Bobo di masa-masa injury time.

Protes yang dilakukan dua kubu ini sangat bertolak belakang, sebab jika KPUD mengakomodir tuntutan Harkat, maka otomatis pihak Amsal tidak bisa mengklaim dukungan dari Partai Pelopor sebab pada pendaftaran pertama di KPUD NTT tanggal 8 April partai tersebut sudah bergabung dalam Koalisi Partai Abdi Flobamora bersama PKB, PPDI, PNKB untuk mendukung pasangan Gaspar P. Ehok-Yulius Bobo. Sebaliknya, bila tuntutan Amsal diakomodir KPUD, tidak otomatis dukungan PKPI pada Gaul pada pendaftaran tahap akhir di KPUD gugur karena partai ini tidak pernah bergabung dengan pasangan mana pun pada pendaftaran tahap pertama.

Akibat protes dan tekanan yang datang bertubi-tubi dari dua kubu tersebut maka KPUD mengulurkan waktu tahapan penyelengaraan pilkada NTT. Penundaan jadwal penyelengaraan itu, rupanya dimanfaatkan kubu Harkat dan Amsal untuk melakukan gerilya politik. Benny K Harman dengan dukungan DPRD NTT di bawah pimpinan Mell Adoe, misalnya, pada tanggal 9 Mei 2008 datang ke KPU. Kedatangan Benny dan Mell Adoe saat itu terjadi di saat Forum Masyarakat Peduli Pilkada NTT berunjuk rasa untuk memberikan dukungan moril kepada KPUD NTT untuk melaksanakan keputusan yang telah diambil dan menyelengarakan tahapan pilkada sesuai jadwal. Saat itu ketiga wakil pengunjuk rasa yang menyampaikan aspirasinya kepada Koordinator Desk Pilkada Dede Supriyadi, mendapat informasi secara langsung dari Dede bahwa ketua DPRD Mell Adoe meminta KPU untuk mengakomdir calon independent dalam pilkada NTT. Pada kesempatan yang sama Dede menjanjikan akan mengirim surat dukungan kepada KPUD NTT untuk melanjutkan tahapan pilkada paling lambat dua hari (red 11 Mei 2008).

Usai pertemuan Koordinator Desk Pilkada KPU, ketiga wakil pengunjuk rasa bertemu Benny K Harman bersama Robert Key Timu, Leksi Plate, dan rombongannya. Saat dihendak diwawancara di depan pintu KPU terkait dengan aksi protes pendukungnya di KPUD NTT Benny menghindar dan kabur menuju lantai dua KPU. Saat itu tidak diketahui persis siapa yang Benny temui dan apa isi pembicaraannya. Yang jelas ia datang bukan dalam kapasitasnya sebagai anggota Komisi III DPR-RI.

Seusai drama yang terjadi di KPU, Benny rupanya meneruskan aksinya. Ia merekayasa surat dari sebuah organisasi atas nama Leksi Kumpul Cs. Yang meminta KPU melakukan intervensi pada KPUD NTT untuk memproses ulang keseluruhan tahapan pilkada. Dalam surat itu nama-nama tokoh NTT di Jakarta, seperti Frans Seda, Chirs Siner Key Timu ‘dijual’ seolah-olah telah memberikan dukungan sepenuhnya pada Benny. Saat dikonfirmasi, tokoh-tokoh tersebut rupanya tidak pernah dikontak pihak manapun terkait dengan maksud dan keberadaan surat itu.

Ironisnya surat bodong itu menjadi pijkan Benny untuk ‘bermain mata’ dengan ketua KPU Prof. Dr. Abdul Hafiz Anshary sehingga ketua KPU mengatasnamakan lembaga mengirim faximile ke KPUD NTT yang berisi perintah untuk menunda pelaksanaan pilkada NTT. Surat tertanggal 14 Mei 2008 dengan nomor 926/15/V/2008 rupanya dikirim dari sebuah hotel di kawasan Tangerang.

Karena dalam surat itu tertera dengan coup dan cap KPU, KPUD pada tanggal 16 Mei 2008 KPUD NTT datang meminta konfirmasi dari KPU. Pihak KPU saat itu mengaku tidak tahu sama sekali dengan keberadaan surat itu. Mereka pun menggelar rapat pleno dan hasil dari rapat tersebut dituangkan dalam surat kepada KPUD NTT nomor 935/15/5/2008 tanggal 16 Mei 2008 yang isinya meminta KPUD NTT untuk memerhatikan UU yang berlaku dalam penyelenggaraan pilkada NTT.

Setelah memerhatikan permintaan KPU dan Depdagri, KPUD NTT secara bulat memutuskan melanjutkan kembali tahapan pilkada dengan menentukan jadwal kampanye dan hari pemilihan. Ironisnya, pihak Benny masih mencari ‘cela hukum’ untuk merongrong KPUD NTT. Benny, dalam berita yang dirilis ntt-online.org menuding KPUD terbukti telah melanggar ketentuan Pasal 59 ayat 5 huruf c UU nomor 32/2004, pasal 42 ayat 2 huruf c PP nomor 6/2005 dan pasal 6 ayat 4 dan 5 Peraturan KPU nomor 15/2008 tertanggal 13 Mei 2008 yang melarang tegas Parpol yang telah mendukung paket calon tertentu untuk menarik kembali dukungannya setelah didaftarkan ke KPUD NTT dan telah menandatangi kesepakatan koalisi dan Form B3-KWK yang disiapkan oleh KPUD sebagai syarat pencalonan.

Selain memberikan tekanan kepada KPUD Benny juga berusaha menghimpun pendapat dari sejumlah tokoh NTT untuk mewujudkan ‘libido’ politiknya. ntt-online, Jumat (23/5/200 8) merilis pernyataan Ben Mboy yang mengaku prihatin dengan kebijakan KPUD NTT. (Sekedar diketahui Ben Mboy merupakan pendukung setia Benny dan selama menjabat Gubernur NTT diduga telah meredam kesempatan Gaspar Parang Ehok untuk menduduki jabatan yang lebih tinggi dalam birokrasi NTT). Tampaknya Doctor yang menangis saat mempertahankan Disertasinya di Universitas Indonesia tahun 2006 lalu itu masih akan bermain dengan jurus-jurus politiknya.

Dalam cara yang berbeda Alfons Leomau memilih berkonfrontasi langsung dengan wartawan. Alfons mengancam wartawan Timor Express dan Pos Kupang yang memotret dirinya saat ia mengujungi delapan orang pendukung yang ditahan POLDA NTT terkait dengan perusakan kantor harian Timor Express. Langkah Alfons disinyalir bakal menjadi petaka besar bagi karir politiknya. Di samping citranya tercoreng, ia rupanya tidak mengantongi ijin dari Kapolri sewaktu tampil sebagai calon guberenur NTT.

Politik rupanya memberi penilaian yang benar pada waktunya. Alfons kini harus berurusan dengan hukum terkait dengan perbuatan tidak menyenangkan terhadap dua wartawan dan perusakan kantor Timor Express oleh pendukungnya. Tentu ancaman hukuman akan semakin parah bila pihak yang merasa dirugikan dalam pilkada NTT turut mengajukan laporan.

Terhentinya manuver Alfons karena blundernya itu, tentu tidak berarti menjamin penyelengaraan pilkada NTT yang aman dan tertib. Baik Alfons maupun Benny Harman diduga masih menyimpan energy politik yang dapat mengancam stabilitas politik dalam pilkada NTT. Menjelang masa kampanye yang akan berlangsung tanggal 26 Mei Mendatang, Benny mencoba menggaggu atmosfer politik NTT dengan menghembuskan isu adanya aliran dana dalam jumlah miliaran rupaih yang berasal dari salah satu calon pasangan cagu-cawagub ke rekening anggota KPUD masing-masing Robinson Ratu Kore (Ketua) sejumlah Rp1,5 miliar, John Lalongkoe (anggota) sekitar Rp2 miliar, John Depa (anggota) dan Hans Ch Louk (anggota), masing-masing menerima aliran dana Rp1 miliar. Bahkan hingga tulisan ini dibuat Benny masih menghimpun pendapat dari sejumlah tokoh NTT, seperti Ben Mboy (red pendukung setia Benny) guna mendukung ambisi politisnya.

Tragisnya lagi ketua DPRD NTT Mell Adoe setali tiga wang. Seakan berkolaborasi dengan Benny, ia dan DPRD NTT turut mengajukan keberatan terhadap putusan KPUD yang dinilai melanggar undang-undang. ntt-online. Jumat (23/5/200 8) merilis berita rencana DPRD menyampaikan keberatan terhadap putusan KPUD kepada Gubernur NTT.

Rakyat NTT Diharapkan Cerdas Mengambil Sikap

Manuver politik yang dilakukan baik oleh Alfons Leomau, Benny K Harman dan Mell Adoe justeru secara tidak langsung dilatari kehendak untuk menjegal pasangan Gaspar Parang Ehok-Yulius Bobo yang lolos atas dukungan koalisi partai dalam tahap verifikasi lalu. Pasangan yang disinyalir mendapat dukungan penuh dari kalangan masyarakat di Flores, Sumba dan Timor ini memang sejak awal sudah mendapat tekanan dari kekuatan-kekuatan yang berada di luarnya. Mereka menjadi sasaran kepung dari pihak Harkat, Alfons maupun DPRD NTT?

Diduga ada konspirasi tingkat tinggi antara sejumlah kepentingan yang menghendaki pasangan Gaspar P. Ehok-Yulius Bobo untuk gugur dalam pilkada NTT kali ini. Konspiraasin itu disinyalir datang dari dua unsur yang sama kuat, baik terkait dengan akses birokrasi maupun kekuatan modal dari sejumlah pengusaha-pengusaha ternama. Di kalangan masyarakat NTT Jakarta, (red Manggarai) santer beredar kabar bahwa untuk mewujudkan libido politiknya Benny K Harman, konon mendapat dukungan baik moril maupun materi dari tokoh-tokoh mapan maupun pengusahan asal NTT dan sokongan dana miliaran rupiah dari seorang pengusaha ternama Jakarta. Benny juga diduga mendapat dukungan dari Parpol besar yang ingin menjaga reputasi partai dan calon yang diusungnya dalam ajang pilkada NTT. Partain tersebut konon ingin mengakkan eksistensi dan citranya dalam skala nasional salah satunya mememnangkan paketnya dalam jalur pilkada.

Bila itu benar, maka salah satu pasangan cagub-cawagub saat ini yang dikenal jujur dan tidak neko-neko dengan segala bentuk korupsi maupun kompromi yang mergukan rakayat menjadi sasaran permainan mereka. Dalam pengamatan sejumlah tim Gaul Centre Jakarta, diduga kehadiran Benny dalam pilkada NTT hanya berfungsi sebagai garda depan atau robot yang bisa mewakili ambisi dan kepentingan Parpol dan pengusaha tertentu. Langkahnya mencalonkan diri sebagai gubernur NTT bukan dilatari panggilan untuk menyejahterakan masyarakt NTT, tetapi sebaliknya merusak peta kekuatan politik di NTT dan menghancurkan figure tertentu yang concern pada pada pembangunan untuk memerangi kemiskinan dan ketertinggalan masyarakt NTT.

Sebagai ganjarannya dari Parpol dan Pengusaha itu, Benny diduga mendapat dana dalam jumlah besar yang memungkinkannya bergerilya. Menilik lagi ke belakang, bukan tidak mungkin dengan dukungan dana tersebut ia sempat membuat PKB terombang-ambing dan memberikan dukungan ganda dalam pendaftaran pendahuluan 8-14 April 2008 lalu. PKB yang saat itu telah memberikan dukungan bersama koalisi Partai Abdi Flobamora kepada pasangan Gaspar Ehok-Yulius juga ikut dalam kolaisi partai PPP, Demokrat, PPDI (Endung Soetrisno-Simon Hayon) yang mendukung Benny dalam pendaftaran ke KPUD. Bahkan untuk mengacaukan dukungan dari PPDI, Benny menunggangi PPDI Ilegal sebagai bekal pendaftarannya ke KPUD. Ia rupanya tahu, bila PPDI tidak dikacaukan maka langkah Gaspar-Yulius akan berjalan mulus sebagai cagub-cawagub NTT. Untuk merealisasikan ambisinya itu, ia diduga rela mempertaruhkan jabatannya sebagai anggota Komisi III DPR-RI dengan memberi tekanan kepada Menteri Hukum dan Hak Asai Manusia dan Departemen Hukum dan Ham untuk memperlambat proses pengakuan keabsahan kepengurusan PPDI terkait dengan putusan pembubaran penggabungan partai tersebut dengan PDS dan Pelopor. Setelah mempermainkan pengurus PPDI, Depkumham akhirnya memutuskan untuk mengakomodir surat KPUD yang mempertanyakan keabsahan PPDI melalui suratnya tanggal 25 April 2005. Akibatnya partai tersebut tidak berpartisipasi dalam pilkada NTT. Padahal sudah dua tahun ia berjuang menggaungkan dukungan terhadap pasangan Gaspar Ehok-Yulius Bobo. Ironisnya lagi dalam pilkada daerah lain, dukungan mereka justeru diakomodir KPU.

Untung bagi Gaul dan malang bagi Harkat, PKB yang semula disebut-sebut telah memberikan dukungan pada Benny di saat injury time menarik dukungannya dan menetapkan pasangan Gaspar-Yulius sebagai calonnya dalam pilgub NTT. Rupanya DPP PKB sejak awal sudah menetapkan pasangan Gaul sebagai jagoannya. Klaim Benny yang menyatakan mendapat dukungan dari PKB sejak tahap awal pendaftaran rupanya hanya omong kosong belaka karena menurut orang dalam PKB SK yang diberikan pada Benny adalah SK Bodong.

Setelah seluruh energi dan biaya terkuras, Benny tetap tidak memenuhi criteria dukungan lima belas persen suara untuk lolos sebagai cagub NTT. Namun, mantan jurnalis pemberontak itu sulit menujukkan sikap sportif dan citra seorang politikus sejati. Ia masih berusaha menggoyang KPUD dengan langkah usahanya memengaruhi KPU Pusat untuk mengambil-alih pilkada NTT dan meminta keseluruhan tahap pilkada NTT diproses ulang. Lagi, tujuan Benny diduga bukan dalam rangka memelihara dan menumbuhkan demokrasi di NTT, tetapi diduga merupakan usaha untuk mempertanggung-jawabkan sejumlah dana yang telah diterima. Posisinya sebagai ahli hukum tata Negara memugkinkan UU dipakainya sebagai celah. Tentu, pakar hukum Tata Negara lainnya, bisa melakukan counter attack kepada Benny.

Melihat fenomena tersebut, rakyat NTT diharapkan merapatkan barisan dan berlaku bijak dalam menghadapi kemelut politik yang terjadi. Setidaknya memberikan dukungan kepada KPUD dalam menjalankan tahap pilkada semabri berkomitment menjaga ketentraman dan kedamaian dalam pemilihan langsung Gubernur NTT tanggal 14 Juni mendatang. Jangan biarkan demokrasi di NTT dikendalikan politisi cowboy untuk digadaikan kepada pengusaha nakal dan korup!

Menakar Tiga Pasangan Calon Gubernur NTT

Juli 26, 2008 oleh Irenius Lagung

Suhu politik NTT saat ini sedang panas. Tiga pasangan cagub-cawagub (Ibrahim Maedah-Paulus Moa, Frans Lebu Raya-Esthon Foenay, dan Gaspar P Ehok-Yulius Bobo) sedang berjibaku menjual program strategis demi menarik simpati rakyat. Masing-masing pasangan calon memiliki selling point yang diharapkan bisa merebut suara dalam pilkada tanggal 14 Juni mendatang. Tentu janji-janji politik yang dikemukakan perlu dibaca dari trade record masing-masing pasangan untuk dipahami apakah janji yang dikemukakan dalam pilkada sekedar lips service atau memang komitment politik yang akan mereka perjuangkan bila memimpin NTT kelak.

Sejauh pengamatan saya, dari tiga pasangan calon yang paling realistis menjual programnya adalah pasangan Gaspar P. Ehok-Yulius Bobo. Pasangan ini patut diacungi jempol, sebab mereka tidak sekedar bicara melainkan sudah memiliki ide dan strategi yang dipersiapkan sejak awal. Buktinya, sebelum terjun berkampanye mereka sudah meluncurkan buku putih untuk pembangunan NTT selama liam tahun ke depan. Hasilnya, materi kampanye mereka tidak meleset dari grand design yang telah ada sebelumnya.

Dua calon lain terkesan begitu kelabakan saat kampanye tiba. Mungkin karena kurang percaya diri pasangan Ibrahim A Maedah-Paulus Moa mengumbar janji pendidikan dan kesehatan gratis bagi masyarakat NTT. Mustahil bila Ibrahim Maedah-Paulus Moa mampu mewujudkan hal ini mengingat kondisi NTT yang serba minus. Jangankan pendidikan gratis, kesehatan masyarakat pun tak kunjung membaik. Kasus busung lapar hampir setiap tahun terjadi. Mustahil mewujudkan impian dua kampiun Golkar ini bagi NTT dalam masa lima tahun mendatang.

Sementara Frans Lebu Raya-Esthon Foenay gencar mengkampanyekan tiga peningkatan kualitas SDM, kesehatan dan pengembangan ekonomi rakyat. Program yang dikemukakan Frend tampaknya hanya melanjutkan program Tiga Batu Tungku yang digagas Piet A Tallo. Sebagai wakil gubernur NTT saat ini, tentu mudah saja bagi Frans Lebu Raya membicarakan hal itu sebab sudah menjadi makanan sehari-harinya selama kurang lebih lima tahun mendampingi Piet A Tallo. Pertanyaannya, bila memang Frans seorang pemimpin yang berdedikasi, mengapa mengapa selama masa jabatannya tidak banyak perubahan yang dialami rakyat NTT.

Apesnya saat Frans Lebu Raya dan Ibrahim A Maedah sedang asyik menjual janji-janjinya, KPK saat ini sedang memeriksa berkas dugaan korupsi dua oknum ini. Bukan basa-basi jika dua calon gubernur ini bila terpilih akan melanjutkan kultur korupsi yang menjamur di kalangan birokrat NTT

Gaspar P Ehok-Yulius Bobo, mungkin cukup realistis. Mengingat kondisi NTT sebagai propinsi dengan tingkat korupsi nomor empat nasional, keduanya menggagas manuver hebat, yakni berupaya membersihkan korupsi di kalangan birokrat di NTT. Menurut Gaspar, korupsi merupakan salah satu penyebab kemiskinan NTT, karena itu peningkatan kesejahteraan rakayt mau tidak mau harus berangkat dari kalangan birokrat. Bila birokrat korup maka rakyat akan tetap miskin…Walahualammm….

Bila menilik program-program yang diajukan masing-masing calon (tentu tidak semuanya dikemukakan di sini) serta trade record masing-masing pasangan tentu Gaspar dan Yulius adalah pasangan yang ideal memimpin NTT di masa datang. Jadi untuk apa NTT memiliki pemimpin muda kalau bermental korup!

Kegagalan Gaul Bukan Untuk Ditangisi!

Juli 26, 2008 oleh Irenius Lagung

Pilkada NTT (14/6/200 8) sudah tergelar. KPUD NTT dalam rapat pleno (21/6/200 8) menetapkan pasangan Frans Lebu Raya-Esthon Foenay sebagai peraih suara mayoritas dengan perolehan 772.032, menyusul pasangan Ibrahim A Maedah-Paulus Moa dengan raihan suara 711.116, sedangkan pasangan Gaspar P Ehok-Yulius Bobo menempati urutan buncit dengan perolehan suara 584.085 suara. Menariknya, dari 2.600-an ribu peserta pemilih, yang menjadi golput- entah karena sengaja- atau kertas suara dirusakkan- jumlahnya melampau jumlah perolehan suara pasangan Gaspar P Ehok-Yulius Bobo.

Kekalahan pasangan Gaspar P Ehok-Yulius Bobo yang diunggulkan dalam pemilihan ini, menarik untuk dikupas. Berbekalkan basis massa pendukung yang berada di Pulau Sumba dan Manggarai, pasangan ini menempati urutan nomor buncit, padahal jika sedikit bekerja keras bukan tidak mungkin mereka akan menduduki posisi puncak pimpinan NTT periode (2005-20013). Ada sejumlah kesalahan fatal yang menyebabkan pasangan ini mengalami kekalahan.

Pertama, Ketimpangan kualitas dan mobilitas tim sukses dalam hal ini Gaul Centre. Sejak terbentuk dua tahun lalu, praktisnya tim ini tidak bekerja maksimal. Tercatat hanya Tim Gaul Centre Jakarta yang menunjukkan semangat tanpa menyerah itu, sewatu berusaha mendapatkan dukungan dari partai-partai yang membentuk Koalisi Abdi Flobamora yang mencalonkan pasangan Gaul . Tim di daerah praktisnya hanya larut dalam euforia dukungan basis massa yang berada di Sumba dan Manggarai yang jumlahnya bisa mencapai 700.000 pemilih. Upaya untuk menggerakkan massa dan merebut simpati pemilih menjelang pemilihan nyaris kurang maksimal, sebab semua konsentrasi tim sukses lebih tertuju pada persaingan mendapatkan dukungan partai. Padahal, urusan tersebut tidak sedkit melibatkan TIm Jakarta dan Kupang.

Kedua, berbekalkan basis massa pemilih di Sumba dan Manggarai, Gaul melupakan peran media sebagai pembawa opini publik. Hal ini sudah dirasakan sejak awal, terutama saat-saat upaya saling jegal dilakukan menjelang tahap verifikasi final 2–28 April. Kubu Benny Harman-Alfred Kasse dan Alfons Leamau-Frans Salesman, gecar melakukan black campaign terhadap Gaul karena dianggap merebut dukungan dari partai yang sudah memberikan dukungan pada dua kubu tersebut-walaupun alasan itu masih bisa diperdebatkan- karena karena pada pendaftaran tahap ke KPUD PKB dan Partai Pelopor sudah memberikan dukungan pada Gaul bersama PPDI dan PNBK dalam Kolaisi Abdi Flobamora. Gaul hampir tidak pernah melakukan caunter attack melalui media untuk meciptakan opini publik yang berimbang. Situasi tersebut, justeru dimanfaatkan oleh pasangan Frans Lebu Raya-Esthon Foenay dan pasangan Ibrahim Maedah-Paulus Moa untuk merebut simpati publik, melalui publikasi program kerja. Dukungan modal yang kuat dari dua pasangan itu memungkinkan mereka bisa menciptakan opini publik yang cenderung melenyapkan massa pendukung Gaul berubah keputusan di hari pemilihan. Terkait dengan publikasi media tersebut, dua koran lokal Pos Kupang dan Timor Xpress patut dicurigai sebab tidak mempertimbangkan proporsi berita secara merata atas ketiga calon. Dalam arti tertentu, dua media lokal itu telah berperan melakukan pembunuhan karakter salah satu pasangan calon, yakni Gaul. Situasi tersebut bahkan dipertahankan hingga masa-massa kampanye.

Ketiga, keterbatasan dana menjadi pelengkap dari lemahnya kinerja tim sukses dan upaya merebut simpati melalui media. Dapat dipastikan, pasangan Gaul memiliki dana yang serba terbatas. Jangankan untuk membayar media, untuk pengadaan Baliho, Stiker, apalagi leaflet serta biaya operasional tim sukses hampir tidak ada. Ibarat maju berperang. Gaul ibarat tidak membawa perlengkapan senjata dalam sebuah pertempuran. Ia hanya mengandalkan nama dan kepercayaan diri yang tinggi. Apesnya, hampir sebagian besar saksi yang dipercayakan menjadi saksi di TPS yang jumlahnya mencapai 7.500-an di NTT tidak dibekali uang secukupnya, bahkan karena tidak memiliki dana banyak saksi yang tidak dibayar, bahkan ada beberap Gaul tidak meiliki saksi. Mengenai keberadaan saksi dan uang rokok saksi, bisa jadi menjadi salah satu penyebab jumlah suara yang diperoleh Gaul di luar Manggarai dan Sumba jauh dari harapan!

Keempat, penyebab lainnya usia Tim Sukses yang terdiri atas orang-orang tua dan cenderung feodalistik. Keberadaan tokoh-tokoh tua yang menjadi tim sukses Gaul juga menjadi penyebab lainnya. Kemapanan berpikir yang dimiliki orangtua, menyebabkan saran-saran Tim Gaul centre Jakarta untuk merangkul anak-anak muda sebagai tim sukses kurang didengar. Padahal dengan merekrut anak-anak muda, bisa memungkinkan persaingan di lapangan melalui promosi dari mulut ke mulut atau kegiatan-kegiatan yang bisa merangkul pemilih pemula bisa mengimbangi dua calon lainnya. Konon banyak anak-anak muda yang menaruh simpati pada integritas pasangan Gaul beralih menjadi tim sukses pasangan lain.

Kelima, Gaul gagal merangkul barisan sakit hati (Massa pendukung Harkat dan Amsal). Diperkirakan para pendukung dua kubu yang tersisih itu berperan sebagai tim sukses tambahan Gaul yang dapat mengalihkan masa pendukungnya kepada dua pasangan lainnya. Sebagai contoh, di kecamatan Satarmese, Manggarai Tengah, wilayah asal salah satu pasangan yang terpental, Gaul mengalami kekalahan. Faktor tim sukses yang berasal dari barisan sakit hati inilah yang diperkirakan turut meningkatkan perolehan suara Fren.

Lima hal di atas, diperkirakan menjadi penyebab kekalahan Gaul. Padahal secara program Gaul barangkali pasangan yang memiliki program dengan pendekatan scientific dan praksis yang jauh melebih dua pasangan lainnya. Pieter Sambut, yang dipercayakan membuat program pemenangan itu mengatakan, “Enam puluh persen program pemenangan Gaul tidak dijalani, bagaimana mungkin kita bisa menang”. Tentu faktor itu bukan karena kesengajaan, tetapi karena hambatan ketersediaan dana yang cukup.

Gaul, Gubernur tanpa Jabatan

Meratapi kekalahan Gaul sebagai pasangan ideal untuk memimpin NTT barangkali hanya bisa terobati dengan komitment pasangan ini memberantas korupsi di kalangan birokrasi yang menjadi salah satu penyebab utama kemiskinan di NTT. Komitment Gaul untuk memberantas kultur korupsi itu dapat diukur dari trade -record Gaspar dan Yulius yang bersih dari KKN bila dibandingkan dengan dua pasangan lainnya yang diduga melakukan korupsi. Bahkan program ini menjadi tema utama Gaul selama masa kampanye. Patut diapresiasi, bahwa selama masa kampanyenya Gaul tidak pernah melakukan black Campaign terhadap dua calon lain yang melakukan perbuatan tidak terpuji itu. Barangkali, faktor ini pula lah yang menjadi kelemahan Gaul sebab dua komopetitornya justeru memutihkan dosanya di hadapan rakyat sebagai sosok yang paling bersih.

Meski gagal, Gaul tetaplah pasangan yang perlu kita hormati, bahkan oleh politis mana pun di NTT, sebab ia telah menujukkan semangat sportifitas dan persaiangan tanpa melukai pasangan lain. Dan, sebagai harapannya, semoga saja spirit memberantas korupsi yang dikumandangan Gaul bisa menggugah Frans Lebu Raya-Esthon Foenay dalam memimpin NTT selama periode lima tahun ke depan. Dan, sebagai penutup adopsilah program Gaul yang sudah dibukukan dalam buku putihnya, tetapi sebagai pemimpin yang mengaku jujur di hadapan massa, ijinlah itu pada Centre For Community Development (CCD) Jakarta