Posts Tagged ‘Manggarai Timur’

Menuju Penemuan Identitas Orang Rongga

Februari 16, 2010

Suku Rongga dalam sejarah Manggarai hampir tak pernah diperbincangkan. Bahkan banyak buku-buku sejarah tentang Manggarai menyamakan begitu saja wilayah kedaulatan suku ini dengan kerajaan Tanah Dena. Meski luput dari perhatian dan publikasi yang luas, ternyata hal itu tidak menenggelamkan begitu saja antusiasme orang Rongga dalam mengungkapkan jati diri, baik dari sisi sejarah, orisinalitas kebudayaan maupun kesenian, serta kedaulatan wilayahnya di masa lalu.

Sejauh ini penelitian tentang sejarah dan asal usul orang Rongga di wilayah Manggarai Timur, Flores, NTT baru menyentuh keunikan bahasanya. Suku yang mendiami wilayah Selatan Manggarai Timur ini, di samping unik dari sisi bahasa, ternyata memiliki sejarah peradaban yang cukup kaya. Wilayahnya tidak saja terbatas di Kisol dan Waelengga, tetapi meliputi sebagian dari luas kecamatan Kota Komba dan kecamatan Borong dengan batas-batasnya: Sebelah Timur berbatasan dengan Wae Mokel, bagian Barat berbatasan dengan Wae Musur (Sita). Di utara berbatasan dengan suku Mendang Riwu, Suku Manus, dan Suku Gunung. Sementara di selatan diapiti laut Sawu.

Sebelum kerajaan Todo mengadakan ekspansi besar-besaran ke wilayah Timur, daerah ini sudah dikuasai orang Rongga selama berabad-abad. Kedatangan suku Keo dari Selatan Barat Laut tidak serta mereta menggeser peran sentral orang Rongga di wilayah ini. Sekitar abad ke-12 dan 13 terjadi pergolakan besar di mana Suku Rongga dibawa pimpinan suku Motu Poso mengusir sejumlah orang Keo yang datang dan hendak menguasai wilayah ini. Pertempuran itu berhasil mengusir pulang orang Keo yang saat itu mendiami wilayah Kota Ndhora, Mboro (Borong), Waereca,  Tanah Rongga (Golo Mongkok). Akibatnya, sebagian orang Keo yang terdesak melarikan diri ke arah Barat, Melo, wilayah kecil yang berbatasan dengan dengan Iteng, Manggarai Tengah. Suku Keo yang mendiami wilayah Melo kemudian mengadakan kontak dengan suku Todo dan mengklaim wilayah Rongga sebagai daerah kekuasaannya sehingga dengan mudah pula Todo menamakan wilayah ini dengan nama Kerjaan Adak Tanah Dena. Dengan demikian di mata Todo, wilayah Rongga disamakan dengan wilayah Kerajaan adak Tanah Dena. Padahal de facto dan de jure  wilayah itu merupakan  bagian dari wilayah Rongga Ma’bha.

Ekspansi Todo sekitar abad 18 ke wilayah Timur untuk mengusir orang Keo barangkali tak akan berjalan lancar bila saja tidak didukung akumulasi kebencian orang Rongga pada suku Keo. Proses penaklukkan itu begitu mudah manakala strategi perkawinan, dipakai sebagai senjata penaklukkan. Dalam kisah lisan yang berkembang di Tanah Rongga, konon, mula-mula Todo memberi gadis bernama Dhari kepada Tuan Tanah yang menguasai wilayah Rongga Barat (Rongga Ma’bah). Setelah ikatan kekerabatan mulai terjalin akrab, Todo menyewa salah satu suku kecil di Rongga Ma’bha untuk mewujudkan rencana besarnya menaklukkan Komba, Rongga Timur atau yang lebih dikenal dengan sebutan Rongga Ruju. Strategi itu berjalan mulus.

Upaya Todo mengembangkan wilayahnya hingga Watu Jaji berjalan lancar karena mendapat sokongan dari suku Rongga, baik Rongga Mabha maupun Rongga Ruju, yang sudah memahami karakter dan topografi wilayah Ngada. Namun, dalam kisah penaklukkan Todo terhadap Ngada hingga Watu Jaji nyaris tak pernah diungkapkan peran dua pahlawan Rongga Nai Pati dan Jawa Tu’u. Dua sosok ini selain menjadi figur sentral di balik kemenangan Todo atas Ngada, juga berperan vital memperkuat pasukan Todo dalam ekspansi dan penaklukan Cibal.

Selanjutnya, dalam sejarah, upaya Todo menanamkan pengaruhnya di wilayah Manggarai dengan membentuk pemerintahan kedaluan yang kemudian berlanjut dengan UU NO. 5/ 1979 tentang Pemerintahan Desa membuat pemerintahan adat di wilayah Manggarai tergeser. Perubahan itu ternyata diikuti dengan proses penaklukan budaya. Tidak terkeculai wilayah Rongga. Akibatnya cukup banyak ikon budaya Rongga yang terancam punah, seperti pakaian adat dan rumh adat Rongga, menyusul aksen penyebutan nama beberapa tempat yang berubah,  seperti Mboro menjadi Borong, Tanah Rongga menjadi Golo Mongkok, dll. Hampir seratus tahun orang Rongga tak sadar kehilangan identitas budayanya.

Salah satu yang masih bertahan hingga saat ini adalah tarian Vera. Tarian ini adalah warisan yang tidak kita temukan dalam kebudayaan Manggarai maupun Flores umumnya. Gerakannya yang khas serta pertunjukkannya yang hanya berlangsung secara aksidental pada acara adat tertentu membuat generasi masa kini tidak banyak lagi yang bisa memeragakan tarian ini. Serbuan berbagai budaya populer juga membuat tradisi Vera kian memudar di kalangan generasi muda Rongga.

Kehilangan beberapa simbol budaya Rongga tentu juga dilatari kebijakan pemerintah daerah Manggarai selama beberapa dekade yang terkesan menyeragamkan begitu saja kearifan dan keunikan budaya lokal yang berada di wilayahnya ke dalam satu kesatuan budaya bernama Budaya Manggarai. Pengalaman sejarah ini bagi orang Rongga adalah suatu yang cukup pahit untuk dikenang. Apalagi saat itu, Gereja yang nota bene mendapat tanah gratis untuk mendirikan Seminari di Kisol tak memiliki perhatian apapun untuk perkembangan kebudayaan maupun pendidikan di kalangan orang Rongga.

Wajar, bila dalam peta masyarakat Manggarai, Rongga menjadi terbelakang bila dibandingkan dengan wilayah-wilayah lainnya dari sisi budaya dan pendidikan. Terpinggirnya kebudayaan Rongga menjadi kian parah karena ketiadaan kamu terdidik dari kalangan Rongga yang mencapai bangku pendidikan tinggi. Bayangkan saja pada tahun 70-an hanya ada satu orang Rongga yang berhasil menyandang gelar Sarjana. Tahun 80-an hanya berkisar sekitar lima hingga sepuluh orang sarjana. Perode 90-an hingga kini mulai bermunculan Sarjana-Sarjana orang Rongga.

Seiring dengan kebangkitan pendidikan di kalangan orang Rongga, ada sebuah kegelisahan yang terus mengusik sejumlah kaum terdidik Rongga untuk mengungkapkan identitas sejarah dan kebudayaannya. Kegelisahan itu mendorong saya secara pribadi untuk mengadakan penelitian kecil mengenai sejarah, budaya dan kesenian Rongga. Penelitian awal saya lebih mempertanyakan asal usul dan sejarah Rongga, selanjutnya perbedaan budaya dan kesenian yang ada antara orang Rongga dengan Manggarai maupun Ngada.

Banyak temuan yang cukup mencengangkan, di antaranya tentang peradaban Rongga yang tersisa sejak zaman batu, situs-situs peninggalan perang, maupun filsafatnya yang cukup kokoh sebagai pegangan hidup orang Rongga zaman dulu. Tentu, penelitian kecil ini memang jauh dari proyek dokumentasi budaya yang ideal karena tak akan ditemukan pemamparan mengenai temuan arkelogis karena fokusnya memang bukan untuk itu. Namun saya yakin proyek kecil ini akan menjadi pembuka dialog sekaligus pancingan bagi Atropog untuk menelusuri jejak kebudayan Rongga. Untuk melengkapi bahan peneleitian ini, saya juga menggunakan literatur, seperti Nusa Nipah, Sareng Orinbao (Piet Pettu), Manggarai Mencari Era Pencerahan Historiografi karya Almarhum Daminus Dandu Toda sebagai referensi. Semoga apa yang sudah dimulai bisa membuahkan hasil yang menggembirakan.

SUKU MOTU POSO DALAM LINTASAN SEJARAH

Januari 9, 2010

Asal Usul Suku Motu Poso

Suku yang memiliki peran vital dan berpengaruh dalam sejarah Rongga adalah Suku Motu Poso. Kisah tentang suku ini barangkali akan terpendam begitu saja bila tidak ada upaya untuk mewarisinya dalam bentuk tulisan. Berikut ini, adalah penggalan sejarah dan sepak terjangnya dalam kancah sejarah suku Rongga, Manggarai Timur.

Suku Motu Poso, selain dikenal sebagai pemangku jabatan tuan tanah di wilayah Rongga Ma’bah, juga berperan besar dalam upaya menegakkan kedaulatan wilayah Rongga tempoe doeleo. Nenek Moyang suku ini, menurut cerita lisan yang berkembang, konon, berasal dari Wilayah Sumatera Barat ( Minangkabau). Gejolak sosial yang terjadi di wilayah Minangkabau sekitar abad ke (?) memaksa sebagian masyarakat melarikan diri ke sejumlah wilayah di Indonesia. Salah satu tempat tujuan pengungsian mereka adalah sepanjang pesisir Laut Sawu, Flores, termasuk Loko Ture, wilayah Pantai Selatan Manggarai Timur, sekitar 15 km dari Kisol.

Dalam tradisi lisan dikisahkan bahwa nenek moyang Suku Motu Poso adalah Weka dan Ture. Dua bersaudara ini masuk ke tanah Rongga dalam kurun waktu yang berbeda. Dari negeri asalnya Minangkabau, Weka melarikan karena menolak menikah dengan gadis pinangan orangtuanya (puteri sang Paman). Weka bersama gadis pilihannya bernama Motu akhirnya memutuskan untuk meninggalkan tanah Minangkabau menuju Loko Ture. Dari Miangkabau Weka berlayar melewati Pantai Selatan Jawa dan kemudian memilih mendarat di Loko Ture, Manggarai Timur Selatan.

Kepergian Weka kemudian diikuti Ture, sang adik.  Kisah perjalanan Ture meninggalkan daerah Minangkabau menuju Loko Ture berlangsung dalam suasana penuh dramatis.  Gelombang dan badai memaksa Sampan (Kowa ) yang ditumpangi Ture mengalami kebocoran di Laut Selatan Jawa.  Beruntung Ture diselamatkan oleh para nelayan dari pesisir pantai selatan Jawa.  Namun upaya pertolongan yang dilakukan pelaut Jawa itu rupanya membawa petaka bagi Ture. Ia ditawan hanya karena salah mengucapkan sebuah kata (puki) yang membuat para pelaut Jawa tersinggung.

Impian Ture untuk menyusul kakaknya Weka  hampir saja kandas di tangan pelaut Jawa. Namun pada suatu malam dalam mimpinya, Ture mendapat pentunjuk untuk menyusuri jejak sang kakak. Dalam mimpinya Ture bertemu dengan ikan paus raksasa yang kemudian menjadi Dewa Penyelamat dan penunjuk jalan baginya menuju tempat di mana sang kakak berada. Ture diminta untuk menunggang ikan Lumba-lumba (ngembu) menuju tempat kediaman sang kakak dengan bekal tujuh buah ketupat, tujuh ruas bambu berisi air dan tujuh duri Jeruk asam.  Tujuh duri jeruk asam bertujuan untuk menjaga komunikasi antara Ture dan Ikan Lumba-lumba. Bila selama perjalanan Ture merasa gerah, ia boleh memberi isyarat dengan menusukan duri jeruk asam pada punggung sang ikan untuk menenggelamkan diri dari permukaan laut. Demikian juga bila ia sudah merasa dingin,ia bisa menusuk kembali duri jeruk asam agar sang ikan mengangkat punggungnya ke atas permukaan air.

Berbekalkan tujuh buah ketupat, tujuh ruas bambu berisi air dan tujuh duri jeruk asam Ture mampu menyeberangi gelombang dahsyat Laut Selatan Jawa menuju Laut Sawu hanya dalam waktu tujuh hari tujuh malam dan mendarat  di Loko Ture, tempat yang semula menjadi tujuan kedatangan kakaknya Weka. Dalam perpisahannya dengan ikan Paus Ture mendapat hadiah dalam bentuk sebuah pedang istimewa yang dimuntahkan dari mulut sang ikan sebagai bekal untuk melawan musuh dan mencari nafkah.

Selama sekian lama ia menetap dan mencari nafkah di Loko Ture serta menjalin interaksi dengan manusia Proto Rongga yang bermukim di sekitar wilayah pantai selatan. Perjumpaannya dengan manusia Rongga memuluskan jalannya untuk menemukan jejak atau keberadaan Weka,  sang kakak.

Saat itu Weka yang sudah menetap di Sari Kondo. Rumors kencang, yang menceritakan kedatangan adiknya mendorong Weka untuk mendatangi sang adik. Semula Weka masih menaruh curiga akan keberadaan sosok adiknya itu. Dalam hatinya Weka berpikir, “ Jangan-jangan sosok pemuda yang berada di depan matanya adalah penyamar yang bisa berubah menjadi ancaman serius bagi keselamatan jiwanya”. Weka kemudian melakukan investigasi terhadap Ture hingga pada akhirnya ia benar-benar yakin setelah Ture menceritakan tentang keberdadaan sanak saudara mereka di Minangkabau serta sejumlah kisah kebersamaan mereka selama di negeri asal.

Setelah Weka cukup yakin dengan sosok yang berada di depan matanya adalah adik kandungnya sendiri, maka terjadilah sebuah adegan dramatis yang mengharukan. Kakak beradik itu berpelukan disertai isak tangis.  Pesisir pantai Loko Ture pun menjadi saksi sejarah. Kisah perantauan dua bersaudara itu terpatri dalam sebuah syair Vera (tarian khas orang Rongga)

Weka Ture ndhili mai/tu monggo Sari Kondo
Weka welu Jawa Ture / Ti Motu tanah Medzhe

Kisah yang berkembang secara turun temurun itu dikukuhkan dalam upacara/ ritus adat seperti Pau Manu, Pau Wawi, dan Pau Kamba. Dalam acara-acara itu, nama Ture dan Weka selalu disebut turunan Suku Motu sebagai nama pertama mendahului nama nenek moyang lainnya.

SUKU MOTU PASCA WEKA & TURE

Weka dan Ture setelah mendarat di Loko Ture menetap bersama di Sari Kondo. Karena hidup masih mengandalkan hasil hutan, mereka akhirnya berpindah dari satu tempat ke tempat lain, seperti Nunu Wula, Wolo Poso, Nua Nangge (Loko Ture). Periode ini merupakan masa-masa bulan madu bagi kakak beradik itu. Keduanya pun mengembangkan keturunan di Tanah Rantau. Weka bersama Motu, gadis yang dibawanya dari Tanah Minang memiliki empat orang putera, sedangkan Ture yang menikah dengan gadis lokal dianugerahi tiga  orang putera. Dari Weka dan Ture inilah muncul nama suku/klan Motu. Nama tersebut diadopsi dari isteri Weka yang pada generasi awalnya masih lekat dengan kultur matrilineal Minangkabau.

Generasi awal turunan Weka dan Ture semula benar-benar  menjaga kekompakan. Semangat gotongroyong dan kekeluarga menjadi ciri kehidupan yang sangat menonjol. Setelah generasi Weka dan Ture Meninggal terjadilah perpecahan di antara mereka. Peristiwa perburuan kera di sekitar wilayah Wae Motu berbuntut perpecahan dua keluarga ini. Persoalannya sangat sepele, yakni hanya gara-gara tidak kebagian kuah daging kera. Drama perpecahan itu terlukis dalam patah/ syair vera di Nunu Wula:

Motu Woe Lima Z dhua/ Embu Mea Sunggisina
Motu Woe Lima Z dhua/ Embu Mea Amewea
Motu Woe Lima Zdhua/ Bheka Tange Wae Kode

Setelah periode itu, keturunan Weka dan Ture mulai terpisah. Keturunan Weka, dalam hal ini Sunggisina dan ketiga saudarnya lebih banyak berorinetasi mencari nafkah ke arah Timur hingga Aimere dan Were, Ngada di wilayah kabupaten Ngada (Untuk menyingkap penyebaran suku Motu ke wilayah Ngada dibutuhkan sebuah penelitian yang serius). Sementara keturunan Ture dslsm hsl ini Amewea dan dua saudarnya memilih mencari nafkah dan menetap di wilayah Barat, Wolo Ndeki.  Pepecahan kedua keluarga ini juga berpengaruh pada ikon-ikon yang dipakai sebagai simbol kebanggaan keluarga. Keduanya bersaing baik dalam kekayaan maupun kharisma. Persaingan itu tampak dalam pemilihan nama kuda kebanggaan dari masing-masing keluarga, seperti dalam syair Vera berikut:

Jara nga’zha Kolo Ndasi/ le’dha lo’dhe Sunggisina
Jara nga’zha Keka Motu/ le’dha lo’dhe Amewea

LAHIRNYA NAMA SUKU MOTU POSO

Perpercaahan keluarga Motu yang diwakili Sunggisina dan Amewea menyebabkan ikatan di antara suku Motu mulai renggang. Amewea dengan dua Saudaranya memulai pengembaraan baru di wilayah barat Rongga. Semula mereka masih menjaga kekompakan namun lama kelamaan mereka cenderung menyebar sendiri-sendiri. Amewea memiliki tiga orang putera, yakni ________, _________, dan______. Sampai dengan enam generasi setelah itu turunan Amewea masih memiliki satu rumah adat. Pada periode Meka Mangi terjadilah perpecahan di antara mereka. Penyebabnya karena ulah sang kakak yang menjual enam orang budak milik adiknya kepada orang Bima.  Perpecahan ini membuat Mangi dan keturunannya membuat rumah adat baru. Karena pada saat perpecahan mereka mendiami wilayah Poso maka mereka kemudian menamakan diri Suku Motu Poso. Pengukuhan identitas baru dengan atribusi Poso menjadi ciri  istimewa suku ini yang membedakannya dengan suku-suku Motu lainnya yang berada di wilayah Rongga.

Dalam perjalanan di wilayah Rongga Ma’bha, dominasi suku Mangi dan keturunannya dalam hal ini suku Motu Poso cukup terasa di wilayah ini. Suku ini kemudian memainkan peranan utama di wilayah Rongga Ma’bha.  Selain dihormati karena dianggap sebagai suku terkemuka karena memiliki harta dan pengaruh yang besar, suku ini berperan vital  dalam menjaga kedaulatan wilayah Rongga Ma’bha.

Pada abad  (12 & 13 ?) Suku Keo dari Wilayah Nagekeo (Keo Selatan Barat Daya) datang dan bermukim  di wilayah ini. Kedatangan suku ini semula dianggap sebagai sahabat. Namun setelah jumlah mereka makin banyak, suku dari wilayah Nage Keo ini mulai menentang adat istiadat yang berlaku di wilayah Rongga. Konflik sosial pun pecah karena orang Rongga yang merasa sebagai tuan tanah tidak dihargai. Dibawa pimpinaan Meka Kumi dan Meka Nggere dari suku Motu Poso terjadilah peperangan dahsyat di tanah Rongga.

Sejumlah orang Keo terbunuh dan sisanya melarikan diri ke wilayah asalnya. Salah seorang Pimpinan pasukan Keo bernama Laki Tara tewas terbunuh di  Wolo Redi, di wilayah sekitar Pandu, Lembur sekarang. Hingga hari ini gunung yang tujuh tahun lalu (2002) gundul untuk kepentingan lahan pertanian itu, dikenal dengan sebutan Wolo Tara sebab di situlah pimpinan pasukan Keo dikuburkan.

Hingga hari ini bukti kekalahan orang Keo di Tanah Rongga tampak dalam sejumlah pekuburan di daerah Borong dan sekitarnya, seperti di Kampung Golo ( Wae Reca), Golo Karot, Kota Ndhora, Lesa Kuku sebelah atas Lia Mbala dan sejumlah tempat lainnya. Pekuburan itu ditandai dengan batu  bersegi yang ditancapkan membentuk sudut 90 derajat.

Sebagai bentuk ucapan terima kasih atas keberhasilan suku Rongga mengalahkan Keo, Suku Suka yang saat itu menjadi pemegang hak ulayat di  wilayah pantai selatan hingga Wae Musur menghibahkan sebagian wilayah ulayatnya untuk suku Motu Poso dengan batas-batasnya sebagai berikut:

Bagian Timur :

Toko Ika – Tanah Bara – Muku Lia – Tiwu Toro – Woa Kowe – Alo Ila –Watu Sila –Wolo Maghi – Loa Keti/ Mbaru Jawa – Ndheru Wowo ( wolo Sika) – Moko Loko – Kora – Ngamba Sapi – Bheto Londo ( sekolah baru Leke) – Kolu Kawe/i – Wae Ku

Bagian Utara

Wae Ku – Watu Nepa/ Wae Sele – Koka – Leni – Wolo Tara – Mbela Turi – Wae Namba – Wae Sati, Sambi  Nggoko – Peot – Mondo – Watu Mori

Batas Barat

Watu Mori ( Paka- Sita) – Wae Musur- sampai Pantai Selatan

Batas-Batas  Wilayah Motu Poso dengan wilayah Ulayat lainnya:

Toko Ika – Kora,  berbatasan dengan wilayah ulayat Suku /Tanah Tanda. Penguasa Ulayat  Pius Ndoi

Kora  – Wae Ku berbatasan dengan wilayah ulayat Suku Woko Pau, Penguasa ulayatnya Deus Melang

Wae Ku – Bela Turi berbatasan dengan wilayah ulayat suku Weru, Penguasa Ulayat  Pettu Jangga

Bela Turi –Sambi Nggoko, berbatasan dengan wilayah ulayat suku suka Ndare, penguasa ulayat Yoseph Sole

Sambi Nggoko – Peot – Mondo, berbatasan dengan wilayah ulayat suku Mendang Riwu,……

Mondo -Wae Laku – Wae Musur berbatasan dengan wilayah ulayat suku Kempos Sita, pemegang hak ulayatnya  Ande Cendol

Wae Musur- muara hingga Pantai Selatan berbatasan dengan wilayah ulayat Suku Torok Golo, pemegang hak ulayatnya Cuwik dan Uwik.

Sebagai tanda bahwa orang Rongga pada masa itu benar-benar menguasai wilayah itu, hingga kini ada sejumlah tempat di wilayah Borong hingga Wae Musur yang dinamai dengan nama-nama Rongga. Namun karena pengaruh suku Mangarai sejumlah tempat mengalami pergantian aksen, seperti berikut ini:1) Sepi Watu > Cepi Watu 2)Toka > Toka, 3) Jawa> Jawang 4)Tanah Rongga > Golo Mongkok, 5) Wae Resa>Wae Reca,  6) Wae Bobo>          Wae Bobo ,  7)Mboro >Borong,  8) Watu Ipu>Watu Ipu,  9) Wolo Kolo>        Wolo Kolo,  10) Tanggo>Tanggo,  11) Weja Kalo>Wejang Kalo, 12) Watu Nggo > Watunggong,  13) Leke> Lekeng, 14) Sambi Donga> Sambi Donga, 15  Mbo Ndei > Mbo Ndei (Rumah Mbupu (Ibu) Ndei)

Tak lama setelah mengalami kontak dengan suku Sumba di wilayah Tanggo dan Borong Suku Motu Poso memberikan mandat kepada suku yang diangkat sebagai ana fai itu untuk menjaga tanah ulayat di wilayah barat hingga Wae Musur.

Rongga memang bak tanah terjanji yang menjadi incaran semua suku di Flores Tengah saat itu.  Setelah Keo berhasil diusir pada sekitar abad 17, Kerajaan Todo dalam upaya ekspansi wilayahnya datang dan bermukim di wilayah itu. Sama seperti kedatangan orang Keo pertama kalinya, Todo pun datang ingin menguasai Tanah Rongga. Kedatangan mereka di bagian barat Rongga berlangsung secara damai melalui  ikatan perkawinan. Mereka menghadiahkan seorang gadis bernama Ndhari kepada Pua dari Suku Motu Poso.

Perkawinan itu rupanya menyimpan strategi terselubung, yakni melakukan ekspansi ke wilayah Rongga Ruju (Komba). Saat itu wilayah ini menjadi satu-satunya wilayah yang sulit dilewati karena kekuatan pasukan perangnya. Selama puluhan tahun Todo terlibat peperangan melawan Komba, namun hasilnya sia-sia. Sepanjang musim mereka terpaksa menggarap tanah di sekitar Loko Ture dalam rangka mengawasi pergerakan orang Komba. Namun Komba bak batu karang yang susah ditaklukkan. Singkatnya jika Todo ingin menaklukkan Komba mereka harus berhasil melewati sebuah lorong terjal di sekitar wilayah Tandu Nunu yang menjadi pintu utama menuju benteng Komba.

Pada masa-masa menjelang kehancuran Komba, hubungan antara Todo dan Rongga Mabha sudah terjalin erat berkat perkawinan Pua dan Ndari. Todo akhirnya berhasil membujuk beberapa orang Rongga Mabha untuk mencari tau cara mengalahkan Komba. Hubungan kekerabatan yang sudah terjalin erat memuluskan Todo memperoleh informasi vital dari pihak Rongga Mabha tentang lorong misterius menuju benteng Komba.

Setelah mengetahui jalan menuju benteng Komba, Todo mulai melakukan penyerangan terhadap Komba. Perang yang disebut Bheka Komba II itu melibatkan sejumlah kaum perempuan Komba. Setelah hampir semua lelaki Komba terbunuh, pihak perempuan tak mau ketinggalan. Mereka melakukan strategi ala Perang Puputan untuk mengalahkan Todo. Ratusan orang Todo tewas di tepi jurang Wolo Komba. Namun, Komba sudah hancur nyaris tak bersisa dan menderita kekalahan total. Para pejuang Todo pergi membawa pulang sejumlah gadis cantik dari Komba ke Todo untuk dijadikan isteri.  Sampai sekarang antara Todo dan Komba terjalin hubungan kekerabatan selaku ana haki dan ana fai. Komba sebagai pemberi gadis bertindak sebagai ana haki, sementara Todo sebagai anak fai (penerima gadis).

Setelah menjadikan Rongga secara keseluruhan sebagai mitranya, Todo melakukan ekspansi hingga wilayah Watu Jaji, Ngada. Selanjutnya dalam upaya menancapkan kekuasaannya  di Manggarai dengan bantuan pahlawan Rongga, Jawa Tuu dan Nai Dewa, Todo menaklukkan Cibal. Dari sejarah penaklukan dan perkawinan itu kekuasaan dan pengaruh Todo di Manggarai berjalan hingga akhir masa orde baru berbakat strategi perkawinan.

HUBUNGAN SUKU MOTU POSO & TODO

Hubungan kekerabatan antara suku Motu Poso dan Todo berlangsung  mesra hingga akhir tahun 1966. Todo selaku pemberi gadis bertindak sebagai (ana haki) sementara Motu Poso  sebagai penerima gadis (ana wai).

Perkawinan Pua dengan gadis Todo bernama Ndhari melahirkan Ndhesa dan Taso.  Ndesa dan Taso kemudian memilih menetap di wilayah Kenda dan Kembo. Pembukaan Lodo Kenda dan Kembo itu  ditandai dengan Vera selama sembilan hari sembilan malam. Hingga kini cakupan wilayah Lodo Kenda dan Kembo itu masih tergambar jelas dalam sebuah ungkapan (pata’) Vera:

DAPU LAU SA’DHA DHA’DHA
SORO MA’E NGGUTI  NGGUMI
KEMBO NE KENDA
MENDU DHEU MEDHE NDE

Hasil panen dari Lodo Kenda ini sangat berlimpah. Pare Dhupa (bulir padi yang terbungkus daun) menjadi simbol kesuburan wilayah ini. Dalam kebiasaan orang Rongga jika hasil panennya melimpah seperti itu, maka sang pemilik mesti mengadakan upacara syukuran dalam bentuk Vera. Weka dan Taso mengadakan Vera selama sembilan malam. Salah satu ungkapan (pa’ta) Vera yang masih dikenal di kalangan suku Motu Poso hingga sekarang adalah:

NGGO’TI UMA KEM’BO NGGO’TI TEM’BU
DHE’A DHA’LE KENDA DHE’A MEMA
LA,I KERI KENDA LA,I LEWA
NGHUM’BU SA’O TASO NGHUM’BU RAO

Setelah masa keemasan dalam arti kesuburan Kenda dan Kembo mulai menurun, turunan Meka Ndhesa, yakni Meka Kako pindah ke Rone. Kako memperanakkan Lajo, Monggo dan seorang perempuan bernama  Nau. Nau kemudian menikah dengan Weka dari Suku Kelok Waerana. Anak pertama Nau adalah Epa. Dalam budaya Rongga, setiap anak lelaki pertama dari pihak perempuan harus kembali ke suku asal ibunya. Epa yang ayahnya berasal daru suku Kelok mesti kembali ke pihak anak haki (Suku Motu Poso). Saat itu Epa diasuh oleh paman tertuanya Ladjo dan kemudian menikah dengan Meo Timu, anak semata wayang  Monggo, Paman bungsunya. Perkawainan Epa dan Meo Timu melahirkan Golo. Golo menikah dengan Nau melahirkan Kanis Jaik. Kanis Jaik kemudian menikah dengan Maria Baghong melahirkan Piet Sambut, Adol, Agus dan Natus.

Setelah Meo Timu meninggal Epa menikah lagi dengan Kasih. Perkawinan mereka melahirkan Simon Sarong, Ondi, Elu dan Jalo. Setelah Kasih meninggal, Epa menyunting gadis remaja bernama Meo dari suku Sedhza. Perkawinan ketiganya ini melahirkan Salesius Sende, Au, Jaja, Edel, Indah, Inggo, Lalu, Kaja.

Hingga masa Epa hubungan kekerabatan antara Todo dan Rongga masih terjalin akrab. Hubungan kekerabatan Todo dan Motu Poso ini kemudian dilanjutkan oleh Mbadu (Suku Motu Pumbu) setelah mendapat restu dan jaminan Epa.

Pada masa pihak kerajaan menanamkan pengaruh kerjaannya dengan membentuk pemerintahan kedaluan, melalui dalu Japi dari suku Tanda, Todo memberikan mandatnya pada Epa (yang seharusnya memiliki hak atas jabatan itu karena memangku jabatan Tuan Tanah). Namun Epa menolak tawaran itu, lantas menyerahkan jabatan itu pada Mbadu. Selanjutnya untuk memperkuat hubungan kekerabatan dengan Todo putera Mbadu, Yoseph Pandong menikah dengan Maria Ndudek. Setelah kematian (Fransiskus Xaverius) Epa tahun 1966 hubungan kekerabatan dengan Todo mulai renggang apalagi pemerintahan kerajaan (Dalu) sudah ia serahkan Ke Mbadu yang diperkuat pada periode kepemimpinan puteranya Yoseph Pandong. Kehilangan Epa praktisnya pengaruh suku ini terpangkas akibat sistem pemerintahan Kedaluan yang diperkuat dengan UU tentang pemerintahan Desa yang memaksa pemerintahan adat terdesak dan kehilangan pengaruh.

Kini di bawa panji reformasi, kendati ada indikasi post power syndrome dari kalangan tertentu,  Suku Motu Poso, mulai menegakkan kembali eksistensi dan pengaruhnya atas tanah Rongga Ma’bha sebagai pemegang hak ulayat.

D. SUKU MOTU POSO PASCA EPA

Pemerintah kedaluan dan UU pemerintahan Desa nO. 5/ 1979 telah membuat sistem pemerintahan adat kian terdesak.  Akibat pemerintahan kedaluan banyak kerugian yang dialami suku Motu Poso.

Pertama) Epa, dalam seja kala hidupnya, kehilangan ratusan ekor sapi dari padang penggembalaannya di Padang Wolo Sike dan Poma Mese akibat kebijakan Dalu Yoseph Pandong yang membuka perkampungan baru. Ratusan ekor sapi milik Epa dan putera tertuanya Simon Sarong mengungsi ke wilayah Nangarawa dan Mbo Ndei.Menurut beberapa saksi hidup, sebagian hewan tersebut sengaja dialihkan kedua wilayah tersebut oleh pihak pemerintah dan Gereja saat itu. Kesaksian beberapa orang saksi (off the record) cukup masuk akal sebab pihak penguasa dan pihak Gereja (Seminari) yang saat itu baru merintis peternakan,  memiliki kawanan ternak sapi ratusan ekor hanya dalam waktu dua tahun. Pertanyaan, dari mana asal sapi tersebut? Bukankah satu-satunya pemilik ternak sapi dalam jumlah paling besar adalah Epa? Sayang putera-putera Epa enggan membicarakan prihal ini ke permukaan hingga saat ini.

Kedua) Pengambilalihan hak atasi Tanah.  Pasca Epa akibat sistem pemerintahan kedaluan dan pemerintahan desa hal untuk membagi tanah-tanah kosong diambilalih. Hal yang sama juga berlaku dalam penyerahan tanah pada Seminari Kisol yang bersifat manipulatif pasca penyerahan pertama pada tahun 1952. (akan diuraikan secara lengkap)

ketiga) Pelanggaran janji dan kesepakatan yang dilakukan pihak Seminari Kisol. Tahun 1989 secara sepihak dengan dukungan Dalu seminari Kisol melakukan agraria tanah di luar penyerahan Tuan Tanah. di Kisol Kasus ini diikuti dengan protes pihak tuan tanah. Puncak perselisihan dengan Seminari terjadi tahun 2000. Tuan tanah meminta Seminari merealisasikan janjinya pada tuan tanah dan menuntut pengembalian Tanah baik di wilayah Kisol maupun ladang gembala Mbo Ndei yang dipakai sebagai lahan penggembalaan Seminari pada tahun 1966.

E. WILAYAH PEMUKIMAN & LAHAN GARAPAN SUKU MOTU POSO SEJAK MASA WEKA-TURE HINGGA EPA

Masa Ture dan Weka

SARI KONDO  – NUNU WULA – WOLO POSO -NUA NANGGE / LOKOTURE )

Masa Mangi dan Lando hingga generasi Wawi dan Manu meliputi wilayah-wilayah sebagai berikut:

Nua Nangge, ghe’bho, Rambu, Kere Angi dan Rone.

Masa KUMI- PEMBA – FUA, wilayah garapan di NUA KOTA,  NUA NGETHA, BENTENG MUNDE

Masa ini merupakan masa-masa perang hingga pada waktu itu dibangun Benteng  NUA KOTA, BENTENG MUNDE,  BENTENG EMBU NGIU, BENTENG KOPO NGGERE. Pada masa itu Meka Kumi dan Nggere serta Kio menjadi pahlawan yang paling berpengaruh. Kumi dikenal dengan jargonnya( pasi) Kumi Keto Tolo Tenda, sementara NGGERE saudara sepupunya dikenal dengan pasinya Nggere Lalo Ndeki. Sedangkan Kio dengan jargon ( pasi) Kio karo munde.

Generasi Ndesa dan Taso masih menggarap di wilayah ini dengan MEMBUKA LODO KENDA  & KEMBO

Generasi Kako, Lajo dan Epa kemudian kembali lagi ke Rone.

Epa hingga anak-anak dan cucunya kemudian menetap di Watunggong (Watu Nggo).

E. HUBUNGAN KEKERABATAN SUKU MOTU POSO ENGAN SUKU-SUKU LAIN:

Pada masa nenek moyang perkawinan dilakukan antara dua anak saudra sekandung. Hal itu bisa terlihat pada perkawinan antara Ndeki dan Manu. Pada masa itu dikenal dengan ungkapan sio ne tai ae nggoli mae ndehu. Untuk memperkuat suku, anak perempuan yang menikah dengan laki-laki dari suku lain, diwajibkan menyerahkan putera sulung lelakinya kepada suku asalnya. Hal ini terjadi pada anak Sulung Nau dan isteri Weka dari Suku Kelok yang mengembaliklan Epa kepada Suku asalnya.

Namun ada juga yang kawin dengan suku-suku luar yang turut memperkuat kekerabatan dengan suku lain dalam hubungan ana fai dan ana haki, seperti:

1. Suku Sui sebagai ana haki dari Suku Motu Poso. Karena hubungan perkawinan pada masa nenek moyang Suku Motu Poso menghibahkan sebagian tanah untuk suku ini di  Suku Kiu, yang kemudian dijadikan sebagai kawasan gembala (wota) oleh suku ini. Tempat ini disebut Wota Adzhe Kua.  Pada generasi nenek moyang apabila suku-suku berburu dan tidak mendapatkan buruannya, mereka akan singgah di tempat ini untuk potong kerbau.

2. Suku Sawu ana haki dari Suku Motu Poso. Karena hubungan perkawinan Suku Motu Poso memeberikan sebidang tanah di Tere Angi ( bagian atas Kenda)

3.    Suku sedzha sebagai ana haki dari Suku Motu Poso.

4.   Suku Motu sebagai ana Haki dari Suku Motu Poso.

F. REKOMENDASI UNTUK PEMERINTAHAN DAERAH KABUPATEN MANGGARAI TIMUR

……..AKAN DILANJUTKAN……

Tulisan ini dirangkum dari WWC dan kesaksisan penulis sejak masa kecil hingga berusia tigapuluh tahun. Untuk kelengkapan materi tulisan beberapa data-data baru akan dimasukan di masa datang.



Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.