Ia Pergi dalam Baju Kebesaran sebagai Nasionalis Sejati

Juli 26, 2008 oleh Irenius Lagung

In Memoriam Sophan Sophian

Sophan Sophian telah tiada. Berita itu datang begitu mengiris. Banyak kalangan tak percaya aktor sekaligus politisi ternama itu meninggal dunia. Sophan Sophian tewas dalam sebuah kecelakaan ketika motor Harley Davidson yang dikendarainya terperosok ke dalam lubang dalam perjalanan dari Ngawi, Jawa Timur menuju Sragen, Jawa Tengah, Sabtu (17/5/200 8) sekitar pukul 10.00 WIB. Sophan mengalami patah kaki dan tak sadarkan diri ketika di bawa ke rumah sakit Sragen, Jawa Tengah. Pemeran yang melejit namanya lewat film Pengantin Remaja itu menghembuskan napas terakhir.

Sophian pergi dalam baju kebesaran sebagai seorang pembalap. Tak disangka hobby mengendarai motor gede (moge) yang muncul di usia senjanya berujung tumbal dan ajal. Sophan mengikui konvoi Jalur Merah Putih dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Dalam konvoi yang diikuti ratusan kendaraan bermotor itu suami dari Widyawati ini mengenakan nomor urut lima. Saat melintasi hutan Widodaren yang terletak di antara Ngawi-Sragen motor yang dikendarai Sophan terperosok ke dalam lobang hingga nyawa si Raja Panggung era 70-an itu tak tertolong lagi.Tragis memang!

Tak ada firasat buruk atau sinyal duka yang hadir dalam benak isteri maupun keluarganya. Pria kelahiran Makasar 24 April 1944 itu hanya memberikan isyarat kepada rekan setianya Eros DJarot. Menurut Eros, dalam pertemuannya dengan sahabat kentalnya itu beberapa hari terakhir, Sophian lebih banyak diam. Eros tak percaya karibnya pergi di saat ia masih mengemban sebuah perjuangan besar bersamanya.

Dalam peristiwa naas itu, Widyawati sang isteri yang biasanya dibonceng tidak turut serta karena kondisi fisiknya cukup lelah. Widya sengaja memilih menumpang mobil rombongan. Sophan memang seorang suami yang cukup pengertian pada isterinya. Ia tak membiarkan anak-anaknya ditinggalkan kedua orangtuanya sekaligus. Makanya ia merelakan Widya tidak turut bonceng bersamannya. Sayang, pengertiannya itu menjadi kado terakhir yang paling pahit buat sang isteri. Ia meninggal dalam kesendirian, seakan tak mau disaksikan olehmata kepala isterinya sendiri.

Bagi mereka yang cukup memerhatikan perkembangan dunia film dan dunia politik nasional tentu nama putera dari pasangan Manai Sophian dan Munasiah Paiso ini bukan sosok baru. Ia mengawali karirnya sebagai artis ketika bermain sebagai pemeran pembantu dalam film Bunga-Bunga berguguran tahun 1971. Bakatnya yang luar biasa membuat Sutradara ternama Wim Umboh (almarhum) meliriknya untuk dipasangankan dengan aktris pendatang baru saat itu Widyawati dalam Film Pengantin Remaja 1971. Berturut-turut sejak itu, Sophian berperan dalam berbagai judul fim, seperti Cintaku Jauh Di Pulau (1971), Si Bongkok (1972), Perkawinan (1972), Perempuan (1973), Jauh Di Mata (1973), Sentuhan Cinta (1976), Jinak-Jinak Merpati (1975), Widuri kekasihku (1976), Letnan Harahap (1977), Bung Kecil (1978).

Dari panggung Sandiwara ia menyeberang ke panggung politik praktis. Keberuntungan tampak berpihak pada pria dengan kumis menawan ini. Pemikiran maupun gebrakan politiknya luar biasa berpengaruh hingga menghantarnya terpilih sebagai ketua Fraksi Partai Demokrasi Perjuangan (FPDI) di Senayan. Sandiwara yang terlampau jauh diperlihatkan kalangan politis membuat ia gerah dan kemudian mengundurkan diri dari ketua Fraksi partai berlambang banteng dengan moncong putih tersebut. Banyak pihak menyebutkan, mundurnya Sophan karena kekecewaan yang terakumulasi, antara lain, perberbedaan paham dengan Megawati akibat ulah orang-orang ”indekos” di PDI-P. Juga karena PDIP tidak mendukung pembentukan Panitia Khusus (Pansus) penyelidikan dana nonbujeter Badan Urusan Logistik (Bulog) di DPR.

Pasca kemundurannya, Ia sempat menujukkan kepiawaiannya berakrobat sebagai politisi layaknya dalam panggung sandiwara ketika ia tampil sebagai tim sukses Amien Rais-Siswono Yudhoyusodo sebagai Capres-Cawapres yang diusung PAN dalam pemilu 2004. Namun, loyaitasnya pada PDIP tak luntur begitu saja. Ia layaknya “anak hilang’ yang harus segera dijemput kembali. Tidak heran pada saat Konggres PDIP bulan Maret 2005 di Bali namanya masuk dalam bursa balon ketua DPP PDIP bersama dengan Megawati.

Namun pria yang dikenal vocal itu tetap konsisten dalam prinsip dan perjuangan politisnya. Tahun 2005 ia bersama Eros Djarot dan Roy B. B Janis mendirikan Partai Demokrasi Pembaharuan yang bercirikan ‘nasionalis dan pluralis’ sebagai koreksi atas kinerja PDIP. Partai tersebut diperkirakan bakal lolos dalam tahap verifikasi KPU sebagai salah satu partai yang bakal mengikuti perhelatan demokrasi 2009. Sayang, Sophan tak sempat menikmati perjuangannya. Ia seperti nasib nabi Musa yang hanya melihat Negeri Terjanji Kanaan dari balik Gunung Horeb. Dalam perjuangannya menengakkan sekaligus memberi spirit lahirnya nasionalisme di kalangan anak bangsa, Sophan menghadap yang Mahakuasa.

Pada penghujung hidupnya, sebagai seniman Sophan juga mengarahkan perhatiannya pada perkembangan perfilman tanah air. Ia sempat tampil sebagai salah satu Tim Juri dalam FFI 2005, yang saat itu mememangkan Film Brownies yang dibintangi Marzella Zalianty sebagai film terbaik. Keputusan FFI itu sempat mendapat komentar miring dari Produser Indika Entertainment Shanker Punjabi, yang menilai Dewan Juri mendapat sogokan dari sebuah rumah produksi. Sophan saat itu tampil luar biasa membela orisinalitas dan idependensi penilain dewan Juri. Dalam sebuah dialog, yang mempertemukan Dewan Juri dan Shanker, ia tak segan membentak Shanker Dalam dialog yang dipandu H. Ilham Bintang itu,Sophan tampil garang melabrak siapa saja yang menentang idenpendensi dan orisinalitas Dewan Juri.

Namun, belakangan di saat perang terbuka anatara Masayarakt Film Indonesia yang diusung kaum muda dan Badan Perfilman Nasional, sikapnya jarang dipantau media. Padahal, sebagai orang film kita perlu mendapat komentar terakhirnya.

Dari Pengantin Remaja hingga Love

Kiprah Sophan sebagai bintang film dan politisi memang telah banyak diakui sejumlah kalangan dan rekan-rekannya. Penampilan Sophan muda dalam film Bunga-Bunga berguguran tahun 1970 rupanya sangat berkesan bagi Sutradara ternama Wim Umboh (almarhum). Sewaktu menggarap film Pengantin Remaja, Umboh sengaja memasangkan Sophian dan artis pendatang baru saat itu Widyawati. Kerhasilan Sophian dan Widyawati dalam film itu melesakkan nama mereka sebagai ikon pujaaan remaja. Popularitas keduanya semakin lengkap manakala suguhan gita cinta dalam film mendapat artikulasi sepenuhnya dalam cinta dan perkawinan.

Sophan tercatat sebagai sosok yang berhasil mengawinkan kehidupan panggung sandiwara dan politik sekaligus. Selain tercatat sebagai anggota Partai Demokrasi Perjuangan (PDP), memori masa lalu digugah saat terjun sebagai bintang film Love bersama isterinya Widyawati. Dalam film yang disutradari Watimena itu, Sophan bersama Widyawati beradu ackting dengan sejumlah bintang baru, seperti Luna Maya, Darius Sinathrya, dan Laudya Chintya Bella dan Acha Septriasa dan Irwansyah. Film yang dirilis pertama kali pada perayaan Valentine 14 Pebruari 2008 itu memang tidak sempat booming, tetapi ada getar pengalaman masa silam yang bisa menautkan pasangan Sophan dan Widyawati dari pengalaman membintangi film itu. Dari film itu nama keduanya makin banyak dikenal generasi masa kini yang tak sempat mencicipi film Pengantin Remaja. Dan, yang paling utama mereka dinobatkan sebagai ikon pasangan yang menjadi suri tauladan perkawinan di kalangan selebritis yang dihimpit petaka kawin dan cerai saat ini.

Sophan tidak saja meninggalkan baju kebesarannya sebagai seorang artis, tetapi juga sebagai politisi berkaliber. Sosok yang tidak pernah ketinggalan zaman, terbukti ia mampu nimbrung bersama para penggila moge di usianya yang sudah cukup tua. Namun keterlibatannya bukan dalam ajang kebut-kebutan untuk mendapat pengakuan sebagai anak gaul, tetapi sebagai duta yang ingin mengumandangkan kembali semangat nasionalisme dalam diri anak bangsa. Ia gugur dalam baju kebesaran itu. Tidak berlebihan bila di usia seabad Kebangkitan Nasional, Sophan juga diberi baju kebesaran yang sama dengan Sang Pencetusnya Budi Utomo, yakni sebagai Pahlawan Pembaharuan Nasinalisme Indonesia!

In Memoriam Ali Sadikin

Juli 26, 2008 oleh Irenius Lagung

SANG ARSITEK METROPOLIS ITU GUGUR

Ali Sadikin atau yang akrab disapa Bang Ali telah berpulang. Penyakit komplikasi yang menderanya selama satu bulan terakhir merenggut nyawa anggota petisi 50 itu di Gleneagles Hospital Singapura Rabu (20/05/200). Kepergiaan Bang Ali terjadi justeru di saat-saat rakyat negeri ini sedang merayakan Hari Kebangkitan Nasional. Hanya dalam hitungan hari kita kehilangan sosok politis bersih, jujur dan konsisten setelah Sabtu (17/5/200 8) kita kehilangan Sophan Sophiaan. Dan seakan takdir belum mau beranjak SK Trimurti, isteri pengetik naskah proklamasi Sayuti Melik juga m,enghembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Gatot Subroto di hari yang sama.

Mendung duka itu belum juga beranjak dari Republik ini. Agaknya perayaan seratus tahun Hari Kebangkitan Nasional harus dibayar dengan harga yang mahal. Arwah para pejuang bangsa tampaknya masih berkeliaran membangunkan Indonesia dari tidur panjangnya selama seabad. Para pahlawan itu tampaknya kecewa pada pemimpin bangsa dan politisi Indonesia yang sudah mengkhianati perjuangan mereka. Roh leluhur bangsa itu tampaknya kini sedang gundah melihat praktek korupsi, kolusi dan nepotisme yang berurat-akar dalam mentalitas pemimpin bangsa, sehingga mereka mengirim sinyal peringatan untuk kita semua melalui kematian dua putera terbaik bangsa ini (Sophan Sophiaan dan Ali Sadikin) agar semangat nasionalisme dan perjuangan mengutamakan kepentingan rakyat bisa menjadi wacana segar dalam peringatan seabad Hari Kebangkitan Nasional.

Ali Sadikin atau Bang Ali adalah mantan gubernur DKI Jakarta periode (1966-1977). Ia berjasa besar dalam membesarkan Kota Jakarta. Pada masa kepemimpinannnya, kota Jakarta yang dikenal kumuh disulap sebagai salah satu kota yang indah dengan bangunan-bangunan kota yang apik dan teratur. Selain bangunan sejumlah tempat-tempat hiburan rakyat, seperti Taman Ismail Marzuki, Kebun Binatang Ragunan, Proyek Senen, Taman Impian Jaya Ancol, Taman Ria Monas, Taman Ria Remaja, kota satelit Pluit di Jakarta Utara, pelestarian budaya Betawi di kawasan Condet, dll.

Selain pembangunan fisik ia juga menghidupkan sejumlah kesenian tradisonal Betawi. seperti kerak telor, ondel-ondel, lenong dan topeng Betawi, dsb. Kiprahnya sebagai gubernur dan gebrakan-gebrakan pembangunan yang dilakukan pada masa kepemimpinannya membuat ia menjadi satu-satunya gubernur yang mendapat simpati luar biasa di mata warga ibukota hingga saat ini.

Ali sadikin dilahirkan di Sumedang, Jawa Barat 82 tahun lalu. Letnan Jenderal KKO-AL (Korps Komando Angkatan Laut) yang ditunjuk oleh Presiden Soekarno menjadi Gubernur Jakarta pada tahun 1966. Sebelumnya, ia pernah menjabat sebagai Deputi Kepala Staf Angkatan Laut, Menteri Perhubungan Laut Kabinet Kerja, Menteri Koordinator Kompartemen Maritim/Menteri Perhubungan Laut Kabinet Dwikora dan Kabinet Dwikora yang disempurnakan di bawah pimpinan Presiden.

Salah satu kebijakan Bang Ali yang kontroversial adalah mengembangkan hiburan malam dengan berbagai klab malam, mengizinkan diselenggarakannya perjudian di kota Jakarta dengan memungut pajaknya untuk pembangunan kota, serta membangun kompleks Kramat Tunggak sebagai lokalisasi pelacuran. Di bawah kepemimpinannya pula diselenggarakan pemilihan Abang dan None Jakarta.Soekarno. Ali Sadikin menjadi gubernur yang sangat merakyat dan dicintai rakyatnya.

Setelah dipecat dari jabatannya sebagai Gunernur, Bang Ali masih tetap berjuang sebagai politisi. Ia tercatat sebagai ketua petisi 50 yang suaranya cukup disegani oleh presiden Soeharto. Ia memilih sikap berseberangan dengan pemerintah bahkan terkesan memusuhi Soeharto karena kebijakan pengolahan pemerintahan yang dianggapnya telalu top-down. Sikapnya yang berseberangan dengan pemerintah membuatnya tidak pernah menginjak lagi istana negera selama puluhan tahun. Soeharto pun mencatat namanya sebagai salah satu pembangkang.

Nama pria kelahiran Sumedang 7 Juli 1927 ini baru dipulihkan pada masa pemerintahan Megawati Soekarnoputeri. Di masa kepemimpinan Puteri Sokearno ini, ia mendapat penghargaan dan menerima Bintang Mahaputera Adipradana atas jasanya membangun kota Jakarta. Didampingi isterinya Linda Mangaan dan putra bungsunya, Yasser Umarsyah ia memberikan pidato selama 20 menit. Boleh jadi tanggal 14 Agustus 2004 itu dicatat Ali sebagai hari bersejarah, sebab selama hampir 37 tahun ia tidak pernah memasuki lagi istana kepresidenan itu.

Sosok yang Keras dan Tegas

Di masa tuanya, Ali boleh jadi merasa kecewa atas berbagai kebijakan tata ruang perkotaaan yang amburadul. Pemukiman kumuh yang berkembang di hampir setiap pelosok kota dan kemacetan yang merjalela. Namun, ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi

Ketika Sutiyoso berniat mengikuti langkah yang ditempuh Bang Ali, ternyata respon masyarakat berbeda. Banyak masyarakat yang menentang rencana Bang Yos. Menurut Bang Ali, situasi sekarang rakyatnya sudah lain. Sekarang kenyataannya sudah rusak akibat politik dan segala macam. Sehingga masyarakat makin tidak terkendali. DPRD dulu lain dengan sekarang. Sekarang juga ada LSM dan segala macam.

Ketika reformasi bergulir kondisi fisik Bang Ali mulai lemah. Ia tidak bisa lagi berolahraga angkat besi, kegemarannya. Pendengarannya pun mulai menurun. Bahkan ia sempat memakai alat bantu dengar di telinga karena berkurangnya fungsi pendengaran yang berkaitan dengan penyakit ginjalnya. Satu bulan lalu kondisinya makin kritis sehingga pihak keluarga membawanya ke rumah sakit Gleneagles Hospital Singapura. Setelah terbaring selama sebulan, Bang Ali akhirnya menghembuskan napas terakhirnya. Tragisnya, kepergiaan anggota Petisi 50 ini justeru terjadi bertepatan dengan perayaan seratus tahun hari Kebangkitan Nasional RI dan keadaan kota Jakarta yang amburadul. Kepergiannya setidaknya menjadi momentum refleksif bagi para pemimpin kota Jakarta di masa mendatang!

Pilkada NTT Dalam Bayang-Bayang Politisi Cowboy

Juli 26, 2008 oleh Irenius Lagung

Kisruh politik menjelang pilkada di propinsi Nusa Tenggara Timur menarik ditelisik. Sejak KPUD membuka pendaftaran calon gubernur tanggal 8-14 April teracatat ada tiga kubu yang bersaing memperebutkan dukungan dari berbagai parpol di NTT, yakni pasangan Benny K Harman-Alfred-Kasse (Harkat), Alfons Leomau- Frans Salesman (Amsal), dan pasangan Gaspar P. Ehok-Yulius Bobo (Gaul). Mereka bersaing memperebutkan dukungan dari PKB, PPDI dan Pelopor. Hasilnya, kubu Gaspar P Ehok dan Yulius Bobo berhasil keluar sebagai pemenang dari persaingan itu setelah KPUD NTT mengumumkan tiga pasangan cagub-cawagub yang berhak mengikuti pilkada NTT tanggal 5 Mei 2008 lalu. Ketiga pasangan itu adalah Ibrahim K Maedah- Paulus Moa yang diusung partai Golkar, Frans Lebu Raya- Esthon Foenay yang diusung PDIP, dan pasangan Gaspar P. Ehok-Yulius Bobo yang mendapat dukungan dari PKB, PKPI, Pelopor, PNBK

Keputusan KPUD yang hanya meloloskan tiga pasangan calon, rupanya ditanggapi aksi protes dari pendukung pasangan Benny K Harman-Alfred Kasse dan Alfns Leomau-Frans Salesman. Akibatnya KPUD NTT urung menetapkan nomor urut tiga pasangan cagub-cawagub yang semestinya diumumkan tanggal 8 Mei. Konsekuensinya KPUD terpaksa menunda jadwal pilkada NTT yang semula direncanakan berlangsung tanggal 2 Juni menjadi tanggal 14 Juni 2008 akibat tekanan yang datang betubi-tubi. Perubahan pilkada memengaruhi jadwal kampanye yang semula direncanakan tanggal 15-29 Mei menjadi tanggal 26 Mei-7 Juni 2008. Bahkan KPUD baru menetapkan nomor urut tiga pasangan calon cagub-cawagub pada tanggal 16 Mei lalu.

Kubu Benny alias Harkat mempertanyakan putusan KPUD yang mengakomodir dukungan PKPI pada pasangan Gaspar Ehok-Yulius Bobo yang baru diperoleh pada pendaftaran terakhir di KPUD. Sementara, kubu Alfons Leomau-Frans Salesman mempersoalkan pengalihan dukungan dari partai Pelopor kepada pasangan Gaspar Ehok-Yulius Bobo di masa-masa injury time.

Protes yang dilakukan dua kubu ini sangat bertolak belakang, sebab jika KPUD mengakomodir tuntutan Harkat, maka otomatis pihak Amsal tidak bisa mengklaim dukungan dari Partai Pelopor sebab pada pendaftaran pertama di KPUD NTT tanggal 8 April partai tersebut sudah bergabung dalam Koalisi Partai Abdi Flobamora bersama PKB, PPDI, PNKB untuk mendukung pasangan Gaspar P. Ehok-Yulius Bobo. Sebaliknya, bila tuntutan Amsal diakomodir KPUD, tidak otomatis dukungan PKPI pada Gaul pada pendaftaran tahap akhir di KPUD gugur karena partai ini tidak pernah bergabung dengan pasangan mana pun pada pendaftaran tahap pertama.

Akibat protes dan tekanan yang datang bertubi-tubi dari dua kubu tersebut maka KPUD mengulurkan waktu tahapan penyelengaraan pilkada NTT. Penundaan jadwal penyelengaraan itu, rupanya dimanfaatkan kubu Harkat dan Amsal untuk melakukan gerilya politik. Benny K Harman dengan dukungan DPRD NTT di bawah pimpinan Mell Adoe, misalnya, pada tanggal 9 Mei 2008 datang ke KPU. Kedatangan Benny dan Mell Adoe saat itu terjadi di saat Forum Masyarakat Peduli Pilkada NTT berunjuk rasa untuk memberikan dukungan moril kepada KPUD NTT untuk melaksanakan keputusan yang telah diambil dan menyelengarakan tahapan pilkada sesuai jadwal. Saat itu ketiga wakil pengunjuk rasa yang menyampaikan aspirasinya kepada Koordinator Desk Pilkada Dede Supriyadi, mendapat informasi secara langsung dari Dede bahwa ketua DPRD Mell Adoe meminta KPU untuk mengakomdir calon independent dalam pilkada NTT. Pada kesempatan yang sama Dede menjanjikan akan mengirim surat dukungan kepada KPUD NTT untuk melanjutkan tahapan pilkada paling lambat dua hari (red 11 Mei 2008).

Usai pertemuan Koordinator Desk Pilkada KPU, ketiga wakil pengunjuk rasa bertemu Benny K Harman bersama Robert Key Timu, Leksi Plate, dan rombongannya. Saat dihendak diwawancara di depan pintu KPU terkait dengan aksi protes pendukungnya di KPUD NTT Benny menghindar dan kabur menuju lantai dua KPU. Saat itu tidak diketahui persis siapa yang Benny temui dan apa isi pembicaraannya. Yang jelas ia datang bukan dalam kapasitasnya sebagai anggota Komisi III DPR-RI.

Seusai drama yang terjadi di KPU, Benny rupanya meneruskan aksinya. Ia merekayasa surat dari sebuah organisasi atas nama Leksi Kumpul Cs. Yang meminta KPU melakukan intervensi pada KPUD NTT untuk memproses ulang keseluruhan tahapan pilkada. Dalam surat itu nama-nama tokoh NTT di Jakarta, seperti Frans Seda, Chirs Siner Key Timu ‘dijual’ seolah-olah telah memberikan dukungan sepenuhnya pada Benny. Saat dikonfirmasi, tokoh-tokoh tersebut rupanya tidak pernah dikontak pihak manapun terkait dengan maksud dan keberadaan surat itu.

Ironisnya surat bodong itu menjadi pijkan Benny untuk ‘bermain mata’ dengan ketua KPU Prof. Dr. Abdul Hafiz Anshary sehingga ketua KPU mengatasnamakan lembaga mengirim faximile ke KPUD NTT yang berisi perintah untuk menunda pelaksanaan pilkada NTT. Surat tertanggal 14 Mei 2008 dengan nomor 926/15/V/2008 rupanya dikirim dari sebuah hotel di kawasan Tangerang.

Karena dalam surat itu tertera dengan coup dan cap KPU, KPUD pada tanggal 16 Mei 2008 KPUD NTT datang meminta konfirmasi dari KPU. Pihak KPU saat itu mengaku tidak tahu sama sekali dengan keberadaan surat itu. Mereka pun menggelar rapat pleno dan hasil dari rapat tersebut dituangkan dalam surat kepada KPUD NTT nomor 935/15/5/2008 tanggal 16 Mei 2008 yang isinya meminta KPUD NTT untuk memerhatikan UU yang berlaku dalam penyelenggaraan pilkada NTT.

Setelah memerhatikan permintaan KPU dan Depdagri, KPUD NTT secara bulat memutuskan melanjutkan kembali tahapan pilkada dengan menentukan jadwal kampanye dan hari pemilihan. Ironisnya, pihak Benny masih mencari ‘cela hukum’ untuk merongrong KPUD NTT. Benny, dalam berita yang dirilis ntt-online.org menuding KPUD terbukti telah melanggar ketentuan Pasal 59 ayat 5 huruf c UU nomor 32/2004, pasal 42 ayat 2 huruf c PP nomor 6/2005 dan pasal 6 ayat 4 dan 5 Peraturan KPU nomor 15/2008 tertanggal 13 Mei 2008 yang melarang tegas Parpol yang telah mendukung paket calon tertentu untuk menarik kembali dukungannya setelah didaftarkan ke KPUD NTT dan telah menandatangi kesepakatan koalisi dan Form B3-KWK yang disiapkan oleh KPUD sebagai syarat pencalonan.

Selain memberikan tekanan kepada KPUD Benny juga berusaha menghimpun pendapat dari sejumlah tokoh NTT untuk mewujudkan ‘libido’ politiknya. ntt-online, Jumat (23/5/200 8) merilis pernyataan Ben Mboy yang mengaku prihatin dengan kebijakan KPUD NTT. (Sekedar diketahui Ben Mboy merupakan pendukung setia Benny dan selama menjabat Gubernur NTT diduga telah meredam kesempatan Gaspar Parang Ehok untuk menduduki jabatan yang lebih tinggi dalam birokrasi NTT). Tampaknya Doctor yang menangis saat mempertahankan Disertasinya di Universitas Indonesia tahun 2006 lalu itu masih akan bermain dengan jurus-jurus politiknya.

Dalam cara yang berbeda Alfons Leomau memilih berkonfrontasi langsung dengan wartawan. Alfons mengancam wartawan Timor Express dan Pos Kupang yang memotret dirinya saat ia mengujungi delapan orang pendukung yang ditahan POLDA NTT terkait dengan perusakan kantor harian Timor Express. Langkah Alfons disinyalir bakal menjadi petaka besar bagi karir politiknya. Di samping citranya tercoreng, ia rupanya tidak mengantongi ijin dari Kapolri sewaktu tampil sebagai calon guberenur NTT.

Politik rupanya memberi penilaian yang benar pada waktunya. Alfons kini harus berurusan dengan hukum terkait dengan perbuatan tidak menyenangkan terhadap dua wartawan dan perusakan kantor Timor Express oleh pendukungnya. Tentu ancaman hukuman akan semakin parah bila pihak yang merasa dirugikan dalam pilkada NTT turut mengajukan laporan.

Terhentinya manuver Alfons karena blundernya itu, tentu tidak berarti menjamin penyelengaraan pilkada NTT yang aman dan tertib. Baik Alfons maupun Benny Harman diduga masih menyimpan energy politik yang dapat mengancam stabilitas politik dalam pilkada NTT. Menjelang masa kampanye yang akan berlangsung tanggal 26 Mei Mendatang, Benny mencoba menggaggu atmosfer politik NTT dengan menghembuskan isu adanya aliran dana dalam jumlah miliaran rupaih yang berasal dari salah satu calon pasangan cagu-cawagub ke rekening anggota KPUD masing-masing Robinson Ratu Kore (Ketua) sejumlah Rp1,5 miliar, John Lalongkoe (anggota) sekitar Rp2 miliar, John Depa (anggota) dan Hans Ch Louk (anggota), masing-masing menerima aliran dana Rp1 miliar. Bahkan hingga tulisan ini dibuat Benny masih menghimpun pendapat dari sejumlah tokoh NTT, seperti Ben Mboy (red pendukung setia Benny) guna mendukung ambisi politisnya.

Tragisnya lagi ketua DPRD NTT Mell Adoe setali tiga wang. Seakan berkolaborasi dengan Benny, ia dan DPRD NTT turut mengajukan keberatan terhadap putusan KPUD yang dinilai melanggar undang-undang. ntt-online. Jumat (23/5/200 8) merilis berita rencana DPRD menyampaikan keberatan terhadap putusan KPUD kepada Gubernur NTT.

Rakyat NTT Diharapkan Cerdas Mengambil Sikap

Manuver politik yang dilakukan baik oleh Alfons Leomau, Benny K Harman dan Mell Adoe justeru secara tidak langsung dilatari kehendak untuk menjegal pasangan Gaspar Parang Ehok-Yulius Bobo yang lolos atas dukungan koalisi partai dalam tahap verifikasi lalu. Pasangan yang disinyalir mendapat dukungan penuh dari kalangan masyarakat di Flores, Sumba dan Timor ini memang sejak awal sudah mendapat tekanan dari kekuatan-kekuatan yang berada di luarnya. Mereka menjadi sasaran kepung dari pihak Harkat, Alfons maupun DPRD NTT?

Diduga ada konspirasi tingkat tinggi antara sejumlah kepentingan yang menghendaki pasangan Gaspar P. Ehok-Yulius Bobo untuk gugur dalam pilkada NTT kali ini. Konspiraasin itu disinyalir datang dari dua unsur yang sama kuat, baik terkait dengan akses birokrasi maupun kekuatan modal dari sejumlah pengusaha-pengusaha ternama. Di kalangan masyarakat NTT Jakarta, (red Manggarai) santer beredar kabar bahwa untuk mewujudkan libido politiknya Benny K Harman, konon mendapat dukungan baik moril maupun materi dari tokoh-tokoh mapan maupun pengusahan asal NTT dan sokongan dana miliaran rupiah dari seorang pengusaha ternama Jakarta. Benny juga diduga mendapat dukungan dari Parpol besar yang ingin menjaga reputasi partai dan calon yang diusungnya dalam ajang pilkada NTT. Partain tersebut konon ingin mengakkan eksistensi dan citranya dalam skala nasional salah satunya mememnangkan paketnya dalam jalur pilkada.

Bila itu benar, maka salah satu pasangan cagub-cawagub saat ini yang dikenal jujur dan tidak neko-neko dengan segala bentuk korupsi maupun kompromi yang mergukan rakayat menjadi sasaran permainan mereka. Dalam pengamatan sejumlah tim Gaul Centre Jakarta, diduga kehadiran Benny dalam pilkada NTT hanya berfungsi sebagai garda depan atau robot yang bisa mewakili ambisi dan kepentingan Parpol dan pengusaha tertentu. Langkahnya mencalonkan diri sebagai gubernur NTT bukan dilatari panggilan untuk menyejahterakan masyarakt NTT, tetapi sebaliknya merusak peta kekuatan politik di NTT dan menghancurkan figure tertentu yang concern pada pada pembangunan untuk memerangi kemiskinan dan ketertinggalan masyarakt NTT.

Sebagai ganjarannya dari Parpol dan Pengusaha itu, Benny diduga mendapat dana dalam jumlah besar yang memungkinkannya bergerilya. Menilik lagi ke belakang, bukan tidak mungkin dengan dukungan dana tersebut ia sempat membuat PKB terombang-ambing dan memberikan dukungan ganda dalam pendaftaran pendahuluan 8-14 April 2008 lalu. PKB yang saat itu telah memberikan dukungan bersama koalisi Partai Abdi Flobamora kepada pasangan Gaspar Ehok-Yulius juga ikut dalam kolaisi partai PPP, Demokrat, PPDI (Endung Soetrisno-Simon Hayon) yang mendukung Benny dalam pendaftaran ke KPUD. Bahkan untuk mengacaukan dukungan dari PPDI, Benny menunggangi PPDI Ilegal sebagai bekal pendaftarannya ke KPUD. Ia rupanya tahu, bila PPDI tidak dikacaukan maka langkah Gaspar-Yulius akan berjalan mulus sebagai cagub-cawagub NTT. Untuk merealisasikan ambisinya itu, ia diduga rela mempertaruhkan jabatannya sebagai anggota Komisi III DPR-RI dengan memberi tekanan kepada Menteri Hukum dan Hak Asai Manusia dan Departemen Hukum dan Ham untuk memperlambat proses pengakuan keabsahan kepengurusan PPDI terkait dengan putusan pembubaran penggabungan partai tersebut dengan PDS dan Pelopor. Setelah mempermainkan pengurus PPDI, Depkumham akhirnya memutuskan untuk mengakomodir surat KPUD yang mempertanyakan keabsahan PPDI melalui suratnya tanggal 25 April 2005. Akibatnya partai tersebut tidak berpartisipasi dalam pilkada NTT. Padahal sudah dua tahun ia berjuang menggaungkan dukungan terhadap pasangan Gaspar Ehok-Yulius Bobo. Ironisnya lagi dalam pilkada daerah lain, dukungan mereka justeru diakomodir KPU.

Untung bagi Gaul dan malang bagi Harkat, PKB yang semula disebut-sebut telah memberikan dukungan pada Benny di saat injury time menarik dukungannya dan menetapkan pasangan Gaspar-Yulius sebagai calonnya dalam pilgub NTT. Rupanya DPP PKB sejak awal sudah menetapkan pasangan Gaul sebagai jagoannya. Klaim Benny yang menyatakan mendapat dukungan dari PKB sejak tahap awal pendaftaran rupanya hanya omong kosong belaka karena menurut orang dalam PKB SK yang diberikan pada Benny adalah SK Bodong.

Setelah seluruh energi dan biaya terkuras, Benny tetap tidak memenuhi criteria dukungan lima belas persen suara untuk lolos sebagai cagub NTT. Namun, mantan jurnalis pemberontak itu sulit menujukkan sikap sportif dan citra seorang politikus sejati. Ia masih berusaha menggoyang KPUD dengan langkah usahanya memengaruhi KPU Pusat untuk mengambil-alih pilkada NTT dan meminta keseluruhan tahap pilkada NTT diproses ulang. Lagi, tujuan Benny diduga bukan dalam rangka memelihara dan menumbuhkan demokrasi di NTT, tetapi diduga merupakan usaha untuk mempertanggung-jawabkan sejumlah dana yang telah diterima. Posisinya sebagai ahli hukum tata Negara memugkinkan UU dipakainya sebagai celah. Tentu, pakar hukum Tata Negara lainnya, bisa melakukan counter attack kepada Benny.

Melihat fenomena tersebut, rakyat NTT diharapkan merapatkan barisan dan berlaku bijak dalam menghadapi kemelut politik yang terjadi. Setidaknya memberikan dukungan kepada KPUD dalam menjalankan tahap pilkada semabri berkomitment menjaga ketentraman dan kedamaian dalam pemilihan langsung Gubernur NTT tanggal 14 Juni mendatang. Jangan biarkan demokrasi di NTT dikendalikan politisi cowboy untuk digadaikan kepada pengusaha nakal dan korup!

Menakar Tiga Pasangan Calon Gubernur NTT

Juli 26, 2008 oleh Irenius Lagung

Suhu politik NTT saat ini sedang panas. Tiga pasangan cagub-cawagub (Ibrahim Maedah-Paulus Moa, Frans Lebu Raya-Esthon Foenay, dan Gaspar P Ehok-Yulius Bobo) sedang berjibaku menjual program strategis demi menarik simpati rakyat. Masing-masing pasangan calon memiliki selling point yang diharapkan bisa merebut suara dalam pilkada tanggal 14 Juni mendatang. Tentu janji-janji politik yang dikemukakan perlu dibaca dari trade record masing-masing pasangan untuk dipahami apakah janji yang dikemukakan dalam pilkada sekedar lips service atau memang komitment politik yang akan mereka perjuangkan bila memimpin NTT kelak.

Sejauh pengamatan saya, dari tiga pasangan calon yang paling realistis menjual programnya adalah pasangan Gaspar P. Ehok-Yulius Bobo. Pasangan ini patut diacungi jempol, sebab mereka tidak sekedar bicara melainkan sudah memiliki ide dan strategi yang dipersiapkan sejak awal. Buktinya, sebelum terjun berkampanye mereka sudah meluncurkan buku putih untuk pembangunan NTT selama liam tahun ke depan. Hasilnya, materi kampanye mereka tidak meleset dari grand design yang telah ada sebelumnya.

Dua calon lain terkesan begitu kelabakan saat kampanye tiba. Mungkin karena kurang percaya diri pasangan Ibrahim A Maedah-Paulus Moa mengumbar janji pendidikan dan kesehatan gratis bagi masyarakat NTT. Mustahil bila Ibrahim Maedah-Paulus Moa mampu mewujudkan hal ini mengingat kondisi NTT yang serba minus. Jangankan pendidikan gratis, kesehatan masyarakat pun tak kunjung membaik. Kasus busung lapar hampir setiap tahun terjadi. Mustahil mewujudkan impian dua kampiun Golkar ini bagi NTT dalam masa lima tahun mendatang.

Sementara Frans Lebu Raya-Esthon Foenay gencar mengkampanyekan tiga peningkatan kualitas SDM, kesehatan dan pengembangan ekonomi rakyat. Program yang dikemukakan Frend tampaknya hanya melanjutkan program Tiga Batu Tungku yang digagas Piet A Tallo. Sebagai wakil gubernur NTT saat ini, tentu mudah saja bagi Frans Lebu Raya membicarakan hal itu sebab sudah menjadi makanan sehari-harinya selama kurang lebih lima tahun mendampingi Piet A Tallo. Pertanyaannya, bila memang Frans seorang pemimpin yang berdedikasi, mengapa mengapa selama masa jabatannya tidak banyak perubahan yang dialami rakyat NTT.

Apesnya saat Frans Lebu Raya dan Ibrahim A Maedah sedang asyik menjual janji-janjinya, KPK saat ini sedang memeriksa berkas dugaan korupsi dua oknum ini. Bukan basa-basi jika dua calon gubernur ini bila terpilih akan melanjutkan kultur korupsi yang menjamur di kalangan birokrat NTT

Gaspar P Ehok-Yulius Bobo, mungkin cukup realistis. Mengingat kondisi NTT sebagai propinsi dengan tingkat korupsi nomor empat nasional, keduanya menggagas manuver hebat, yakni berupaya membersihkan korupsi di kalangan birokrat di NTT. Menurut Gaspar, korupsi merupakan salah satu penyebab kemiskinan NTT, karena itu peningkatan kesejahteraan rakayt mau tidak mau harus berangkat dari kalangan birokrat. Bila birokrat korup maka rakyat akan tetap miskin…Walahualammm….

Bila menilik program-program yang diajukan masing-masing calon (tentu tidak semuanya dikemukakan di sini) serta trade record masing-masing pasangan tentu Gaspar dan Yulius adalah pasangan yang ideal memimpin NTT di masa datang. Jadi untuk apa NTT memiliki pemimpin muda kalau bermental korup!

Kegagalan Gaul Bukan Untuk Ditangisi!

Juli 26, 2008 oleh Irenius Lagung

Pilkada NTT (14/6/200 8) sudah tergelar. KPUD NTT dalam rapat pleno (21/6/200 8) menetapkan pasangan Frans Lebu Raya-Esthon Foenay sebagai peraih suara mayoritas dengan perolehan 772.032, menyusul pasangan Ibrahim A Maedah-Paulus Moa dengan raihan suara 711.116, sedangkan pasangan Gaspar P Ehok-Yulius Bobo menempati urutan buncit dengan perolehan suara 584.085 suara. Menariknya, dari 2.600-an ribu peserta pemilih, yang menjadi golput- entah karena sengaja- atau kertas suara dirusakkan- jumlahnya melampau jumlah perolehan suara pasangan Gaspar P Ehok-Yulius Bobo.

Kekalahan pasangan Gaspar P Ehok-Yulius Bobo yang diunggulkan dalam pemilihan ini, menarik untuk dikupas. Berbekalkan basis massa pendukung yang berada di Pulau Sumba dan Manggarai, pasangan ini menempati urutan nomor buncit, padahal jika sedikit bekerja keras bukan tidak mungkin mereka akan menduduki posisi puncak pimpinan NTT periode (2005-20013). Ada sejumlah kesalahan fatal yang menyebabkan pasangan ini mengalami kekalahan.

Pertama, Ketimpangan kualitas dan mobilitas tim sukses dalam hal ini Gaul Centre. Sejak terbentuk dua tahun lalu, praktisnya tim ini tidak bekerja maksimal. Tercatat hanya Tim Gaul Centre Jakarta yang menunjukkan semangat tanpa menyerah itu, sewatu berusaha mendapatkan dukungan dari partai-partai yang membentuk Koalisi Abdi Flobamora yang mencalonkan pasangan Gaul . Tim di daerah praktisnya hanya larut dalam euforia dukungan basis massa yang berada di Sumba dan Manggarai yang jumlahnya bisa mencapai 700.000 pemilih. Upaya untuk menggerakkan massa dan merebut simpati pemilih menjelang pemilihan nyaris kurang maksimal, sebab semua konsentrasi tim sukses lebih tertuju pada persaingan mendapatkan dukungan partai. Padahal, urusan tersebut tidak sedkit melibatkan TIm Jakarta dan Kupang.

Kedua, berbekalkan basis massa pemilih di Sumba dan Manggarai, Gaul melupakan peran media sebagai pembawa opini publik. Hal ini sudah dirasakan sejak awal, terutama saat-saat upaya saling jegal dilakukan menjelang tahap verifikasi final 2–28 April. Kubu Benny Harman-Alfred Kasse dan Alfons Leamau-Frans Salesman, gecar melakukan black campaign terhadap Gaul karena dianggap merebut dukungan dari partai yang sudah memberikan dukungan pada dua kubu tersebut-walaupun alasan itu masih bisa diperdebatkan- karena karena pada pendaftaran tahap ke KPUD PKB dan Partai Pelopor sudah memberikan dukungan pada Gaul bersama PPDI dan PNBK dalam Kolaisi Abdi Flobamora. Gaul hampir tidak pernah melakukan caunter attack melalui media untuk meciptakan opini publik yang berimbang. Situasi tersebut, justeru dimanfaatkan oleh pasangan Frans Lebu Raya-Esthon Foenay dan pasangan Ibrahim Maedah-Paulus Moa untuk merebut simpati publik, melalui publikasi program kerja. Dukungan modal yang kuat dari dua pasangan itu memungkinkan mereka bisa menciptakan opini publik yang cenderung melenyapkan massa pendukung Gaul berubah keputusan di hari pemilihan. Terkait dengan publikasi media tersebut, dua koran lokal Pos Kupang dan Timor Xpress patut dicurigai sebab tidak mempertimbangkan proporsi berita secara merata atas ketiga calon. Dalam arti tertentu, dua media lokal itu telah berperan melakukan pembunuhan karakter salah satu pasangan calon, yakni Gaul. Situasi tersebut bahkan dipertahankan hingga masa-massa kampanye.

Ketiga, keterbatasan dana menjadi pelengkap dari lemahnya kinerja tim sukses dan upaya merebut simpati melalui media. Dapat dipastikan, pasangan Gaul memiliki dana yang serba terbatas. Jangankan untuk membayar media, untuk pengadaan Baliho, Stiker, apalagi leaflet serta biaya operasional tim sukses hampir tidak ada. Ibarat maju berperang. Gaul ibarat tidak membawa perlengkapan senjata dalam sebuah pertempuran. Ia hanya mengandalkan nama dan kepercayaan diri yang tinggi. Apesnya, hampir sebagian besar saksi yang dipercayakan menjadi saksi di TPS yang jumlahnya mencapai 7.500-an di NTT tidak dibekali uang secukupnya, bahkan karena tidak memiliki dana banyak saksi yang tidak dibayar, bahkan ada beberap Gaul tidak meiliki saksi. Mengenai keberadaan saksi dan uang rokok saksi, bisa jadi menjadi salah satu penyebab jumlah suara yang diperoleh Gaul di luar Manggarai dan Sumba jauh dari harapan!

Keempat, penyebab lainnya usia Tim Sukses yang terdiri atas orang-orang tua dan cenderung feodalistik. Keberadaan tokoh-tokoh tua yang menjadi tim sukses Gaul juga menjadi penyebab lainnya. Kemapanan berpikir yang dimiliki orangtua, menyebabkan saran-saran Tim Gaul centre Jakarta untuk merangkul anak-anak muda sebagai tim sukses kurang didengar. Padahal dengan merekrut anak-anak muda, bisa memungkinkan persaingan di lapangan melalui promosi dari mulut ke mulut atau kegiatan-kegiatan yang bisa merangkul pemilih pemula bisa mengimbangi dua calon lainnya. Konon banyak anak-anak muda yang menaruh simpati pada integritas pasangan Gaul beralih menjadi tim sukses pasangan lain.

Kelima, Gaul gagal merangkul barisan sakit hati (Massa pendukung Harkat dan Amsal). Diperkirakan para pendukung dua kubu yang tersisih itu berperan sebagai tim sukses tambahan Gaul yang dapat mengalihkan masa pendukungnya kepada dua pasangan lainnya. Sebagai contoh, di kecamatan Satarmese, Manggarai Tengah, wilayah asal salah satu pasangan yang terpental, Gaul mengalami kekalahan. Faktor tim sukses yang berasal dari barisan sakit hati inilah yang diperkirakan turut meningkatkan perolehan suara Fren.

Lima hal di atas, diperkirakan menjadi penyebab kekalahan Gaul. Padahal secara program Gaul barangkali pasangan yang memiliki program dengan pendekatan scientific dan praksis yang jauh melebih dua pasangan lainnya. Pieter Sambut, yang dipercayakan membuat program pemenangan itu mengatakan, “Enam puluh persen program pemenangan Gaul tidak dijalani, bagaimana mungkin kita bisa menang”. Tentu faktor itu bukan karena kesengajaan, tetapi karena hambatan ketersediaan dana yang cukup.

Gaul, Gubernur tanpa Jabatan

Meratapi kekalahan Gaul sebagai pasangan ideal untuk memimpin NTT barangkali hanya bisa terobati dengan komitment pasangan ini memberantas korupsi di kalangan birokrasi yang menjadi salah satu penyebab utama kemiskinan di NTT. Komitment Gaul untuk memberantas kultur korupsi itu dapat diukur dari trade -record Gaspar dan Yulius yang bersih dari KKN bila dibandingkan dengan dua pasangan lainnya yang diduga melakukan korupsi. Bahkan program ini menjadi tema utama Gaul selama masa kampanye. Patut diapresiasi, bahwa selama masa kampanyenya Gaul tidak pernah melakukan black Campaign terhadap dua calon lain yang melakukan perbuatan tidak terpuji itu. Barangkali, faktor ini pula lah yang menjadi kelemahan Gaul sebab dua komopetitornya justeru memutihkan dosanya di hadapan rakyat sebagai sosok yang paling bersih.

Meski gagal, Gaul tetaplah pasangan yang perlu kita hormati, bahkan oleh politis mana pun di NTT, sebab ia telah menujukkan semangat sportifitas dan persaiangan tanpa melukai pasangan lain. Dan, sebagai harapannya, semoga saja spirit memberantas korupsi yang dikumandangan Gaul bisa menggugah Frans Lebu Raya-Esthon Foenay dalam memimpin NTT selama periode lima tahun ke depan. Dan, sebagai penutup adopsilah program Gaul yang sudah dibukukan dalam buku putihnya, tetapi sebagai pemimpin yang mengaku jujur di hadapan massa, ijinlah itu pada Centre For Community Development (CCD) Jakarta