Manakala Mbawu Tak Lagi Bergeming (Sebuah Catatan tentang Kebhu) Bagian 2

Oktober 30, 2018

Diambil dengan Lumia Selfie

Diambil dengan Lumia Selfie

Diambil dengan Lumia Selfie

Kebhu, panen ikan massal lima tahunan, adalah wujud kebijakan menjaga harmonisasi kehidupan antara masyarakat (mikro-kosmos) sekaligus dengan alam semesta (makro-kosmos).
Interaksi intens antara manusia itu digambarkan dalam hirarki kekuasaan masyarakat tradisional Rongga dan Kolor (Ronggakoe).
Masyarakat di hulu sungai yang diwakili suku Suka Rato, komunitas yang mendiami Pong Suka.  Selain Pong Suka di sana ada juga Pong Ndolu. Kedua Pong itu masing-masing menjadi hutan tangkapan air yang menjadi sumber air bagi danau Rana Rembong. Di Pong Suka terdapat wae sadho, sumber air mata air yang mengalir ke Rana Rembong.
Di kedua Pong itulah kedua suku itu membangun relasi kekerabatan selaku ana haki dan ana fai. Suka Rato sebagai pihak pemberi gadis disebut ana haki. Sementara Ndolu sebagai pihak penerima gadis disebut ana fai.
Suka Rato selaku pemegang wewenang dan kekuasaan tertinggi adat tanah dan air mendelegasikan wewenangnya pada Sukandolu demi mengontrol sebagian wilayah kekuasaan dan kedaulatan di hilir sungai. Konon, kekuasaan Suka Rato di hilir sungai dihibahkan pada suku Roka, selaku ana fai, penerima gadis sekaligus ksatria yang mempertahankan kedaulatan wilayah itu di masa lalu menghadapi gempuran pasukan Bima.
Roka selanjutnya mendelegasikan kekuasaannya pada Suku Tanda, selaku ana fai, penerima gadis untuk menjaga wilayah tersebut. Suku Tanda menugaskan lagi suku Lowa selaku ana fai-nya untuk menjaga wilayah limbu, muara buntu dan sekitarnya.
Relasi kekuasaan itu terjalin secara hirarkis dengan peran dan kedudukannya masing-masing. Suku-suku itu diyakini mampu melakukan komunikasi dengan alam melalui mantra-mantra yang diwariskan secara hirarkis. Mantra-mantra yang dilafazkan suku-suku itu dipercaya berdaya sakti menghalau mbawu, misalnya, sepanjang segala tata cara dan kententuan prosedur ritual dilakukan sesuai petuah leluhur.
Lazimnya atas dasar relasi hirarki kekuasaan itu, suku Lowa diwajibkan menyampaikan pelaksanaan kebhu pada suku Tanda. Suku Tanda selanjutnya bersama suku Lowa mendatangi rumah adat suku Roka untuk melaksanakan ritual nunu embu nusi, penyampaian kepada leluhur untuk pelaksanaan kebhu sehari sebelumnya.
Pagi hari suku Lowa sudah mengusung ramba, jala pusaka peninggalan Mbupu Lea sambil menanti kedatangan suku Roka dan Tanda di Maghi Mbai (jalan Mbero-Nangarawa sekarang). Dulu kawasan itu adalah pemukiman Meka Awa dan Mbupu Amu, orangtua Meka Nggesa. Dari Maghi Mbai, ulu nua, bagian depan kampung itu, kemudian suku Lowa bersama suku Roka dan suku Tanda serta seluruh peserta kebhu mengiringi prosesi perarakan jala pusaka menuju eko nua, belakang kampung epatnya di bawah pohon asam keramat beberapa meter dari bibir pantai di Nangarawa, sambil menyanyikan lagu:
Rhele lia ika rhele lia
Oru lau Mbawu oru lau
Di bawah pohon asam berusia ratusan tahun itu pelaksanaan ritual dilangsungkan. Ritual diawali dengan kepok, pemberitahuan resmi bahwa acara adat akan dimulai. Kepala suku Lowa melakukan kepok kepada kepala suku Tanda. Kepala suku Tanda selanjutnya melakukan kepok kepada suku Roka. Kepala suku Roka selanjutnya menyampaikan, pelaksanaan ritual sudah bisa dimulai. Biasanya Kepala suku Roka langsung menugaskan suku Lowa untuk memimpin ritual.
Dalam ritual tersebut suku Roka menyiapkan seekor babi berwarna merah. Sementara suku Tanda dan Lowa menyiapkan manu sepang, ayam jantan merah, mboko nio, buah kelapa muda, ayam merah dan jagung titi serta ketupat yang terbuat dari jagung titi. Jagung titi dan ketupat sengaja dipilih sebab di kawasan itu adalah Tanah Pire, lokasi yang dilarang menanam padi.
Darah babi merah dan ayam merah yang disembelih kemudian dioleskan pada jala pusaka dan sosa, alat penagkap ikan yang terbuat dari rotan. Sebagiannya dicampurkan dengan air kelapa muda lantas dipercik di sekitar batu persembahan yang sudah disiapkan. Selanjutnya ada ngilo ura wawi dan manu, membaca petunjuk atau pratanda pelaksanaan kebhu menyusul wali ura, penyampaian resmi atas tanda dan petunjuk khusus dalam urat babi dan ayam itu kepada suku Roka dan peserta yang hadir. Suku Roka kemudian memberikan aba-aba untuk memulai paia, seruan untuk memulai kelo, nyanyian berikut:
Rhele lia ika rhele lia
Oru lau mbawu oru lau
Wahai ikan-ikan yang ada di lubang kayu dan batu
Kemarilah, berhimpunlah di Tiwu Lea (terjemahan bebas)
Nyanyian puitik-magis itu dilakukan berulang-ulang mulai dari tempat berlangsungnya ritual hingga tepi muara buntu. Di tepi muara buntu itu, kepala suku Roka mendoakan mantra pada batu, lalu dilemparkan ke dalam muara agar ikan-ikan segera terkejut dan keluar dari liang kayu dan batu. Selanjutnya, perempuan Lowa yang ditugaskan mengusung jala pusaka mengeramas rambutnya menggunakan sampo tradisional wae nio, santan kelapa di tepi muara sembari mengebas-ngebas rambutnya ke dalam air.

Ritual keramas itu merupakan doa sekaligus rayuan magis perempuan Lowa pada leluhurnya Mbupu Lea untuk menghalau ikan dan biota yang ada dalam muara itu. Konon, Mbupu Lea mesti didandan dan dibelai sebelum menghalau ikan di kolam miliknya.

Diambil dengan Lumia Selfie

Kepala Suku Lowa selanjutnya menabur jagung titi ke dalam muara. Biasanya, jagung titi yang ditabur segera disambut ikan. Kepala suku Lowa lalu menebarkan jala pusaka sebanyak tiga kali. Barulah ia memberi aba-aba untuk peserta kebhu menyentuh air dan menangkap ikan. Sebab, pantang hukumnya bagi siapapun menyentuh air di muara buntu itu sebelum kepala suku Lowa masuk di kawasan itu.

Hasil tangkapan dalam ritual kebhu biasanya sudah bisa diketahui melalui ritus ini. Bila banyak ikan yang datang menyerbu pakan berupa jagung titi, kebhu akan mendatangkan hasil tangkapan ikan dan biota yang melimpah. Bila sedikit ikan atau tidak ada sama sekali, maka sia-sialah usaha peserta kebhu menangkap ikan, karena Mbupu Lea dan alam belum merestui ikan dan biota peliharaannya dipanen.

Menariknya, proses penangkapan ikan dalam acara kebhu hanya boleh dilakukan menggunakan tangan kosong dan alat bantu tangkap berupa ndai, jala dorong. Peserta dilarang menggunakan trisula, pancing dan pukat. Pantang bagi peserta menghasut ikan: hia, hia, hia atau berebutan menangkap. Hasil tangkapan tidak boleh digigit. Suasananya harus diciptakan sesakral mungkin.

Selama sehari penuh warga diperbolehkan memanen ikan di muara buntu itu selama masih memerhatikan ketentuan yang ada. Menjelang petang kepala suku Lowa membunyikan gentongan pratanda acara kebhu ditutup. Pada penutupan acara itu biasanya ada evalusi dan larangan bagi segenap warga untuk menangkap ikan di kawasan itu lagi sebelum acara kebhu berikutnya.

Kepala suku juga menyerukan agar hasil tangkapan dibagikan kepada peserta lain. Peserta yang menggunakan alat tangkap berupa jala dorong diwajibkan menyerahkan upeti berupa ikan dan biota lainnya kepada kepala suku Lowa. Suku Lowa menyerahkan sebagian hasil tangkapan itu kepada suku Tanda dan suku Roka. Penyerahan hasil tangkapan suku Lowa kepada Tanda dan Roka ditandai dengan kepok resmi.

Pembagian hasil tangkapan itu selaras dengan pesan dan kesepakatan leluhur sepeti kisah mitos yang sudah di singgung sebelumnya, agar tidak berlaku serakah menikmati hasil alam. Hasil alam mesti dinikmati secara bersama dan adil. Konon keserakahan, nafsu, dll sebagaimana kisah mitos kebhu bisa mendatangkan malapetaka.

Sayangnya, pelaksanaan kebhu belakangan ini tidak lagi menempuh proses dan prosedur sebagaimana yang diwariskan para leluhur.

WP_20181028_11_29_02_Selfie.jpg

Dua kali kami mengikuti kebhu, pelaksanaan ritualnya dipotong untuk mempersingkat waktu. Ritual praktisnya hanya berpusat di pohon asam tua di Nangarawa hanya menggunakan ayam jantan merah. Babi merah yang biasanya digunakan sebagai hewan persembahan sama sekali tidak ada. Mungkin lebih pada pertimbangan toleransi dengan komunitas muslim yang kini mendominasi pemukiman di kampung Nangarawa.

Perarakan ndai pusaka warisan Mbupu Lea tidak lagi dilakukan dari ulu Nua, tetapi dibawa begitu saja menuju pohon asam keramat. Suku-suku yang semestinya hadir untuk melegitimasi pelaksanaan ritual itu, seperti Roka dan Tanda juga tidak kelihatan sama sekali.
Perarakn

a

 ndai pusaka warisan Mbupu Lea tidak lagi dilakukan dari ulu Nua, tetapi dibawa begitu saja menuju pohon asam keramat. Suku-suku yang semestinya hadir untuk melegitimasi pelaksanaan ritual itu, seperti Roka dan Tanda juga tidak kelihatan sama sekali. Pelanggaran-pelanggaran ketentuan adat juga banyak dilakukan para peserta kebhu. Banyak warga yang sudah mendahului ritual masuk dan menyentuh air di muara buntu. Penggunaan alat tangkap pukat, misalnya, juga sudah masuk dalam kategori pelanggaran ketentuan dan aturan penangkapan ikan di kawasan itu.
Pelanggaran-pelanggaran ketentuan adat juga banyak dilakukan para peserta kebhu. Banyak warga yang sudah mendahului ritual masuk dan menyentuh air di muara buntu. Penggunaan alat tangkap pukat, misalnya, juga sudah masuk dalam kategori pelanggaran ketentuan dan aturan penangkapan ikan di kawasan itu.
Perarakan ndai pusaka warisan Mbupu Lea tidak lagi dilakukan dari ulu Nua, tetapi dibawa begitu saja menuju pohon asam keramat. Suku-suku yang semestinya hadir untuk melegitimasi pelaksanaan ritual itu, seperti Roka dan Tanda juga tidak kelihatan sama sekali. Pelanggaran-pelanggaran ketentuan adat juga banyak dilakukan para peserta kebhu. Banyak warga yang sudah mendahului ritual masuk dan menyentuh air di muara buntu. Penggunaan alat tangkap pukat, misalnya, juga sudah masuk dalam kategori pelanggaran ketentuan dan aturan penangkapan ikan di kawasan itu.

Pelanggaran-pelanggaran itu, hemat kami, lebih karena factor kesengajaan ketimbang ketidaktahuan. Bagi sebagian warga yang berasal dari luar desa Bamo, Tanah Rata, Komba, dan Watunggene, mungkin bentuk-bentuk pelanggaran itu karena mereka sama sekali tidak mengetahui petunjuk dan aturan mainnya.

Diambil dengan Lumia Selfie
Tidak mengherankan bila kebhu kali ini tidak membuahkan hasil apa-apa sebab Mbawu tampaknya sedang ngambek, sama sekali tak mau bergeming, bahkan mengendap di dasar lumpur sampai keriuhan manusia menghilang. Ia tak peduli lagi pada mantra sacral-magis warisan leluhur karena sudah ada shu, pelanggaran-pelanggaran adat.
Mbawu semestinya dibelai dan dirayu agar ia menjadi tersanjung dan dekat dengan kita.
Metode belaian dan rayuan itu tergantung kita. Semakin kita bernafsu mengikuti selera dan naluri pribadi, ia merasa tak nyaman bahkan menjauh dari kita. Ibarat merayu gadis, kita mesti menempatkan dia dalam zona nyaman agar ia tunduk dan mengikuti kehendak kita.
Merayu Mbawu juga tidak sebatas mengikuti tata aturan yang berlaku. Lingkungan dan habitatnya juga mesti dijaga. Kawasan aliran sungai, seperti Waerana, Wae Waru dan Waesoke yang bermuara di kali Nangarawa, misalnya, kini sudah mulai rusak.
Penebangan pohon di Daerah Aliran Sungai (DAS) terjadi dari tahun ke tahun.
Ketiga anak sungai ini dulu memiliki debit air yang cukup. Tapi kini, volumenya terus menurun akibat hutan yang menjadi daya tangkap dan resap air rusak. Sepanjang aliran sungai itu, tepatnya di Muting, 1 km sebelum masuk muara ada puluhan hektar areal sawah. Praktisnya ketersediaan air yang ada hanya digunkan untuk kepentingan persawahan sehingga sepanjang ratusan meter kita hanya menemukan kali mati. Sisa air penggunaan sawah yang sudah bercampur dengan pestisida produk revolusi hijau itu bahkan mengalir lagi ke sungai Nangarawa beberapa meter sebelum memasuki Tiwu Lea. Otomatis pertumbuhan Mbawu dan biota lainnya terganggu.
Mbawu kini makin menjauh dari kita. Rapal mantra yang kita daraskan dalam ritual kebhu semakin membuat Mbawu merajuk. Ia tak mau diganggu lagi. Sudah sekian lama ia terluka akibat ulah kita. Maka kebhu yang kita gelar secara beruntun dalam dua dasawarsa belakangan ini, termasuk kebhu 2018 tak ada hasil sama sekali.
Ibarat perempuan yang ingin dipuja dan namanya disebut-sebut para lelaki karena keanggunannya, Mbawu sempat mencuri perhatian kita sehari setelah kebhu. Dengan napas tersenggal akibat mengendap di dasar lumpur selama sehari penuh, ia muncul kembali di Tiwu Lea ketika ‘rumah’nya mulai hening.
Sejumlah warga Nangarawa sempat terkejut lantas turun dan menangkap. Libertus Seda, warga Watunggong, Kelurahan Tanah Rata sempat menyaksikan itu. Pria yang berprofesi sebagai pebisnis gurita Nangarawa-Labuhan Bajo itu mengaku sempat mencicipi lezatnya ikan belana di tepi pantai Nangarawa pada Senin malam (29/10/2018).
Menyikapi fenomena itu, Erasmus Mbea, warga suku Roka berpendapat bahwa kebhu sudah kehilangan nilai sakralnya akibat ketidakpatuhan dan keserakahan manusia.
“Jangankan menjaga harmonisasi adat dan kearifan lokal, kepada alam saja kita sudah tidak berlaku ramah. Bagaimana mungkin kebhu bisa hidup di jaman sekarang, kalau kita tidak segera merajut kembali kearifan itu?”
Kebhu 2018 adalah momentum bagi kita untuk segera mawas diri. Kita diajak untuk kembali berpijak pada kearifan yang ada, seraya bertolak lebih dalam meraih kembali sendi-sendi kehidupan yang mulai memudar agar antara kita dan Mbawu terjalin harmoni, rujuk menyatu merajut kembali romansa pada kebhu berikutnya.***
Dihimpun dari WWC dengan sejumlah Narasumber.

Manakala Mbawu Tak Lagi Bergeming (Sebuah Catatan Tentang Kebhu)

Oktober 29, 2018

Oru lau mbawu oru lau
Rhele lia ika rhele lia

Nyanyian puitik-magis ini mengiringi prosesi suku Lowa dari Pu’u Nangge, tempat pelaksanaan ritual menuju limbu, muara buntu

Diambil dengan Lumia Selfie

Begitu Kelo, nyanyian panggil ikan itu berakhir, jala mulai ditebarkan Mori Wae, turunan sang empunya muara. Setelah tiga kali jala ditebar, barulah warga diperbolehkan menyentuh air dan mulai menangkap ikan dan biota lainnya.

Tapi, hari ini, Minggu (28/10/2018)  Mbawu, ikan belanak yang menjadi ikon Tiwu Lea tak jua bergeming. Ia tetap bersembunyi pada liang-liang kayu dan batu di sekitar muara.
Festival panen ikan tradisional Rongga di muara buntu, Nangarawa, desa Bamo, Kecamatan Kota Komba akhirnya meninggalkan cerita kekecewaan yang luar biasa pada segenap warga di seluruh penjuru kecamatan Kota Komba, Manggarai Timur. Sebab, hingga petang hari hingga penutupan acara tak satu pun warga yang mendapat ikan dan biota lainnya.

Ribuan warga yang datang dengan gairah menggebu memperoleh ikan gratis pulang dengan tangan hampa. Jangankan membawa ikan dan biota yang di tangkap, untuk menemani makan siang saja, warga harus membeli ikan di Pantai Nangarawa yang serba terbatas.

Ini merupakan yang kesekian kali secara beruntun, even lima tahunan yang dulu dibanggakan dan menjadi buah bibir dari masa ke masa itu meninggalkan kisah kekecewaan warga.

‘Dulu ikan dan biota lainnya begitu banyak. Warga yang datang sampai tidak mampu membawa pulang semua hasil tangkapannya karena terlalu banyak, kenang Arnoldus Anggal, warga Pandu, desa Lembur.

Ketiadaan ikan dan biota lainnya dalam kebhu kali ini tidak mengherankan bagi warga Nangarawa dan sekitarnya sebab saban hari jala dan pukat memenuhi muara buntu itu. Padahal sejumlah ketentuan adat sudah dengan jelas melarang warga menangkap ikan dan biota lainnya di kawasan itu sebelum pergelaran kebhu dibuka secara resmi.

“Kami tidak heran kalau tidak ada ikan di sini. Warga di sini sudah tidak patuh lagi pada ketentuan adat, kata Fuddin, salah satu nelayan nyentrik asal kampung Nangarawa.

Sejumlah upaya untuk menegaskan peraturan adat itu sudah dilakukan. Tahun 2014 Pemerintahan Desa Bamo telah membuat Peraturan Desa (Perdes) yang melarang penangkapan ikan di kawasan itu sebelum pelaksanaan kebhu. Tapi nasib Perdes itu setali tiga wang dengan ketentuan adat yang berlaku.

Fakta itu, tentu berbeda dengan publikasi tentang kebhu yang sudah terlanjur dikonsumsi secara meluas. Kebhu dalam publikasi harian Kompas 10 Oktober 2010 di bawa judul Memanen Ikan Menjalin Harmoni, kesannya kini kian tak terawat lagi oleh masyarakat pendukung budaya bahari tersebut. Padahal, dalam aras nasional kebhu sudah selevel dengan peradaban nusantara lain yang diharapkan menjadi contoh warisan kearifan lokal yang patut ditiru demi memerangi kultur destructive fishing di jaman now.

Sebagai putera Rongga saya agak tertunduk lesu manakala disorot fakta pelaksanaan kebhu hari ini tidak berjalan seindah janji harapan sebagaimana yang ditebarkan dulu oleh para tetua. Karena itu, saya coba mengajak kita menoleh ke belakang, apa sesungguhnya yang terjadi dengan kebhu? Benarkah Mbawu, ikan belanak yang menjadi ikon Tiwu Lea sudah tak bergeming lagi menanggapi seruan kelo (nyanyian) warga?
Mitos di Balik Ritual Kebhu
Konon, hiduplah serang pria bernama Nggesa. Ia tidak begitu tampan, tetapi memiliki kharisma istimewa. Tak salah bila ia menjadi rebutan banyak wanita.  Hidup dikerubuti sejumlah wanita cantik mendorong Nggesa berpoligami. Setelah mempersunting wanita bernama Nggai, Nggesa menikahi wanita muda bernama Lowa.

Perlakukan Nggesa pada kedua isterinya boleh dikatakan kurang adil. Dalam keseharian Nggesa ternyata lebih menyayangi isteri mudanya. Karena diperlakukan kurang adil Nggai, sang isteri pertama terbakar api cemburu.

Suatu ketika, Nggesa ikut dalam rombongan berburu. Mereka mendapatkan seekor rusa dan hasil buruan itu dibagi secara merata.

Karena porsi daging begitu kecil maka Nggesa hanya  membawa daging hasil buruan itu pada isteri keduanya. Sementara untuk isteri pertama Nggesa membawakan fate, sejenis ulat kayu yang biasa dikonsumsi.

Karena harus mencari fate, Nggesa agak terlambat tiba di rumah. Pada Nggai, ia mengaku tidak mendapat hasil buruan sehingga ia memilih mencari fate untuk keperluan makan malam.

Nggai tak mempersoalkan itu. Sehari kemudian, saat bertamu ke rumah tetangga Nggai baru mengetahui bahwa suami bersama warga kampung ternyata dalam perburuan ternyata mendapat seekor rusa. Mengetahui bahwa dirinya telah diperdayai Nggesa, Nggai sangat geram. Ia pun mencari cara untuk mempermalukan Nggesa dan Lowa.

Pada malam hari ada pertunjukkan tarian Vera. Saat pementasan tarian itu Nggai sengaja membalut keseluruhan jemarinya dengan fate. Tarian Vera yang semula berjalan meriah berubah jadi gelak tawa para peserta wanita karena jemari penari yang berdampingan dengan Nggai di sebelah kiri dan kanan terasa geli saat bersentuhan dengan jemari isteri tua Nggesa itu. Sambil tertawa penari Vera itu mengatakan, lima kau ne mo rasa ko kena ngarha kodhi haki ( jemarimu bagaikan penis lelaki). Mendengar ungkapan seperti itu seluruh penari Vera tertawa terbahak. Kemeriahan Vera berubah jadi gelak tawa warga.

Sesaat kemudian suasana alam berubah total. Langit yang cerah berubah hitam, badai dan halilintar datang sambung menyambung menyusul hujan lebat tanpa putus. Akibat hujan lebat itu danau Rana Rembong di belakang kampung Waerana jebol dan longsor. Muntahan banjir kemudian melanda sepanjang kali. Segenap pemukiman warga sepanjang aliran sungai tersebut luluh lantak. Warga berlarian menyelamatkan diri. Ada yang selamat, ada pula yang ditelan banjir.

Dalam bencana seperti itu, lazimnya dalam kepercayaan setempat, warga yang lari menyelamatkan diri dilarang menoleh ke belakang. Naas bagi beberapa yang melanggar larangan itu nasibnya berubah menjadi batu.

Batu-batu yang menyerupai wujud manusia itu masih tampak di kawasan aliran sungai di Pong Keling dan sekitarnya. Bencana dahsyat tersebut diabadikan dalam syair Vera :

Temba Raja Tana Mana
Kami Nua Ngamba Kan
Khukhu serdha waru pedhe
Wae sele kami wae

Kejadian tersebut rupanya menyebabkan kolam ikan peliharaan Mbupu Lea ikut terseret. Sementara ikan dan biota lainnya hilang terbawa banjir. Mbupu Lea pun murka. Ia menuntut warga yang bermukim di hulu sungai mempertanggungjawabkan hal itu karena ulah mereka telah menyebabkan ikan dan biota peliharaannya sapu bersih terbawa banjir menuju laut Sawu.

Beruntung pasca bencana, jejak bekas kolam Mbupu Lea masih dapat ditelusuri. Mbupu Lea sangat senang manakala ia menemukan sejumlah benih ikan dan biota lain memenuhi kolam tersebut. Ia pun meraih kembali kejayaannya hidupnya sebagai petambak ikan.

Namun kebahagiaan Mbupu Lea tak berlangsung lama.  Kemapanannya terusik kala warga di hulu sungai yang dikenal dengan suku Sukandolu mencari ikan milik mereka hingga ke kolam miliknya. Orang Sukandolu mengklaim bahwa ikan yang hidup di kolam Mbupu Lea adalah ikan milik mereka yang terbawa banjir dari Rana Rembong. Mbupu Lea tidak menerima hal itu sebab sudah bertahun-tahun ia bekerja sebagai petambak ikan di situ. Tetapi orang Sukandolu beranggapan bahwa tanah dan air yang mengalir tersebut adalah Tanah Ulayat mereka.

Mbupu Lea tetap bersihkeras dan meminta orang Sukandolu mencari lokasi lain untuk mengaliri air Rana Rembong menuju laut Sawu.

Karena itu mereka membuat kesepakatan. Salah satunya adalah pengakuan orang Sukandolu akan keberadaan kolam Mbupu Lea. Dan, sebagai kompensasi atas pengakuan tersebut, Mbupu Lea diwajibkan mengundang orang Sukandolu dan warga lainnya saat memanen ikan.

Sejak saat itu maka ritual kebhu dilaksanakan dengan memerhatikan sejumlah ketentuan Manakala Mbawu Tak Lagi Bergeming
(Sebuah Catatan Tentang Kebhurangkaian ritual yang ditetapkan oleh orang Sukandolu. Salah satunya adalah sebelum pelaksanaan kebhu, Mbupu Lea dan keturunannya diwajibkan mendatangi rumah adat Sukandolu dan/keturunannya memohon restu leluhur.

Kebiasaan itu di kemudian hari dipersingkat di mana Mbupu Lea dan keturunanya bisa mendatangi rumah adat Roka-Tanda di Mbero Waru sebab pada suku itulah Sukandolu telah menghibahkan Tanah Ulayatnya. Dan, persis di kawasan Tiwu Lea dan sekitarnya Pemangku Ulayat Roka-Tanda telah menugaskan suku Lowa untuk menjaganya…. Bersambung

 

Jangan Biarkan Keharmonisan Sosial di Kisol Tercabik

Agustus 31, 2015

Catatan Kecil dari Kisol
untuk Para Jurnalis dan Perantau Kisol

Kisol tak lagi damai. Gambaran liryk lagu Kisol Oh Lembah Kisol yang konon dipopulerkan Hendri Daros era 70 an mulai terkikis jaman. Kisol yang dilukiskan layaknya firdaus mulai berubah menuju petaka sosial.

Eforia reformasi berikut kebijakan Otda yang berlanjut dengan pembentukan kabupaten Manggarai Timur mempercepat lunturnya tata kehidupan sosial dan keharmonisan masyarakatnya. Konflik keluarga berlatar persoalan tanah bermunculan satu per satu seiring dengan harga dan permintaan tanah yang meningkat.

Dalam tiga tahun terakhir ini, setidaknya kami mencatat ada lima persoalan tanah yang melibatkan keluarga besar yang terikat dalam kekerabatan ana haki dan ana fai di Kisol. Persoalan tersebut sebenarnya terlalu sederhana untuk didamaikan dan diselesaikan. Tapi malah justeru kian meruncing bahkan kerap berujung pada perselisihan yang mengarah pada tindak kekerasan.

Ruang musyawarah adat dan tetua kampung sebagai ajang penyelesaian masalah yang dulu dipatuhi kini diabaikan. Persoalan lebih banyak di bawa ke Hakim Perdamaian Kelurahan. Lemahnya pucuk pimpinan kelurahan mencari solusi dan membaca fenomena sosial tersebut membuat banyak pihak meninggalkan adat lantas memilih polisi sebagai sandaran terakhir menyelesaikan persoalan.

Menariknya, situasi masyarakat Kisol saat ini boleh di bilang menjadi trend setter perkembangan dan peningkatan ekonomi di Kota Komba. Kehidupan masyarakat sudah membaik setidaknya bila diukur dari pemenuhan kebutuhan harian dan kesejahteraan hidup, tetapi kehidupan sosial mulai dicabik banyak persoalan.

Padahal dalam sejumlah teori sosial, kekerasan dan benturan sosial lebih banyak terjadi dalam kehidupan masyarakat yang miskin dan serba kekurangan serta terbatasnya akses pendidikan.

Fenomena ini jelas bertentangan dengan. Sejumlah teori sosial. Kisol dalam beberapa tahun terakhir adalah wajah sebuah kampung yang layak dikaji. Salah satu yang menonjol adalah kemampuan banyak keluarga menyekolahkan anak hingga bangku perguruan tinggi yang membuat wajah Kisol layak berseri di mata warga Kota Komba lainnya.

Namun kehadiran kaum intelektual baru di Kisol ternyata belum mampu menyikapi fenomena sosial itu. Sedikit (untuk tidak menggeneralisir) Komunitas intelektual di Kisol yang terkesan masih terkooptasi dengan cara pikir kampung. Harapan para intelektual menjadi agen perubahan belum sepenuhnya terwujud. Beberapa anak muda berbakat dan punya kecakapan malah memilih berkiprah di luar pulau.

Kisol kini membutuhkan pemikir muda briliant dan revolusioner demi mementol kesadaran kritis kaum intelektual di kampungnya sendiri.

Bila tidak, maka kerumitan sosial di kampung yang digambarkan layak Kolam Susu itu, bakal menjadi bencana sosial ke depan. Saat ini saja ikatan kekeluargaan dan kekerabatan disikapi sebagian masyarakat secara acuh bahkan tak jarang gesekan2 kecil dalam sebuah komunitas rumah adat berujung pada perpecahan. Masalah warisan, spt tanah, jadi alasan ‘pemekaran rumah adat’

Situasi sosial ini tampaknya akan berlanjut ke depan. Keterbatasan lahan dan kedudukan Kisol sebagai salah satu wilayah penopang kehidupan ekonomi di Kota Borong kian seksi dan jadi rebutan banyak pihak. Kisol yang seksi itu menyedot para pembeli tanah dari luar. Alhasil sudah puluhan bahkan ratusan hektar tanah di pesisir selatan pantai sudah terjual dalam kurun waktu dua tahun terakhir ini.

Sumber daya yang semestinya dipertahankan demi menjaga kedaulatan sejarah dan budaya digadaikan. Godaan rupiah telah membius banyak pihak di Kisol. Harga tanah yang fantastis membuat banyak pihak mulai menyesal karena tak punya tanah yang cukup luas. Beberapa bahkan tergoda mengklaim tanah milik orang lain untuk dijual.

Inilah yang menjadi pemicu gesekan-gesekan dalam keluarga yang mengerucut pada konflik dan perpecahan keluarga.

Anehnya di tengah situasi tersebut, ‘tangan-tangan yang tak kelihatan’ seolah bekerja dalam konflik tsb. Alhasil persaoalan makin meruncing.

Kisol kini bagai laboratorium management konflik diujicoba dan dipraktekkan melalui tangan tak kelihatan.

Pertarungan kepentingan menjadi kian sengit. Beberapa anak muda yang datang membawa perubahan di kampung dicitrakan sebagai provokator demi menyembunyikan identitas provokator sesungguhnya. Masyarakat yang tidak paham justeru larut dalam gosip ciptaan elit.

Lahan yang digarap, tidak sebatas residu persoalan pilihan politis saat pilkada dan pileg. Situasi ketegangan keluarga yang berlatar persoalan tanah dan warisan adalah sasaran empuk bagi pemain masuk mengoperasikan strategi ampuh Cournellis de Houtman ‘devide et impera’

Aparat pemerintah kelurahan dan juga Polisi terkesan kurang maksimal bekerja menuntaskan kerumitan sosial yang terjadi ketika urusan privat keluarga mengemuka dalam mimbar formil. Hal itu nyata dalam sejumlah urusan perkara tanah di tingkat kelurahan yang tanpa solusi jelas. Profesionalisme aparat polisi yang ditempatkan sebagai Babin Kamtibmas di Kelurahan Tanah Rata juga tidak tampak. Lembaga adat juga makin lemah. Ke depan citra kisol yang beradab bakal jadi biadab,

Menilik situasi sosial yang terjadi di Kisol saat ini tampak sangat berbeda dengan kehidupan lima tahun lalu. Dahulu kedamaian dan keutuhan keluarga menjadi pilihan utama, tetapi kini kepentingan individual menjadi yang pertama dan terutama.

Apakah Kisol akan tercabik di tangan para pengusung management konflik? Pihak kepolisian diharapkan menempatkan inteliigen khusus di Kisol, membongkar semua biang keonaran di Kisol. Bila tidak maka lirik lagu yang dipopulerkan Pater Henri Daros Kisol Oh Lembah Kisol hanya akan menjadi kenangan satir. Mari kita jaga Kisol, jangan biarkan keharmonisan sosial tercabik!!!

Romantika Histor

Agustus 2, 2015

Kuliah Politik Ala Julia Perez

Agustus 22, 2010

Pengunduran diri Julia Perez dari calon wakil bupati Pacitan minggu lalu cukup mengejutkan banyak pihak. Jupe yang diusung delapanPartai Koalisi dalam pertarungan merebut pucuk pimpinan tertinggi kabupaten Pacitan mengaku belum cukup matang untuk terjun dalam kompetisi politik yang begitu ketat. Keputusan itu justeru terjadi menjelang saat akhir tahapan pendaftaran calon di KPUD.

Selain ketidaksiapan mental, pengenalan dan pemahaman Jupe dalam dunia politik masih terbilang awam “Setelah gw pikir pikir ilmu gw belum lah sematang para senior gw yang telah duduk di bangku bupati dan wakil bupati. Ilmu saya masih iko dan perlu kematangan yang lebih. Apalagi kota Pacitan itu sangat luas, kota tersebut membutuhkan figur yang lebih baik lagi” kata kekasih Guston Castanyo ini saat di temui di bilangan Cibubur, Selasa (17/8/10 ).

Sejak awal rencana pencalonannya, Jupe sudah mendapat perlawanan dari pemuka agama dan ormas ormas yang mencekal kehadiran wanita 30 tahun ini di kota Pacitan.  Jupe dengan dukungan partai koalisi sempat mencoba mencairkan kebekuan itu dengan melakukan sowan ke pimpinan setempat sekaligus mengunjungi beberapa wilayah di Pacitan, seperti pondok pesantren, demi merebut simpati massa.

Semakin rajin ia terjun langsung ke lapangan, semakin gencar tuntutan penolakan. Bahkan dalam aras politik nasional, pencalonan Jupe dan beberapa artis lainnya, sempat menjadi  perdebatan hingga muncul renacan merevisi UU N0. 34/2004, terutama mengenai persyaraatan calon. Sadar akan kemampuan dan integritasnya yang belum layak, mantan istri pesepakbola Demian Perez ini memutuskan mundur dari bursa pencalonan.

Pengunduran diri artis seksi ini, mau tak mau menohok pola perekrutan dan kaderisasi partai pada umumnya. Kegagalan kaderisasi dalam tubuh partai politik menyebabkan minimnya pemunculan kader-kader baru yang berkualitas. Karena ketiadaan figur-figur baru itu parpol cenderung begitu mudah mengorbitkan figur artis, yang nota bene sudah dikenal luas.  Apesnya, sejumlah artis, baik yang memahami maupun yang awam sama sekali dalam berpolitik, menerima begitu saja pinangan parpol tanpa mempertimbangan kapasitas dan jam terbangnya.

Akibatnya, selain parpol kehilangan pengaruh, si artis juga  harus menanggung korban, bahkan tak jarang dipermainkan. Ratih sanggarawati, yang dijagokan partai Demokrat sebagai calon wakil bupati di wilayah Jawa Timur, misalnya, gagal total meraih suara terbanyak. Hal yang sama juga dialami Helmy Yahya, yang maju sebagai calon wakil gubernur Sumatera Selatan dua tahun lalu.

Kegagalan sejumlah artis bersaing meraih dukungan rakyat dalam pemilukada, menurut sejumlah pengamat politik, menujukkan adanya pergeseran pola pikir masyarakat, dari cara pikir yang mudah termakan rayuan gombal pencitraan menuju cara pikir yang lebih rasional di mana kemampuan dan integritas calon menjadi faktor  penentu utama dalam menentikan pilihan.

Sayangnya pergeseran cara pandang ini, belum berlaku merata di Indonesia. Lemahnya sistem perekrutan dalam tubuh parpol tidak saja berlaku dalam pemilihan kepala daerah, tetapi juga terjadi dalam pemilihan legislatif 2009 lalu dan kemungkinan besar masih akan terulang pada pemilihan legislatif 2014 nanti. Hampir sebagian besar parpol, apalagi parpol baru, asal pungut calon demi memenuhi kuota aturan sebagaimana yang ditetapkan UU No10/2008 tentang DPR, DPRD dan DPD. Akibatnya, kualitas calon terpilih jauh dari harapan rakyat.  Di kabupaten Manggarai Timur, NTT, misalnya, mayoritas anggota DPR yang terpilih, memiliki kapasitas dibawa standard dan harapan rakyat. Salah seorang di antaranya bahkan hanya berbekalkan ijazah paket A, B dan C. Siapa yang salah bila si DPR tak mampu menjalankan tugasnya: rakyat yang memilih atau parpol?

Pengunduran diri Jupe, selain menjadi pelajaran berharga bagi Parpol dalam mengubah pola perekrutan dan kaderisasi, juga menjadi peringatan berharga bagi politisi untuk membekali diri dengan sejumlah kecakapan dan integritas kepribadiaan yang cukup. Sebab, pemimpin yang berkualitas dan memahami seluk beluk sebuah daerah, berpotensi memajukan dan membbawa daerrah terkait lebih kompetitif dalam semua aspek.

Terlepas dari segala kontroversi atas pengunduran dirinya, Jupe, hari ini menjadi begitu berarti bukan karena kontroversi pencalonannya, melainkan karena keberaniannya untuk jujur pada diri sendiri. Sikap ini yang semestinya menjadi cermin sportifitas berpolitik. Dalam arti yang lebih luas, berpolitik bukan sekadar menjalankan libido atau nafsu kekuasaan, tetapi bagaimana mengelola kekuasaan demi kemaslahatan rakyat banyak!!!

Argentina Siap Mangsa Meksiko

Juni 27, 2010

Pertemuan Argentina dan Meksiko dalam babak perdelapan final word Cup 2010 mengulang kembali peristiwa empat tahun lalu. Partai ini bakal lebih menarik, selain suguhan permaian gaya Latin, juga aroma dendam yang diusung Meksiko. Empat tahun lalu Meksiko tersingkir di babak 16 besar melalui gol spektakuler Maxi Rodriguez. Kekalahan itu mengubur mimpi Meksiko untuk mengecap pertandingan di perempat final selama puluhan tahun.

Setelah kekalahan pahit empat tahun lalu, peta kekuatan antardua tim tidak berubah. Kekuatan Meksiko empat tahun lalu tidak banyak berubah. Sementara Argentina mendapat suntikan motivasi karena si bocah lincah Lionel Messi dan si gol tangan Tuhan turun langsung sebagai pelatih. Bila Argentina bermain sama seperti melawan Nigeria maka Meksiko akan menjadi bulan2an. Namun, bila Argentina lengha bukan tidask mungkin Meksiko akan mencuri gol lebih awal.

Menilik pertemuan dua tim sejak empat tahun lalu, Argentina selalu unggul. Namun, piala dunia bisa membuat segalanya berubah. Semangat juang anak-anak Meksiko bisa saja menghentikan mimpi Argentina meraih juara untuk ketiga kalinya.

Eksotisme Pantai Marokama, Manggarai Timur

Mei 4, 2010

Bentangan pesisir selatan Manggarai Timur adalah surga baru bagi pariwisata Manggarai. Selama puluhan tahun kawasan yang terbentang dari Sepi Watu  (Borong) hingga Waewole (Waelengga) menjadi kawasan yang terlupakan. Bersamaan dengan era otonomi daerah yang ditandai dengan dimulainya pemerintahan baru Kabupaten Manggarai Timur maka potensi yang tersebar di kawasan Pantai Selatan Rongga (PANSER)  ini akan diberdayakan sebagai nilai jual pariwisata Manggarai Timur.

Selain Sepi Watu dan Waewole, ada beberapa titik yang bisa menjadi objek wisata yang menarik, yakni Pantai Marokam, Nanga Rawa,  dan Pantai Tiwu Toro. Ketiganya memiliki daya tarik berupa bentangan pesisir pantai yang cukup panjang.

Salah satu pantai yang memiliki daya pikat adalah Marokama. Pantai ini selain dikenal dengan sebutan Marokam juga kerap dinamakan Mbondei. Lokasinya terletak araha selatan Kisol, kurang lebih delapan kilometer. Untuk menjangkau kawasan ini, para pengunjung bisa menggunakan sepeda motor dari Kisol dengan lama perjalanan setengah jam atau dari arah Borong menyusuri jalan bebatuan yang baru dirintis kira-kira satu jam lebih.

Pantai ini selain memiliki bentangan pasir putih sepanjang satu kilometer juga bisa diandalakan sebagai kawasan wisata karena memiliki tujuh gulungan ombaknya, yang menyerupai pantai Nembrala, Rote Ndao. Karena gulungan ombaknya yang tinggi maka pantai ini kerap dianggap seram karena sering memakan korban.

Jaman dahulu, kawasan ini merupakan tempat favorit bagi para nelayan suku Rongga. Selain sebagai lokasi perkemahan favorit , tepi pantai ini juga sangat digemari anak-anak untuk bermain bola dan berekreasi di hari libur.  Duapuluh tahun lalu kegemaran anak-anak usia sekolah atau perantau asal kisol pada pantai ini tampak dalam kunjungan yang bergelombang setiap memasuki bulan Juni dan Juli.

Selama tiga puluh tahun terakhir ini budaya bahari orang Rongga mulai bergeser ke arah pertanian. Pembukaan kawasan hutan Koe Wae dan sekitarnya pada tahun 1989/1990 dibawa komando kepala desa Antonius Gelang menyebabkan keasrian hutan yang mengapiti kawasan ini tak terlihat lagi.

Meskipun keasrian hutan Koewae mulai pudar, pesona Pantai Marokama  tak tergerus. Orang Rongga yang bermukim di kelurahan Tanah Rata masih menjadikan kawasan ini sebagai tempat rekreasi favorit saat liburan sekolah. Namun, kondisi jalan yang berbatuan menyebabkan saat ini kebayakan orang mulai berkiblat ke Sepi Watu.

Padang hijau di sekitar kawasan pantau ini hingga saat ini dijadikan sebagai kawasan gembalaan sapi dan proyek jambu Mente. Tak jauh dari kawasan Pantai ini terdapat sumur tua, milik Almarhum Fransiskus Xaverius Epa yang dulu dipakai untuk menghidupkan ternak sapinya. Tahun 1996, sumur ini  ditutup pihak Seminari Pius XII Kisol dan diganti dengan sumur baru yang dipakai untuk kebutuhan peternakan.

Beberapa anak cucu masih menjadikan kawasan ini sebagai ladang gembala dan secara bergantian menggunakan jasa sumur baru yang didirikan pihak seminari untuk memberi air para sapi gembalaannya.  Para pengunjung pantai Marokama, bisa menyaksikan aktivitas para gembala di kawasan ini menjelang siang hari. Di bawah tikaman terik matahari, dua atau tiga peternak/ penggembala sapi menghantar kawanan sapi menuju sumur Mbondei menyusuri tepi pantai Marokama.

Bagi pengunjung yang ingin merasakan tapak sejarah Bahari Rongga, maka kunjungan wisata di kawasan ini bisa dilakukan pada sore hingga malam hari dengan membawa perbekalan yang cukup serta kemah. Jelang sore, kita bisa menikmati keindahan sunset dan teja diufuk Barat. Persis di atas pulau Mules, Matahri tenggelam memancarkan teja nan indah.

Biasanya pada pukul 19.00 para pencari kima akan menyusuri arah barat Pantai ini mencari kepiting. Alat yang dipakai adalah besi seukuran setengah meter yang diruncingkan pada bagian ujungnya. Besi ini sengaja diibentuk untuk membantu mengangkat kepiting yang melekat pada batu.

Hasil tangkapan biasanya akan banyak bila dilakukan pada hari-hari tertentu dalam bulan. Kecakapan membaca gejala alam atau ilmu perbintangan kuno menjadi modal utama bagi para pencari kima atau nelayan penangkap ikan bila ingin mendapatkan hasil tangkapan yang memuaskan.

Kawasan Kenda dan Kembo

Selain keindahan Pantai Marokama/ Mbo Ndei, lokasi wisata warisan sejarah suku Rongga cukup kaya dan tersebar di sepanjang Pantai ini. Ada Kenda dan Kembo yang dikenal sebagai kawasan hutan adat milik Tuan Tanah suku Motu Poso, benteng-benteng, Watu Embu, Rate Lako. Sekitar empat kilo meter dari Marokama, kita akan measuki Nangarawa.

(akan dilanjutkan!!!)

Menuju Penemuan Identitas Orang Rongga

Februari 16, 2010

Suku Rongga dalam sejarah Manggarai hampir tak pernah diperbincangkan. Bahkan banyak buku-buku sejarah tentang Manggarai menyamakan begitu saja wilayah kedaulatan suku ini dengan kerajaan Tanah Dena. Meski luput dari perhatian dan publikasi yang luas, ternyata hal itu tidak menenggelamkan begitu saja antusiasme orang Rongga dalam mengungkapkan jati diri, baik dari sisi sejarah, orisinalitas kebudayaan maupun kesenian, serta kedaulatan wilayahnya di masa lalu.

Sejauh ini penelitian tentang sejarah dan asal usul orang Rongga di wilayah Manggarai Timur, Flores, NTT baru menyentuh keunikan bahasanya. Suku yang mendiami wilayah Selatan Manggarai Timur ini, di samping unik dari sisi bahasa, ternyata memiliki sejarah peradaban yang cukup kaya. Wilayahnya tidak saja terbatas di Kisol dan Waelengga, tetapi meliputi sebagian dari luas kecamatan Kota Komba dan kecamatan Borong dengan batas-batasnya: Sebelah Timur berbatasan dengan Wae Mokel, bagian Barat berbatasan dengan Wae Musur (Sita). Di utara berbatasan dengan suku Mendang Riwu, Suku Manus, dan Suku Gunung. Sementara di selatan diapiti laut Sawu.

Sebelum kerajaan Todo mengadakan ekspansi besar-besaran ke wilayah Timur, daerah ini sudah dikuasai orang Rongga selama berabad-abad. Kedatangan suku Keo dari Selatan Barat Laut tidak serta mereta menggeser peran sentral orang Rongga di wilayah ini. Sekitar abad ke-12 dan 13 terjadi pergolakan besar di mana Suku Rongga dibawa pimpinan suku Motu Poso mengusir sejumlah orang Keo yang datang dan hendak menguasai wilayah ini. Pertempuran itu berhasil mengusir pulang orang Keo yang saat itu mendiami wilayah Kota Ndhora, Mboro (Borong), Waereca,  Tanah Rongga (Golo Mongkok). Akibatnya, sebagian orang Keo yang terdesak melarikan diri ke arah Barat, Melo, wilayah kecil yang berbatasan dengan dengan Iteng, Manggarai Tengah. Suku Keo yang mendiami wilayah Melo kemudian mengadakan kontak dengan suku Todo dan mengklaim wilayah Rongga sebagai daerah kekuasaannya sehingga dengan mudah pula Todo menamakan wilayah ini dengan nama Kerjaan Adak Tanah Dena. Dengan demikian di mata Todo, wilayah Rongga disamakan dengan wilayah Kerajaan adak Tanah Dena. Padahal de facto dan de jure  wilayah itu merupakan  bagian dari wilayah Rongga Ma’bha.

Ekspansi Todo sekitar abad 18 ke wilayah Timur untuk mengusir orang Keo barangkali tak akan berjalan lancar bila saja tidak didukung akumulasi kebencian orang Rongga pada suku Keo. Proses penaklukkan itu begitu mudah manakala strategi perkawinan, dipakai sebagai senjata penaklukkan. Dalam kisah lisan yang berkembang di Tanah Rongga, konon, mula-mula Todo memberi gadis bernama Dhari kepada Tuan Tanah yang menguasai wilayah Rongga Barat (Rongga Ma’bah). Setelah ikatan kekerabatan mulai terjalin akrab, Todo menyewa salah satu suku kecil di Rongga Ma’bha untuk mewujudkan rencana besarnya menaklukkan Komba, Rongga Timur atau yang lebih dikenal dengan sebutan Rongga Ruju. Strategi itu berjalan mulus.

Upaya Todo mengembangkan wilayahnya hingga Watu Jaji berjalan lancar karena mendapat sokongan dari suku Rongga, baik Rongga Mabha maupun Rongga Ruju, yang sudah memahami karakter dan topografi wilayah Ngada. Namun, dalam kisah penaklukkan Todo terhadap Ngada hingga Watu Jaji nyaris tak pernah diungkapkan peran dua pahlawan Rongga Nai Pati dan Jawa Tu’u. Dua sosok ini selain menjadi figur sentral di balik kemenangan Todo atas Ngada, juga berperan vital memperkuat pasukan Todo dalam ekspansi dan penaklukan Cibal.

Selanjutnya, dalam sejarah, upaya Todo menanamkan pengaruhnya di wilayah Manggarai dengan membentuk pemerintahan kedaluan yang kemudian berlanjut dengan UU NO. 5/ 1979 tentang Pemerintahan Desa membuat pemerintahan adat di wilayah Manggarai tergeser. Perubahan itu ternyata diikuti dengan proses penaklukan budaya. Tidak terkeculai wilayah Rongga. Akibatnya cukup banyak ikon budaya Rongga yang terancam punah, seperti pakaian adat dan rumh adat Rongga, menyusul aksen penyebutan nama beberapa tempat yang berubah,  seperti Mboro menjadi Borong, Tanah Rongga menjadi Golo Mongkok, dll. Hampir seratus tahun orang Rongga tak sadar kehilangan identitas budayanya.

Salah satu yang masih bertahan hingga saat ini adalah tarian Vera. Tarian ini adalah warisan yang tidak kita temukan dalam kebudayaan Manggarai maupun Flores umumnya. Gerakannya yang khas serta pertunjukkannya yang hanya berlangsung secara aksidental pada acara adat tertentu membuat generasi masa kini tidak banyak lagi yang bisa memeragakan tarian ini. Serbuan berbagai budaya populer juga membuat tradisi Vera kian memudar di kalangan generasi muda Rongga.

Kehilangan beberapa simbol budaya Rongga tentu juga dilatari kebijakan pemerintah daerah Manggarai selama beberapa dekade yang terkesan menyeragamkan begitu saja kearifan dan keunikan budaya lokal yang berada di wilayahnya ke dalam satu kesatuan budaya bernama Budaya Manggarai. Pengalaman sejarah ini bagi orang Rongga adalah suatu yang cukup pahit untuk dikenang. Apalagi saat itu, Gereja yang nota bene mendapat tanah gratis untuk mendirikan Seminari di Kisol tak memiliki perhatian apapun untuk perkembangan kebudayaan maupun pendidikan di kalangan orang Rongga.

Wajar, bila dalam peta masyarakat Manggarai, Rongga menjadi terbelakang bila dibandingkan dengan wilayah-wilayah lainnya dari sisi budaya dan pendidikan. Terpinggirnya kebudayaan Rongga menjadi kian parah karena ketiadaan kamu terdidik dari kalangan Rongga yang mencapai bangku pendidikan tinggi. Bayangkan saja pada tahun 70-an hanya ada satu orang Rongga yang berhasil menyandang gelar Sarjana. Tahun 80-an hanya berkisar sekitar lima hingga sepuluh orang sarjana. Perode 90-an hingga kini mulai bermunculan Sarjana-Sarjana orang Rongga.

Seiring dengan kebangkitan pendidikan di kalangan orang Rongga, ada sebuah kegelisahan yang terus mengusik sejumlah kaum terdidik Rongga untuk mengungkapkan identitas sejarah dan kebudayaannya. Kegelisahan itu mendorong saya secara pribadi untuk mengadakan penelitian kecil mengenai sejarah, budaya dan kesenian Rongga. Penelitian awal saya lebih mempertanyakan asal usul dan sejarah Rongga, selanjutnya perbedaan budaya dan kesenian yang ada antara orang Rongga dengan Manggarai maupun Ngada.

Banyak temuan yang cukup mencengangkan, di antaranya tentang peradaban Rongga yang tersisa sejak zaman batu, situs-situs peninggalan perang, maupun filsafatnya yang cukup kokoh sebagai pegangan hidup orang Rongga zaman dulu. Tentu, penelitian kecil ini memang jauh dari proyek dokumentasi budaya yang ideal karena tak akan ditemukan pemamparan mengenai temuan arkelogis karena fokusnya memang bukan untuk itu. Namun saya yakin proyek kecil ini akan menjadi pembuka dialog sekaligus pancingan bagi Atropog untuk menelusuri jejak kebudayan Rongga. Untuk melengkapi bahan peneleitian ini, saya juga menggunakan literatur, seperti Nusa Nipah, Sareng Orinbao (Piet Pettu), Manggarai Mencari Era Pencerahan Historiografi karya Almarhum Daminus Dandu Toda sebagai referensi. Semoga apa yang sudah dimulai bisa membuahkan hasil yang menggembirakan.

SUKU MOTU POSO DALAM LINTASAN SEJARAH

Januari 9, 2010

Asal Usul Suku Motu Poso

Suku yang memiliki peran vital dan berpengaruh dalam sejarah Rongga adalah Suku Motu Poso. Kisah tentang suku ini barangkali akan terpendam begitu saja bila tidak ada upaya untuk mewarisinya dalam bentuk tulisan. Berikut ini, adalah penggalan sejarah dan sepak terjangnya dalam kancah sejarah suku Rongga, Manggarai Timur.

Suku Motu Poso, selain dikenal sebagai pemangku jabatan tuan tanah di wilayah Rongga Ma’bah, juga berperan besar dalam upaya menegakkan kedaulatan wilayah Rongga tempoe doeleo. Nenek Moyang suku ini, menurut cerita lisan yang berkembang, konon, berasal dari Wilayah Sumatera Barat ( Minangkabau). Gejolak sosial yang terjadi di wilayah Minangkabau sekitar abad ke (?) memaksa sebagian masyarakat melarikan diri ke sejumlah wilayah di Indonesia. Salah satu tempat tujuan pengungsian mereka adalah sepanjang pesisir Laut Sawu, Flores, termasuk Loko Ture, wilayah Pantai Selatan Manggarai Timur, sekitar 15 km dari Kisol.

Dalam tradisi lisan dikisahkan bahwa nenek moyang Suku Motu Poso adalah Weka dan Ture. Dua bersaudara ini masuk ke tanah Rongga dalam kurun waktu yang berbeda. Dari negeri asalnya Minangkabau, Weka melarikan karena menolak menikah dengan gadis pinangan orangtuanya (puteri sang Paman). Weka bersama gadis pilihannya bernama Motu akhirnya memutuskan untuk meninggalkan tanah Minangkabau menuju Loko Ture. Dari Miangkabau Weka berlayar melewati Pantai Selatan Jawa dan kemudian memilih mendarat di Loko Ture, Manggarai Timur Selatan.

Kepergian Weka kemudian diikuti Ture, sang adik.  Kisah perjalanan Ture meninggalkan daerah Minangkabau menuju Loko Ture berlangsung dalam suasana penuh dramatis.  Gelombang dan badai memaksa Sampan (Kowa ) yang ditumpangi Ture mengalami kebocoran di Laut Selatan Jawa.  Beruntung Ture diselamatkan oleh para nelayan dari pesisir pantai selatan Jawa.  Namun upaya pertolongan yang dilakukan pelaut Jawa itu rupanya membawa petaka bagi Ture. Ia ditawan hanya karena salah mengucapkan sebuah kata (puki) yang membuat para pelaut Jawa tersinggung.

Impian Ture untuk menyusul kakaknya Weka  hampir saja kandas di tangan pelaut Jawa. Namun pada suatu malam dalam mimpinya, Ture mendapat pentunjuk untuk menyusuri jejak sang kakak. Dalam mimpinya Ture bertemu dengan ikan paus raksasa yang kemudian menjadi Dewa Penyelamat dan penunjuk jalan baginya menuju tempat di mana sang kakak berada. Ture diminta untuk menunggang ikan Lumba-lumba (ngembu) menuju tempat kediaman sang kakak dengan bekal tujuh buah ketupat, tujuh ruas bambu berisi air dan tujuh duri Jeruk asam.  Tujuh duri jeruk asam bertujuan untuk menjaga komunikasi antara Ture dan Ikan Lumba-lumba. Bila selama perjalanan Ture merasa gerah, ia boleh memberi isyarat dengan menusukan duri jeruk asam pada punggung sang ikan untuk menenggelamkan diri dari permukaan laut. Demikian juga bila ia sudah merasa dingin,ia bisa menusuk kembali duri jeruk asam agar sang ikan mengangkat punggungnya ke atas permukaan air.

Berbekalkan tujuh buah ketupat, tujuh ruas bambu berisi air dan tujuh duri jeruk asam Ture mampu menyeberangi gelombang dahsyat Laut Selatan Jawa menuju Laut Sawu hanya dalam waktu tujuh hari tujuh malam dan mendarat  di Loko Ture, tempat yang semula menjadi tujuan kedatangan kakaknya Weka. Dalam perpisahannya dengan ikan Paus Ture mendapat hadiah dalam bentuk sebuah pedang istimewa yang dimuntahkan dari mulut sang ikan sebagai bekal untuk melawan musuh dan mencari nafkah.

Selama sekian lama ia menetap dan mencari nafkah di Loko Ture serta menjalin interaksi dengan manusia Proto Rongga yang bermukim di sekitar wilayah pantai selatan. Perjumpaannya dengan manusia Rongga memuluskan jalannya untuk menemukan jejak atau keberadaan Weka,  sang kakak.

Saat itu Weka yang sudah menetap di Sari Kondo. Rumors kencang, yang menceritakan kedatangan adiknya mendorong Weka untuk mendatangi sang adik. Semula Weka masih menaruh curiga akan keberadaan sosok adiknya itu. Dalam hatinya Weka berpikir, “ Jangan-jangan sosok pemuda yang berada di depan matanya adalah penyamar yang bisa berubah menjadi ancaman serius bagi keselamatan jiwanya”. Weka kemudian melakukan investigasi terhadap Ture hingga pada akhirnya ia benar-benar yakin setelah Ture menceritakan tentang keberdadaan sanak saudara mereka di Minangkabau serta sejumlah kisah kebersamaan mereka selama di negeri asal.

Setelah Weka cukup yakin dengan sosok yang berada di depan matanya adalah adik kandungnya sendiri, maka terjadilah sebuah adegan dramatis yang mengharukan. Kakak beradik itu berpelukan disertai isak tangis.  Pesisir pantai Loko Ture pun menjadi saksi sejarah. Kisah perantauan dua bersaudara itu terpatri dalam sebuah syair Vera (tarian khas orang Rongga)

Weka Ture ndhili mai/tu monggo Sari Kondo
Weka welu Jawa Ture / Ti Motu tanah Medzhe

Kisah yang berkembang secara turun temurun itu dikukuhkan dalam upacara/ ritus adat seperti Pau Manu, Pau Wawi, dan Pau Kamba. Dalam acara-acara itu, nama Ture dan Weka selalu disebut turunan Suku Motu sebagai nama pertama mendahului nama nenek moyang lainnya.

SUKU MOTU PASCA WEKA & TURE

Weka dan Ture setelah mendarat di Loko Ture menetap bersama di Sari Kondo. Karena hidup masih mengandalkan hasil hutan, mereka akhirnya berpindah dari satu tempat ke tempat lain, seperti Nunu Wula, Wolo Poso, Nua Nangge (Loko Ture). Periode ini merupakan masa-masa bulan madu bagi kakak beradik itu. Keduanya pun mengembangkan keturunan di Tanah Rantau. Weka bersama Motu, gadis yang dibawanya dari Tanah Minang memiliki empat orang putera, sedangkan Ture yang menikah dengan gadis lokal dianugerahi tiga  orang putera. Dari Weka dan Ture inilah muncul nama suku/klan Motu. Nama tersebut diadopsi dari isteri Weka yang pada generasi awalnya masih lekat dengan kultur matrilineal Minangkabau.

Generasi awal turunan Weka dan Ture semula benar-benar  menjaga kekompakan. Semangat gotongroyong dan kekeluarga menjadi ciri kehidupan yang sangat menonjol. Setelah generasi Weka dan Ture Meninggal terjadilah perpecahan di antara mereka. Peristiwa perburuan kera di sekitar wilayah Wae Motu berbuntut perpecahan dua keluarga ini. Persoalannya sangat sepele, yakni hanya gara-gara tidak kebagian kuah daging kera. Drama perpecahan itu terlukis dalam patah/ syair vera di Nunu Wula:

Motu Woe Lima Z dhua/ Embu Mea Sunggisina
Motu Woe Lima Z dhua/ Embu Mea Amewea
Motu Woe Lima Zdhua/ Bheka Tange Wae Kode

Setelah periode itu, keturunan Weka dan Ture mulai terpisah. Keturunan Weka, dalam hal ini Sunggisina dan ketiga saudarnya lebih banyak berorinetasi mencari nafkah ke arah Timur hingga Aimere dan Were, Ngada di wilayah kabupaten Ngada (Untuk menyingkap penyebaran suku Motu ke wilayah Ngada dibutuhkan sebuah penelitian yang serius). Sementara keturunan Ture dslsm hsl ini Amewea dan dua saudarnya memilih mencari nafkah dan menetap di wilayah Barat, Wolo Ndeki.  Pepecahan kedua keluarga ini juga berpengaruh pada ikon-ikon yang dipakai sebagai simbol kebanggaan keluarga. Keduanya bersaing baik dalam kekayaan maupun kharisma. Persaingan itu tampak dalam pemilihan nama kuda kebanggaan dari masing-masing keluarga, seperti dalam syair Vera berikut:

Jara nga’zha Kolo Ndasi/ le’dha lo’dhe Sunggisina
Jara nga’zha Keka Motu/ le’dha lo’dhe Amewea

LAHIRNYA NAMA SUKU MOTU POSO

Perpercaahan keluarga Motu yang diwakili Sunggisina dan Amewea menyebabkan ikatan di antara suku Motu mulai renggang. Amewea dengan dua Saudaranya memulai pengembaraan baru di wilayah barat Rongga. Semula mereka masih menjaga kekompakan namun lama kelamaan mereka cenderung menyebar sendiri-sendiri. Amewea memiliki tiga orang putera, yakni ________, _________, dan______. Sampai dengan enam generasi setelah itu turunan Amewea masih memiliki satu rumah adat. Pada periode Meka Mangi terjadilah perpecahan di antara mereka. Penyebabnya karena ulah sang kakak yang menjual enam orang budak milik adiknya kepada orang Bima.  Perpecahan ini membuat Mangi dan keturunannya membuat rumah adat baru. Karena pada saat perpecahan mereka mendiami wilayah Poso maka mereka kemudian menamakan diri Suku Motu Poso. Pengukuhan identitas baru dengan atribusi Poso menjadi ciri  istimewa suku ini yang membedakannya dengan suku-suku Motu lainnya yang berada di wilayah Rongga.

Dalam perjalanan di wilayah Rongga Ma’bha, dominasi suku Mangi dan keturunannya dalam hal ini suku Motu Poso cukup terasa di wilayah ini. Suku ini kemudian memainkan peranan utama di wilayah Rongga Ma’bha.  Selain dihormati karena dianggap sebagai suku terkemuka karena memiliki harta dan pengaruh yang besar, suku ini berperan vital  dalam menjaga kedaulatan wilayah Rongga Ma’bha.

Pada abad  (12 & 13 ?) Suku Keo dari Wilayah Nagekeo (Keo Selatan Barat Daya) datang dan bermukim  di wilayah ini. Kedatangan suku ini semula dianggap sebagai sahabat. Namun setelah jumlah mereka makin banyak, suku dari wilayah Nage Keo ini mulai menentang adat istiadat yang berlaku di wilayah Rongga. Konflik sosial pun pecah karena orang Rongga yang merasa sebagai tuan tanah tidak dihargai. Dibawa pimpinaan Meka Kumi dan Meka Nggere dari suku Motu Poso terjadilah peperangan dahsyat di tanah Rongga.

Sejumlah orang Keo terbunuh dan sisanya melarikan diri ke wilayah asalnya. Salah seorang Pimpinan pasukan Keo bernama Laki Tara tewas terbunuh di  Wolo Redi, di wilayah sekitar Pandu, Lembur sekarang. Hingga hari ini gunung yang tujuh tahun lalu (2002) gundul untuk kepentingan lahan pertanian itu, dikenal dengan sebutan Wolo Tara sebab di situlah pimpinan pasukan Keo dikuburkan.

Hingga hari ini bukti kekalahan orang Keo di Tanah Rongga tampak dalam sejumlah pekuburan di daerah Borong dan sekitarnya, seperti di Kampung Golo ( Wae Reca), Golo Karot, Kota Ndhora, Lesa Kuku sebelah atas Lia Mbala dan sejumlah tempat lainnya. Pekuburan itu ditandai dengan batu  bersegi yang ditancapkan membentuk sudut 90 derajat.

Sebagai bentuk ucapan terima kasih atas keberhasilan suku Rongga mengalahkan Keo, Suku Suka yang saat itu menjadi pemegang hak ulayat di  wilayah pantai selatan hingga Wae Musur menghibahkan sebagian wilayah ulayatnya untuk suku Motu Poso dengan batas-batasnya sebagai berikut:

Bagian Timur :

Toko Ika – Tanah Bara – Muku Lia – Tiwu Toro – Woa Kowe – Alo Ila –Watu Sila –Wolo Maghi – Loa Keti/ Mbaru Jawa – Ndheru Wowo ( wolo Sika) – Moko Loko – Kora – Ngamba Sapi – Bheto Londo ( sekolah baru Leke) – Kolu Kawe/i – Wae Ku

Bagian Utara

Wae Ku – Watu Nepa/ Wae Sele – Koka – Leni – Wolo Tara – Mbela Turi – Wae Namba – Wae Sati, Sambi  Nggoko – Peot – Mondo – Watu Mori

Batas Barat

Watu Mori ( Paka- Sita) – Wae Musur- sampai Pantai Selatan

Batas-Batas  Wilayah Motu Poso dengan wilayah Ulayat lainnya:

Toko Ika – Kora,  berbatasan dengan wilayah ulayat Suku /Tanah Tanda. Penguasa Ulayat  Pius Ndoi

Kora  – Wae Ku berbatasan dengan wilayah ulayat Suku Woko Pau, Penguasa ulayatnya Deus Melang

Wae Ku – Bela Turi berbatasan dengan wilayah ulayat suku Weru, Penguasa Ulayat  Pettu Jangga

Bela Turi –Sambi Nggoko, berbatasan dengan wilayah ulayat suku suka Ndare, penguasa ulayat Yoseph Sole

Sambi Nggoko – Peot – Mondo, berbatasan dengan wilayah ulayat suku Mendang Riwu,……

Mondo -Wae Laku – Wae Musur berbatasan dengan wilayah ulayat suku Kempos Sita, pemegang hak ulayatnya  Ande Cendol

Wae Musur- muara hingga Pantai Selatan berbatasan dengan wilayah ulayat Suku Torok Golo, pemegang hak ulayatnya Cuwik dan Uwik.

Sebagai tanda bahwa orang Rongga pada masa itu benar-benar menguasai wilayah itu, hingga kini ada sejumlah tempat di wilayah Borong hingga Wae Musur yang dinamai dengan nama-nama Rongga. Namun karena pengaruh suku Mangarai sejumlah tempat mengalami pergantian aksen, seperti berikut ini:1) Sepi Watu > Cepi Watu 2)Toka > Toka, 3) Jawa> Jawang 4)Tanah Rongga > Golo Mongkok, 5) Wae Resa>Wae Reca,  6) Wae Bobo>          Wae Bobo ,  7)Mboro >Borong,  8) Watu Ipu>Watu Ipu,  9) Wolo Kolo>        Wolo Kolo,  10) Tanggo>Tanggo,  11) Weja Kalo>Wejang Kalo, 12) Watu Nggo > Watunggong,  13) Leke> Lekeng, 14) Sambi Donga> Sambi Donga, 15  Mbo Ndei > Mbo Ndei (Rumah Mbupu (Ibu) Ndei)

Tak lama setelah mengalami kontak dengan suku Sumba di wilayah Tanggo dan Borong Suku Motu Poso memberikan mandat kepada suku yang diangkat sebagai ana fai itu untuk menjaga tanah ulayat di wilayah barat hingga Wae Musur.

Rongga memang bak tanah terjanji yang menjadi incaran semua suku di Flores Tengah saat itu.  Setelah Keo berhasil diusir pada sekitar abad 17, Kerajaan Todo dalam upaya ekspansi wilayahnya datang dan bermukim di wilayah itu. Sama seperti kedatangan orang Keo pertama kalinya, Todo pun datang ingin menguasai Tanah Rongga. Kedatangan mereka di bagian barat Rongga berlangsung secara damai melalui  ikatan perkawinan. Mereka menghadiahkan seorang gadis bernama Ndhari kepada Pua dari Suku Motu Poso.

Perkawinan itu rupanya menyimpan strategi terselubung, yakni melakukan ekspansi ke wilayah Rongga Ruju (Komba). Saat itu wilayah ini menjadi satu-satunya wilayah yang sulit dilewati karena kekuatan pasukan perangnya. Selama puluhan tahun Todo terlibat peperangan melawan Komba, namun hasilnya sia-sia. Sepanjang musim mereka terpaksa menggarap tanah di sekitar Loko Ture dalam rangka mengawasi pergerakan orang Komba. Namun Komba bak batu karang yang susah ditaklukkan. Singkatnya jika Todo ingin menaklukkan Komba mereka harus berhasil melewati sebuah lorong terjal di sekitar wilayah Tandu Nunu yang menjadi pintu utama menuju benteng Komba.

Pada masa-masa menjelang kehancuran Komba, hubungan antara Todo dan Rongga Mabha sudah terjalin erat berkat perkawinan Pua dan Ndari. Todo akhirnya berhasil membujuk beberapa orang Rongga Mabha untuk mencari tau cara mengalahkan Komba. Hubungan kekerabatan yang sudah terjalin erat memuluskan Todo memperoleh informasi vital dari pihak Rongga Mabha tentang lorong misterius menuju benteng Komba.

Setelah mengetahui jalan menuju benteng Komba, Todo mulai melakukan penyerangan terhadap Komba. Perang yang disebut Bheka Komba II itu melibatkan sejumlah kaum perempuan Komba. Setelah hampir semua lelaki Komba terbunuh, pihak perempuan tak mau ketinggalan. Mereka melakukan strategi ala Perang Puputan untuk mengalahkan Todo. Ratusan orang Todo tewas di tepi jurang Wolo Komba. Namun, Komba sudah hancur nyaris tak bersisa dan menderita kekalahan total. Para pejuang Todo pergi membawa pulang sejumlah gadis cantik dari Komba ke Todo untuk dijadikan isteri.  Sampai sekarang antara Todo dan Komba terjalin hubungan kekerabatan selaku ana haki dan ana fai. Komba sebagai pemberi gadis bertindak sebagai ana haki, sementara Todo sebagai anak fai (penerima gadis).

Setelah menjadikan Rongga secara keseluruhan sebagai mitranya, Todo melakukan ekspansi hingga wilayah Watu Jaji, Ngada. Selanjutnya dalam upaya menancapkan kekuasaannya  di Manggarai dengan bantuan pahlawan Rongga, Jawa Tuu dan Nai Dewa, Todo menaklukkan Cibal. Dari sejarah penaklukan dan perkawinan itu kekuasaan dan pengaruh Todo di Manggarai berjalan hingga akhir masa orde baru berbakat strategi perkawinan.

HUBUNGAN SUKU MOTU POSO & TODO

Hubungan kekerabatan antara suku Motu Poso dan Todo berlangsung  mesra hingga akhir tahun 1966. Todo selaku pemberi gadis bertindak sebagai (ana haki) sementara Motu Poso  sebagai penerima gadis (ana wai).

Perkawinan Pua dengan gadis Todo bernama Ndhari melahirkan Ndhesa dan Taso.  Ndesa dan Taso kemudian memilih menetap di wilayah Kenda dan Kembo. Pembukaan Lodo Kenda dan Kembo itu  ditandai dengan Vera selama sembilan hari sembilan malam. Hingga kini cakupan wilayah Lodo Kenda dan Kembo itu masih tergambar jelas dalam sebuah ungkapan (pata’) Vera:

DAPU LAU SA’DHA DHA’DHA
SORO MA’E NGGUTI  NGGUMI
KEMBO NE KENDA
MENDU DHEU MEDHE NDE

Hasil panen dari Lodo Kenda ini sangat berlimpah. Pare Dhupa (bulir padi yang terbungkus daun) menjadi simbol kesuburan wilayah ini. Dalam kebiasaan orang Rongga jika hasil panennya melimpah seperti itu, maka sang pemilik mesti mengadakan upacara syukuran dalam bentuk Vera. Weka dan Taso mengadakan Vera selama sembilan malam. Salah satu ungkapan (pa’ta) Vera yang masih dikenal di kalangan suku Motu Poso hingga sekarang adalah:

NGGO’TI UMA KEM’BO NGGO’TI TEM’BU
DHE’A DHA’LE KENDA DHE’A MEMA
LA,I KERI KENDA LA,I LEWA
NGHUM’BU SA’O TASO NGHUM’BU RAO

Setelah masa keemasan dalam arti kesuburan Kenda dan Kembo mulai menurun, turunan Meka Ndhesa, yakni Meka Kako pindah ke Rone. Kako memperanakkan Lajo, Monggo dan seorang perempuan bernama  Nau. Nau kemudian menikah dengan Weka dari Suku Kelok Waerana. Anak pertama Nau adalah Epa. Dalam budaya Rongga, setiap anak lelaki pertama dari pihak perempuan harus kembali ke suku asal ibunya. Epa yang ayahnya berasal daru suku Kelok mesti kembali ke pihak anak haki (Suku Motu Poso). Saat itu Epa diasuh oleh paman tertuanya Ladjo dan kemudian menikah dengan Meo Timu, anak semata wayang  Monggo, Paman bungsunya. Perkawainan Epa dan Meo Timu melahirkan Golo. Golo menikah dengan Nau melahirkan Kanis Jaik. Kanis Jaik kemudian menikah dengan Maria Baghong melahirkan Piet Sambut, Adol, Agus dan Natus.

Setelah Meo Timu meninggal Epa menikah lagi dengan Kasih. Perkawinan mereka melahirkan Simon Sarong, Ondi, Elu dan Jalo. Setelah Kasih meninggal, Epa menyunting gadis remaja bernama Meo dari suku Sedhza. Perkawinan ketiganya ini melahirkan Salesius Sende, Au, Jaja, Edel, Indah, Inggo, Lalu, Kaja.

Hingga masa Epa hubungan kekerabatan antara Todo dan Rongga masih terjalin akrab. Hubungan kekerabatan Todo dan Motu Poso ini kemudian dilanjutkan oleh Mbadu (Suku Motu Pumbu) setelah mendapat restu dan jaminan Epa.

Pada masa pihak kerajaan menanamkan pengaruh kerjaannya dengan membentuk pemerintahan kedaluan, melalui dalu Japi dari suku Tanda, Todo memberikan mandatnya pada Epa (yang seharusnya memiliki hak atas jabatan itu karena memangku jabatan Tuan Tanah). Namun Epa menolak tawaran itu, lantas menyerahkan jabatan itu pada Mbadu. Selanjutnya untuk memperkuat hubungan kekerabatan dengan Todo putera Mbadu, Yoseph Pandong menikah dengan Maria Ndudek. Setelah kematian (Fransiskus Xaverius) Epa tahun 1966 hubungan kekerabatan dengan Todo mulai renggang apalagi pemerintahan kerajaan (Dalu) sudah ia serahkan Ke Mbadu yang diperkuat pada periode kepemimpinan puteranya Yoseph Pandong. Kehilangan Epa praktisnya pengaruh suku ini terpangkas akibat sistem pemerintahan Kedaluan yang diperkuat dengan UU tentang pemerintahan Desa yang memaksa pemerintahan adat terdesak dan kehilangan pengaruh.

Kini di bawa panji reformasi, kendati ada indikasi post power syndrome dari kalangan tertentu,  Suku Motu Poso, mulai menegakkan kembali eksistensi dan pengaruhnya atas tanah Rongga Ma’bha sebagai pemegang hak ulayat.

D. SUKU MOTU POSO PASCA EPA

Pemerintah kedaluan dan UU pemerintahan Desa nO. 5/ 1979 telah membuat sistem pemerintahan adat kian terdesak.  Akibat pemerintahan kedaluan banyak kerugian yang dialami suku Motu Poso.

Pertama) Epa, dalam seja kala hidupnya, kehilangan ratusan ekor sapi dari padang penggembalaannya di Padang Wolo Sike dan Poma Mese akibat kebijakan Dalu Yoseph Pandong yang membuka perkampungan baru. Ratusan ekor sapi milik Epa dan putera tertuanya Simon Sarong mengungsi ke wilayah Nangarawa dan Mbo Ndei.Menurut beberapa saksi hidup, sebagian hewan tersebut sengaja dialihkan kedua wilayah tersebut oleh pihak pemerintah dan Gereja saat itu. Kesaksian beberapa orang saksi (off the record) cukup masuk akal sebab pihak penguasa dan pihak Gereja (Seminari) yang saat itu baru merintis peternakan,  memiliki kawanan ternak sapi ratusan ekor hanya dalam waktu dua tahun. Pertanyaan, dari mana asal sapi tersebut? Bukankah satu-satunya pemilik ternak sapi dalam jumlah paling besar adalah Epa? Sayang putera-putera Epa enggan membicarakan prihal ini ke permukaan hingga saat ini.

Kedua) Pengambilalihan hak atasi Tanah.  Pasca Epa akibat sistem pemerintahan kedaluan dan pemerintahan desa hal untuk membagi tanah-tanah kosong diambilalih. Hal yang sama juga berlaku dalam penyerahan tanah pada Seminari Kisol yang bersifat manipulatif pasca penyerahan pertama pada tahun 1952. (akan diuraikan secara lengkap)

ketiga) Pelanggaran janji dan kesepakatan yang dilakukan pihak Seminari Kisol. Tahun 1989 secara sepihak dengan dukungan Dalu seminari Kisol melakukan agraria tanah di luar penyerahan Tuan Tanah. di Kisol Kasus ini diikuti dengan protes pihak tuan tanah. Puncak perselisihan dengan Seminari terjadi tahun 2000. Tuan tanah meminta Seminari merealisasikan janjinya pada tuan tanah dan menuntut pengembalian Tanah baik di wilayah Kisol maupun ladang gembala Mbo Ndei yang dipakai sebagai lahan penggembalaan Seminari pada tahun 1966.

E. WILAYAH PEMUKIMAN & LAHAN GARAPAN SUKU MOTU POSO SEJAK MASA WEKA-TURE HINGGA EPA

Masa Ture dan Weka

SARI KONDO  – NUNU WULA – WOLO POSO -NUA NANGGE / LOKOTURE )

Masa Mangi dan Lando hingga generasi Wawi dan Manu meliputi wilayah-wilayah sebagai berikut:

Nua Nangge, ghe’bho, Rambu, Kere Angi dan Rone.

Masa KUMI- PEMBA – FUA, wilayah garapan di NUA KOTA,  NUA NGETHA, BENTENG MUNDE

Masa ini merupakan masa-masa perang hingga pada waktu itu dibangun Benteng  NUA KOTA, BENTENG MUNDE,  BENTENG EMBU NGIU, BENTENG KOPO NGGERE. Pada masa itu Meka Kumi dan Nggere serta Kio menjadi pahlawan yang paling berpengaruh. Kumi dikenal dengan jargonnya( pasi) Kumi Keto Tolo Tenda, sementara NGGERE saudara sepupunya dikenal dengan pasinya Nggere Lalo Ndeki. Sedangkan Kio dengan jargon ( pasi) Kio karo munde.

Generasi Ndesa dan Taso masih menggarap di wilayah ini dengan MEMBUKA LODO KENDA  & KEMBO

Generasi Kako, Lajo dan Epa kemudian kembali lagi ke Rone.

Epa hingga anak-anak dan cucunya kemudian menetap di Watunggong (Watu Nggo).

E. HUBUNGAN KEKERABATAN SUKU MOTU POSO ENGAN SUKU-SUKU LAIN:

Pada masa nenek moyang perkawinan dilakukan antara dua anak saudra sekandung. Hal itu bisa terlihat pada perkawinan antara Ndeki dan Manu. Pada masa itu dikenal dengan ungkapan sio ne tai ae nggoli mae ndehu. Untuk memperkuat suku, anak perempuan yang menikah dengan laki-laki dari suku lain, diwajibkan menyerahkan putera sulung lelakinya kepada suku asalnya. Hal ini terjadi pada anak Sulung Nau dan isteri Weka dari Suku Kelok yang mengembaliklan Epa kepada Suku asalnya.

Namun ada juga yang kawin dengan suku-suku luar yang turut memperkuat kekerabatan dengan suku lain dalam hubungan ana fai dan ana haki, seperti:

1. Suku Sui sebagai ana haki dari Suku Motu Poso. Karena hubungan perkawinan pada masa nenek moyang Suku Motu Poso menghibahkan sebagian tanah untuk suku ini di  Suku Kiu, yang kemudian dijadikan sebagai kawasan gembala (wota) oleh suku ini. Tempat ini disebut Wota Adzhe Kua.  Pada generasi nenek moyang apabila suku-suku berburu dan tidak mendapatkan buruannya, mereka akan singgah di tempat ini untuk potong kerbau.

2. Suku Sawu ana haki dari Suku Motu Poso. Karena hubungan perkawinan Suku Motu Poso memeberikan sebidang tanah di Tere Angi ( bagian atas Kenda)

3.    Suku sedzha sebagai ana haki dari Suku Motu Poso.

4.   Suku Motu sebagai ana Haki dari Suku Motu Poso.

F. REKOMENDASI UNTUK PEMERINTAHAN DAERAH KABUPATEN MANGGARAI TIMUR

……..AKAN DILANJUTKAN……

Tulisan ini dirangkum dari WWC dan kesaksisan penulis sejak masa kecil hingga berusia tigapuluh tahun. Untuk kelengkapan materi tulisan beberapa data-data baru akan dimasukan di masa datang.


Januari 5, 2010

Bung, kapan nulis eulogi lagi?

Sebuah pesan dinding di facebook dari rekan kerja lama cukup mengejutkanku. Sudah satu tahun lebih Mas Yuga tak pernah menghubungiku. Tumben bunaget… mengapa baru kali ini ia menulis di wall FB ku??? Dalam hati saya berharap bakal ada tawaran lagi untuk SJ sebagai penulis di Insert Investigasi, tetapi godaan untuk berpikir ke arah sana sirna begitu saja manakala saya menatap kalender di kamar kosku. Iya… persis di penghujung November, tepatnya 26 November 2005, kami memulai sebuah proyek titipan dari TransTV menggarap tayangan baru infotainment bernama Insert Investigasi. Saat itu saya harus pindah kerja dan bergabung bersama Mas Yuga Aden sebagai penulis naskah di PT Shandika Widya Cinema.

Awalnya saya ragu pada kemampuan tim menggarap sebuah tayangan investigasi, karena selain tidak banyak pengalaman juga jumlah reporter yang terbatas (4 orang) . Tetapi berbekalkan sedikit pengalaman selama menulis naskah Silet, saya dan tim berusaha menundukkan tantangan itu di bawa slogan Be the winning Team! Tulisan pada dinding FB ku barangkali adalah penyampain secara tidak langsung dari mantan rekan kerja bahwa Insert Investigasi sudah berusia empat tahun lho… jadi terima kasih telah menjadi bagian dari The Winning Team

Insert Investigasi kini telah menjadi kenangan untukku. Kenangan akan sebuah perjuangan bagaimana membangun sesuatu yang besar dari keterbatasan.  Pada episode perdana, kami mengawali tayangan dengan pemberitaan Tragedi Berdarah Magelang atas nama keluarga Suzana (almarhum). Menariknya materi tayangan ini sudah menjadi keranjang sampah, tetapi karena kasusnya menarik dan memiliki pesan untuk khalayak tema ini dipilih sebagai pembuka perkenalan. Selanjutnya rumors pernikahan siri Ulfa Dwi Yanthi, menyusul fenomena plastic surgery atau operasi plastik, kntorversi dangdut klasik versus dangdung modern, pernikahan siri cut Memey-Jackson Peranginangin menyusul kemelut, keretakan dan perceraian selebritis. Hanya dalam usia dua minggu, tayangan ini sudah menyamai Seputar Indonesia RCTI dan Liputan 6 SCTV dalam perolehan share dan rating. Sebuah kebanggaan yang luar biasa untukku karena saya turut berperan menjadikan tayangan ini sebagai tayangan yang cukp bergengsi…

Prestasi tersebut, menurutku, tidak terlepas dari berbagai faktor. Pertama) Pemilihan tema tepat, kedua) momentum yang tepat, ketiga) Penaskahan yang cenderung berbeda dengan infotainment lainnya.  Berkat dua hal itu  bayi ajaib ini tumbuh dan bersaing dengan tayangan-tayangan sejenis bahkan news dua televisi bergengsi. Di antara momentum itu adalah:  Kematian almarhumah Veronika, isteri Rhoma Irama, kontroversi dangdut klasik versus dangdut modern, kasus Narkoba Roy Marten, Kontroversi majalah Playboy, menyusul pernikahan siri Mayangsari-Bambang Trihatmodjo.

Kasus pernikahan siri Mayangsari-Bambang adalah tema yang menjelma menjadi nilai jual Insert Investigasi selama semester pertama 2006. Berikutnya kisah cinta dan beberapa varian pemberitaan lainnya. Tema-tema tersebut diangkat dengan perspektif yang sedikit berbeda serta bumbu sensasional yang memancing rasa ingin tahu pemirsa.Pola penaskahan yang cenderung nyeleneh, provokatif, genit bahkan seronok menjadi senjata untuk menyedot perhatian khalayak. Paduan gaya penulisan Yuga Aden dan saya melebur menjadi sebuah tontonan yang membuat khalayak terpikat dan pada akhirnya terlibat bersama dalam haru biru suguhan dramtisasi sebuah berita.

Gaya presenter dan setting panggung yang dekat dengan masyarakat kota serta karakter Voice Over Shinta Puspitasari yang menggaung kencang semakin melambungkan tayangan ini sebagai tontonan sebagai tontonan  dapat memberi kepuasan bagi para penggila gosip.

Hampir setahun setelah menghantar tayangan ini sebagai tayangan besar serta meletakkan fundasinya yang kokoh saya memilih berpisah dengan teman-teman. Namun, pengalaman kebersamaan itu sulit terlupakan! Setidaknya untuk jangka waktu tertentu kami telah memenuhi ambisi untuk menjadi The Winning Team.

Kini Insert Investigasi sudah berusia empat tahun dengan seribu lebih episode yang ditayangkan. Namun dalam perjalanannya, sebagai mantan penulis, saya tetap menaruh perhatian pada tayangan ini. Tahun 2008 semester pertama saya sempat come back sebagai penulis free lance. Selanjutnya karena kesibukan dan tuntutan cita-cita lain saya memilih ‘pensiun’ karena memilih bekerja pada bidang yang berbeda.

Bersamaan dengan tulisan di wall FB ku, saya memahami Mas Yuga, barangkali ada yang ia rindukan yakni sebuah reuni dan masukan. Masukan untuk memajukan tayangan ini.  Dalam keprihatian pada nasib infotainment yang berada dalam masa senja kalanya saya berusaha untuk memenuhi harapan Mas Yuga, pimpinan, rekan sekaligus sahabat yang begitu memahami arti kreativitas dan pengembangan diri seseorang. Akhirnya, saya mengucapkan proficiat untuk rekan-rekan dan Ad Multas Annos Insert investigasi… !


Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai