Pengunduran diri Julia Perez dari calon wakil bupati Pacitan minggu lalu cukup mengejutkan banyak pihak. Jupe yang diusung delapanPartai Koalisi dalam pertarungan merebut pucuk pimpinan tertinggi kabupaten Pacitan mengaku belum cukup matang untuk terjun dalam kompetisi politik yang begitu ketat. Keputusan itu justeru terjadi menjelang saat akhir tahapan pendaftaran calon di KPUD.
Selain ketidaksiapan mental, pengenalan dan pemahaman Jupe dalam dunia politik masih terbilang awam “Setelah gw pikir pikir ilmu gw belum lah sematang para senior gw yang telah duduk di bangku bupati dan wakil bupati. Ilmu saya masih iko dan perlu kematangan yang lebih. Apalagi kota Pacitan itu sangat luas, kota tersebut membutuhkan figur yang lebih baik lagi” kata kekasih Guston Castanyo ini saat di temui di bilangan Cibubur, Selasa (17/8/10 ).
Sejak awal rencana pencalonannya, Jupe sudah mendapat perlawanan dari pemuka agama dan ormas ormas yang mencekal kehadiran wanita 30 tahun ini di kota Pacitan. Jupe dengan dukungan partai koalisi sempat mencoba mencairkan kebekuan itu dengan melakukan sowan ke pimpinan setempat sekaligus mengunjungi beberapa wilayah di Pacitan, seperti pondok pesantren, demi merebut simpati massa.
Semakin rajin ia terjun langsung ke lapangan, semakin gencar tuntutan penolakan. Bahkan dalam aras politik nasional, pencalonan Jupe dan beberapa artis lainnya, sempat menjadi perdebatan hingga muncul renacan merevisi UU N0. 34/2004, terutama mengenai persyaraatan calon. Sadar akan kemampuan dan integritasnya yang belum layak, mantan istri pesepakbola Demian Perez ini memutuskan mundur dari bursa pencalonan.
Pengunduran diri artis seksi ini, mau tak mau menohok pola perekrutan dan kaderisasi partai pada umumnya. Kegagalan kaderisasi dalam tubuh partai politik menyebabkan minimnya pemunculan kader-kader baru yang berkualitas. Karena ketiadaan figur-figur baru itu parpol cenderung begitu mudah mengorbitkan figur artis, yang nota bene sudah dikenal luas. Apesnya, sejumlah artis, baik yang memahami maupun yang awam sama sekali dalam berpolitik, menerima begitu saja pinangan parpol tanpa mempertimbangan kapasitas dan jam terbangnya.
Akibatnya, selain parpol kehilangan pengaruh, si artis juga harus menanggung korban, bahkan tak jarang dipermainkan. Ratih sanggarawati, yang dijagokan partai Demokrat sebagai calon wakil bupati di wilayah Jawa Timur, misalnya, gagal total meraih suara terbanyak. Hal yang sama juga dialami Helmy Yahya, yang maju sebagai calon wakil gubernur Sumatera Selatan dua tahun lalu.
Kegagalan sejumlah artis bersaing meraih dukungan rakyat dalam pemilukada, menurut sejumlah pengamat politik, menujukkan adanya pergeseran pola pikir masyarakat, dari cara pikir yang mudah termakan rayuan gombal pencitraan menuju cara pikir yang lebih rasional di mana kemampuan dan integritas calon menjadi faktor penentu utama dalam menentikan pilihan.
Sayangnya pergeseran cara pandang ini, belum berlaku merata di Indonesia. Lemahnya sistem perekrutan dalam tubuh parpol tidak saja berlaku dalam pemilihan kepala daerah, tetapi juga terjadi dalam pemilihan legislatif 2009 lalu dan kemungkinan besar masih akan terulang pada pemilihan legislatif 2014 nanti. Hampir sebagian besar parpol, apalagi parpol baru, asal pungut calon demi memenuhi kuota aturan sebagaimana yang ditetapkan UU No10/2008 tentang DPR, DPRD dan DPD. Akibatnya, kualitas calon terpilih jauh dari harapan rakyat. Di kabupaten Manggarai Timur, NTT, misalnya, mayoritas anggota DPR yang terpilih, memiliki kapasitas dibawa standard dan harapan rakyat. Salah seorang di antaranya bahkan hanya berbekalkan ijazah paket A, B dan C. Siapa yang salah bila si DPR tak mampu menjalankan tugasnya: rakyat yang memilih atau parpol?
Pengunduran diri Jupe, selain menjadi pelajaran berharga bagi Parpol dalam mengubah pola perekrutan dan kaderisasi, juga menjadi peringatan berharga bagi politisi untuk membekali diri dengan sejumlah kecakapan dan integritas kepribadiaan yang cukup. Sebab, pemimpin yang berkualitas dan memahami seluk beluk sebuah daerah, berpotensi memajukan dan membbawa daerrah terkait lebih kompetitif dalam semua aspek.
Terlepas dari segala kontroversi atas pengunduran dirinya, Jupe, hari ini menjadi begitu berarti bukan karena kontroversi pencalonannya, melainkan karena keberaniannya untuk jujur pada diri sendiri. Sikap ini yang semestinya menjadi cermin sportifitas berpolitik. Dalam arti yang lebih luas, berpolitik bukan sekadar menjalankan libido atau nafsu kekuasaan, tetapi bagaimana mengelola kekuasaan demi kemaslahatan rakyat banyak!!!
Kaitkata: artis, Demokrat, DPR, DPRD Manggarai Timur, HANURA, Julia Perez, Kekuasaan, Koalis Partai, Pacitan, PAN, Pemilikada, Politik
September 12, 2010 pukul 1:14 pm |
Benar, Mekas.
Ada yg janggal dgn parpol sekarang yg cuma jual tampang pada masyarakat.
Kemampuan dan integritasnya dalam dunia politik sangat diragukan, sementara masyarakat tak mudah silau dengan wajah luarnya para politisi kita.
Khusus untuk DPRD KMT, kalo memang demikian kenyataanya, saya cuma prihatin dengan figur2 coba2 itu.
September 17, 2010 pukul 10:15 am |
Jgn prihatin dengan DPR tapi prihatin dengan kualitas pemilihnya
September 12, 2010 pukul 1:22 pm |
Salam kenal dari kampung terpencil Mberumbengus.
Senang sekali saya bisa menemukan blognya orang Manggarai Timur.
Hal yg masih sangat langka di daerah kita.
Btw, benar ya, orang KMT?
Ya, saya tertarik melihat nama di Facebook yg khas nama orang Kota Komba, hehehe
Banyak salam dari kami di kampung.
September 17, 2010 pukul 10:17 am |
iya Mberumbengus dulu wilayah Rongga, tepatnya batas utara…istilah mberumebengus sebenarnya dr kata Mberi Mbengi, nama satu jenis rumput yg tdk saya temukan lagi saat pulang kampung dulu.. wkwkwkwk
September 12, 2010 pukul 3:32 pm |
Aku gak tahu politik namun yang saya tahu memang si Jupe memang tak layak untuk menyandang jabatan tersebut. Syukur saja dia sudah sadar kalau dia juga diperalat oleh parpol yang mengusngnya
Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan
September 17, 2010 pukul 10:14 am |
thanks atas komentarnya bung