In Memoriam Sophan Sophian
Sophan Sophian telah tiada. Berita itu datang begitu mengiris. Banyak kalangan tak percaya aktor sekaligus politisi ternama itu meninggal dunia. Sophan Sophian tewas dalam sebuah kecelakaan ketika motor Harley Davidson yang dikendarainya terperosok ke dalam lubang dalam perjalanan dari Ngawi, Jawa Timur menuju Sragen, Jawa Tengah, Sabtu (17/5/200
sekitar pukul 10.00 WIB. Sophan mengalami patah kaki dan tak sadarkan diri ketika di bawa ke rumah sakit Sragen, Jawa Tengah. Pemeran yang melejit namanya lewat film Pengantin Remaja itu menghembuskan napas terakhir.
Sophian pergi dalam baju kebesaran sebagai seorang pembalap. Tak disangka hobby mengendarai motor gede (moge) yang muncul di usia senjanya berujung tumbal dan ajal. Sophan mengikui konvoi Jalur Merah Putih dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Dalam konvoi yang diikuti ratusan kendaraan bermotor itu suami dari Widyawati ini mengenakan nomor urut lima. Saat melintasi hutan Widodaren yang terletak di antara Ngawi-Sragen motor yang dikendarai Sophan terperosok ke dalam lobang hingga nyawa si Raja Panggung era 70-an itu tak tertolong lagi.Tragis memang!
Tak ada firasat buruk atau sinyal duka yang hadir dalam benak isteri maupun keluarganya. Pria kelahiran Makasar 24 April 1944 itu hanya memberikan isyarat kepada rekan setianya Eros DJarot. Menurut Eros, dalam pertemuannya dengan sahabat kentalnya itu beberapa hari terakhir, Sophian lebih banyak diam. Eros tak percaya karibnya pergi di saat ia masih mengemban sebuah perjuangan besar bersamanya.
Dalam peristiwa naas itu, Widyawati sang isteri yang biasanya dibonceng tidak turut serta karena kondisi fisiknya cukup lelah. Widya sengaja memilih menumpang mobil rombongan. Sophan memang seorang suami yang cukup pengertian pada isterinya. Ia tak membiarkan anak-anaknya ditinggalkan kedua orangtuanya sekaligus. Makanya ia merelakan Widya tidak turut bonceng bersamannya. Sayang, pengertiannya itu menjadi kado terakhir yang paling pahit buat sang isteri. Ia meninggal dalam kesendirian, seakan tak mau disaksikan olehmata kepala isterinya sendiri.
Dari panggung Sandiwara ia menyeberang ke panggung politik praktis. Keberuntungan tampak berpihak pada pria dengan kumis menawan ini. Pemikiran maupun gebrakan politiknya luar biasa berpengaruh hingga menghantarnya terpilih sebagai ketua Fraksi Partai Demokrasi Perjuangan (FPDI) di Senayan. Sandiwara yang terlampau jauh diperlihatkan kalangan politis membuat ia gerah dan kemudian mengundurkan diri dari ketua Fraksi partai berlambang banteng dengan moncong putih tersebut. Banyak pihak menyebutkan, mundurnya Sophan karena kekecewaan yang terakumulasi, antara lain, perberbedaan paham dengan Megawati akibat ulah orang-orang ”indekos” di PDI-P. Juga karena PDIP tidak mendukung pembentukan Panitia Khusus (Pansus) penyelidikan dana nonbujeter Badan Urusan Logistik (Bulog) di DPR.
Pasca kemundurannya, Ia sempat menujukkan kepiawaiannya berakrobat sebagai politisi layaknya dalam panggung sandiwara ketika ia tampil sebagai tim sukses Amien Rais-Siswono Yudhoyusodo sebagai Capres-Cawapres yang diusung PAN dalam pemilu 2004. Namun, loyaitasnya pada PDIP tak luntur begitu saja. Ia layaknya “anak hilang’ yang harus segera dijemput kembali. Tidak heran pada saat Konggres PDIP bulan Maret 2005 di Bali namanya masuk dalam bursa balon ketua DPP PDIP bersama dengan Megawati.
Namun pria yang dikenal vocal itu tetap konsisten dalam prinsip dan perjuangan politisnya. Tahun 2005 ia bersama Eros Djarot dan Roy B. B Janis mendirikan Partai Demokrasi Pembaharuan yang bercirikan ‘nasionalis dan pluralis’ sebagai koreksi atas kinerja PDIP. Partai tersebut diperkirakan bakal lolos dalam tahap verifikasi KPU sebagai salah satu partai yang bakal mengikuti perhelatan demokrasi 2009. Sayang, Sophan tak sempat menikmati perjuangannya. Ia seperti nasib nabi Musa yang hanya melihat Negeri Terjanji Kanaan dari balik Gunung Horeb. Dalam perjuangannya menengakkan sekaligus memberi spirit lahirnya nasionalisme di kalangan anak bangsa, Sophan menghadap yang Mahakuasa.
Pada penghujung hidupnya, sebagai seniman Sophan juga mengarahkan perhatiannya pada perkembangan perfilman tanah air. Ia sempat tampil sebagai salah satu Tim Juri dalam FFI 2005, yang saat itu mememangkan Film Brownies yang dibintangi Marzella Zalianty sebagai film terbaik. Keputusan FFI itu sempat mendapat komentar miring dari Produser Indika Entertainment Shanker Punjabi, yang menilai Dewan Juri mendapat sogokan dari sebuah rumah produksi. Sophan saat itu tampil luar biasa membela orisinalitas dan idependensi penilain dewan Juri. Dalam sebuah dialog, yang mempertemukan Dewan Juri dan Shanker, ia tak segan membentak Shanker Dalam dialog yang dipandu H. Ilham Bintang itu,Sophan tampil garang melabrak siapa saja yang menentang idenpendensi dan orisinalitas Dewan Juri.
Namun, belakangan di saat perang terbuka anatara Masayarakt Film Indonesia yang diusung kaum muda dan Badan Perfilman Nasional, sikapnya jarang dipantau media. Padahal, sebagai orang film kita perlu mendapat komentar terakhirnya.
Dari Pengantin Remaja hingga Love
Kiprah Sophan sebagai bintang film dan politisi memang telah banyak diakui sejumlah kalangan dan rekan-rekannya. Penampilan Sophan muda dalam film Bunga-Bunga berguguran tahun 1970 rupanya sangat berkesan bagi Sutradara ternama Wim Umboh (almarhum). Sewaktu menggarap film Pengantin Remaja, Umboh sengaja memasangkan Sophian dan artis pendatang baru saat itu Widyawati. Kerhasilan Sophian dan Widyawati dalam film itu melesakkan nama mereka sebagai ikon pujaaan remaja. Popularitas keduanya semakin lengkap manakala suguhan gita cinta dalam film mendapat artikulasi sepenuhnya dalam cinta dan perkawinan.
Sophan tercatat sebagai sosok yang berhasil mengawinkan kehidupan panggung sandiwara dan politik sekaligus. Selain tercatat sebagai anggota Partai Demokrasi Perjuangan (PDP), memori masa lalu digugah saat terjun sebagai bintang film Love bersama isterinya Widyawati. Dalam film yang disutradari Watimena itu, Sophan bersama Widyawati beradu ackting dengan sejumlah bintang baru, seperti Luna Maya, Darius Sinathrya, dan Laudya Chintya Bella dan Acha Septriasa dan Irwansyah. Film yang dirilis pertama kali pada perayaan Valentine 14 Pebruari 2008 itu memang tidak sempat booming, tetapi ada getar pengalaman masa silam yang bisa menautkan pasangan Sophan dan Widyawati dari pengalaman membintangi film itu. Dari film itu nama keduanya makin banyak dikenal generasi masa kini yang tak sempat mencicipi film Pengantin Remaja. Dan, yang paling utama mereka dinobatkan sebagai ikon pasangan yang menjadi suri tauladan perkawinan di kalangan selebritis yang dihimpit petaka kawin dan cerai saat ini.
Sophan tidak saja meninggalkan baju kebesarannya sebagai seorang artis, tetapi juga sebagai politisi berkaliber. Sosok yang tidak pernah ketinggalan zaman, terbukti ia mampu nimbrung bersama para penggila moge di usianya yang sudah cukup tua. Namun keterlibatannya bukan dalam ajang kebut-kebutan untuk mendapat pengakuan sebagai anak gaul, tetapi sebagai duta yang ingin mengumandangkan kembali semangat nasionalisme dalam diri anak bangsa. Ia gugur dalam baju kebesaran itu. Tidak berlebihan bila di usia seabad Kebangkitan Nasional, Sophan juga diberi baju kebesaran yang sama dengan Sang Pencetusnya Budi Utomo, yakni sebagai Pahlawan Pembaharuan Nasinalisme Indonesia!